Wednesday, August 19, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Shuhei Yoshida: Industri Game Indie Makin Besar, Persaingan Juga Makin Ketat

Mistar.idRabu, 19 Agustus 2026 pukul 08.35 WIB
shuhei_yoshida_industri_game_indie_makin_besar_persaingan_juga_makin_ketat

Shuhei Yoshida, Mantan Presiden Sony Interactive Entertainment (kiri) dan Sean Lim, Managing Director Digital Braves. (foto:gamerwk/mistar)

news_banner

Dari Turn-Based JRPG Menjadi Reactive Turn-Based RPG

Menurut Yoshida, menyebut Clair Obscur: Expedition 33 sebagai turn-based JRPG berpotensi membuat sebagian konsumen kehilangan minat.

“Saya menyarankan kepada mereka bahwa kalau mereka mendeskripsikan game ini sebagai turn-based JRPG, mereka mungkin akan kehilangan ketertarikan dari banyak konsumen. Saya menyarankan agar mereka membuat nama baru untuk combat system-nya.”

Dari pendekatan tersebut kemudian muncul istilah Reactive Turn-Based RPG.

Kini, setelah Clair Obscur: Expedition 33 meraih kesuksesan besar, Yoshida justru melihat situasi tersebut dengan sedikit humor. Menurutnya, semakin banyak developer yang kembali menawarkan konsep turn-based JRPG kepada publisher.

“Sekarang banyak developer yang melakukan pitch game baru bergaya turn-based JRPG kepada publisher. Jadi, ini benar-benar lucu,” ujarnya.

AI Akan Membuat Jumlah Game Semakin Banyak

Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di industri game, Yoshida juga memiliki pandangan mengenai perubahan teknologi dan dampaknya terhadap developer.

Menurutnya, perkembangan distribusi digital, game engine seperti Unity dan Unreal, serta tool berbasis AI telah membuat proses pengembangan game semakin mudah diakses.

“Perkembangan distribusi digital dan tool pengembangan game, seperti engine Unity dan Unreal, dan sekarang tool AI, membuat hampir siapa pun bisa menjadi game developer,” katanya.

Ia bahkan mencontohkan seorang temannya yang berprofesi sebagai desainer. Meski tidak memiliki kemampuan programming yang kuat, temannya kini memanfaatkan AI untuk membantu proses tersebut.

“Dia adalah desainer yang hebat, tapi dia bukan programmer yang bagus,” ujar Yoshida.

Kini, temannya bahkan mengatakan ingin membuat game baru setiap tahun karena AI membantu mengatasi keterbatasan dalam programming.

Menurut Yoshida, perubahan ini tidak hanya berlaku bagi orang yang memiliki kemampuan teknis. Orang dengan ide kreatif, kemampuan menggambar artwork, maupun keahlian lain juga semakin berpeluang membuat game sendiri.

“Akan ada lebih banyak lagi kreator yang mengembangkan game, dan jumlah game yang dirilis juga akan semakin banyak,” katanya.

Yoshida optimistis bahwa dari semakin banyaknya game tersebut akan muncul karya-karya luar biasa.

Namun, ada konsekuensi yang tidak bisa diabaikan.

Developer Indie Menghadapi Persaingan yang Lebih Berat

Semakin mudah membuat game berarti semakin banyak pula game yang bersaing mendapatkan perhatian pemain.

“Bagi siapa pun yang ingin menghasilkan uang dari mengembangkan game, kita akan melihