Wednesday, August 19, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Shuhei Yoshida: Industri Game Indie Makin Besar, Persaingan Juga Makin Ketat

Mistar.idRabu, 19 Agustus 2026 pukul 08.35 WIB
shuhei_yoshida_industri_game_indie_makin_besar_persaingan_juga_makin_ketat

Shuhei Yoshida, Mantan Presiden Sony Interactive Entertainment (kiri) dan Sean Lim, Managing Director Digital Braves. (foto:gamerwk/mistar)

news_banner

Disc Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya Sumber Data Game

Bagi Yoshida, hilangnya disc juga belum tentu menjadi masalah besar bagi sebagian besar pemain.

Pasalnya, game modern terus mendapatkan patch, DLC, dan pembaruan setelah dirilis. Bahkan ketika membeli versi fisik, pemain tetap sering kali harus mengunduh data tambahan.

“Bahkan dengan game versi disc fisik, dalam kebanyakan kasus developer terus melakukan update dan menambahkan data game,” jelasnya.

Karena itu, menurut Yoshida, keberadaan disc sebagai media penyimpanan utama sudah tidak sepenting masa lalu.

Ia juga menilai harga digital tidak harus mengikuti harga versi fisik.

“Harga digital bisa berapa saja. Publisher bisa menentukan harga apa pun yang mereka inginkan untuk game digital,” katanya.

Meski begitu, ia mengakui hilangnya game fisik akan berdampak bagi pasar game bekas. Pemilik game tidak lagi dapat menjual disc yang sudah mereka miliki, sementara konsumen juga kehilangan pilihan untuk membeli game bekas dengan harga lebih murah.

Sebagai gantinya, Yoshida melihat program diskon digital akan memainkan peran penting.

“Publisher selalu mengadakan promo dan diskon harga sepanjang tahun,” katanya, sambil menyinggung berbagai program sale di Steam, PlayStation, Xbox, dan Nintendo.

Dengan promo musiman seperti summer sale dan Christmas sale, pemain dapat membeli game dengan harga lebih rendah tanpa harus menunggu pasar game bekas.

Game Indie Dinilai Sedang Memimpin Industri

Meski persaingan semakin ketat, Yoshida melihat kondisi industri game indie saat ini secara positif.

“Ada begitu banyak game indie bagus yang dirilis. Kalau melihat industri secara keseluruhan, saya rasa game indie sedang berada dalam kondisi yang sangat bagus,” katanya.

Menurutnya, game indie semakin sering mendominasi nominasi penghargaan di berbagai ajang besar, termasuk D.I.C.E. Summit, BAFTA, dan The Game Awards.

Di sisi lain, game AAA menghadapi tantangan berupa biaya produksi yang semakin tinggi. Kondisi tersebut membuat publisher dan studio besar cenderung memilih formula yang lebih aman.

“Jumlah game AAA mungkin menurun karena setiap game membutuhkan biaya yang sangat besar untuk dibuat,” jelas Yoshida.

Kondisi tersebut justru menciptakan ruang bagi developer indie untuk bereksperimen dengan ide dan genre yang lebih beragam.

“Kurangnya variasi dalam game AAA sekarang diisi oleh developer indie yang mengerjakan berbagai macam game berbeda dan bereksperimen dengan ide-ide baru,” katanya.

Ia bahkan merangkum kondisi tersebut dengan pernyataan yang cukup tegas:

“Dalam pandangan saya, komunitas game indie sekarang memimpin industri secara keseluruhan.”

Namun, sekali lagi, Yoshida mengingatkan bahwa posisi tersebut tidak berarti jalan bagi developer indie menjadi lebih mudah. Banyaknya kreator dan game baru membuat perebutan perhatian pemain semakin sengit.

Event Indie Asia Semakin Berkembang

Dalam wawancara di BIC 2026, Yoshida juga membahas perkembangan ekosistem event game indie di Asia.

Di Jepang, ia menyebut BitSummit sebagai salah satu event indie paling penting.

“BitSummit adalah rajanya event indie. Itu yang terbaik, dan setiap tahun event-nya semakin besar dan semakin bagus,” katanya.

Selain BitSummit, Yoshida menyoroti Tokyo Indie Game Summit dan Osaka Indie Game Summit sebagai event yang semakin menarik perhatian.

Ia juga memberikan perhatian khusus kepada Tokyo Game Dungeon. Berbeda dari sejumlah pameran yang menggunakan proses seleksi, event tersebut menerapkan sistem first-come, first-served sehingga developer dari berbagai tingkat pengalaman, termasuk mahasiswa, dapat ikut serta.

“Tokyo Game Dungeon tidak menyeleksi game. Sistemnya first-come, first-served, jadi developer mana pun, developer baru, atau bahkan mahasiswa bisa mendaftar,” jelasnya.

Popularitas event tersebut bahkan membuat pendaftaran dapat ditutup hanya dalam waktu sekitar satu jam.

Menurut Yoshida, salah satu daya tarik Tokyo Game Dungeon adalah keberagaman game yang ditampilkan.

“Tokyo Game Dungeon benar-benar seru. Ada game yang sangat profesional dan berkualitas tinggi, tapi ada juga game buatan mahasiswa. Kalian bisa menemukan berbagai macam game di satu tempat,” ujarnya.

Event tersebut kini juga berkembang ke Osaka melalui Osaka Game Dungeon yang digelar dua kali dalam setahun.

Yoshida turut menyebut Dejige Haku di Akihabara serta event-event indie yang mulai bermunculan di Nagoya, Sapporo, dan Fukuoka.

Jepang, Korea, China, dan Taiwan Makin Aktif

Perkembangan ekosistem indie tidak hanya terjadi di Jepang.

Yoshida juga memuji Busan Indie Connect Festival di Korea Selatan serta sejumlah event besar lainnya di Asia.

“Tentu saja, di Korea, Busan Indie Connect Festival (BIC) semakin bagus setiap tahunnya. Taipei Game Show dan G-EIGHT di Taiwan juga sangat bagus. Dan WePlay di Shanghai juga sangat bagus,” katanya.

Menurutnya, berbagai event tersebut terus tumbuh baik dari sisi skala maupun kualitas.

Ia melihat peningkatan jumlah developer indie dari Jepang, Korea, China, dan Taiwan sebagai salah satu perkembangan paling menarik dalam industri game Asia.

“Jumlah game indie yang datang dari Jepang, Korea, China, dan Taiwan terus meningkat, dan kualitasnya juga semakin bagus,” kata Yoshida.

Masa Depan Indie Menjanjikan, tetapi Tidak Mudah

Pandangan Yoshida terhadap masa depan industri game pada akhirnya memiliki dua sisi.

Di satu sisi, teknologi digital, engine game, dan AI membuat lebih banyak orang dapat mewujudkan ide mereka menjadi sebuah game. Kondisi ini berpotensi melahirkan lebih banyak karya unik dari berbagai penjuru dunia.

Di sisi lain, semakin rendahnya hambatan untuk masuk ke industri juga berarti jumlah game akan terus bertambah. Developer harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan perhatian pemain dan menghasilkan keuntungan.

Bagi Yoshida, kontradiksi tersebut justru membuat industri game semakin menarik untuk diikuti.

Sebagai seorang yang kini berada di sisi indie setelah puluhan tahun bekerja di PlayStation, ia dapat melihat perubahan tersebut dari dua perspektif: sebagai penggemar yang menantikan lahirnya game-game baru dan sebagai advisor yang memahami betapa sulitnya developer memenangkan persaingan.

Dengan pertumbuhan komunitas indie di Asia serta semakin banyaknya event yang mempertemukan developer dan pemain, Yoshida melihat kawasan tersebut memiliki masa depan yang sangat menarik.

“Jadi, benar-benar sangat seru mengunjungi berbagai event yang berfokus pada game indie di seluruh Asia.”

(gamerwk/*/hm27)

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN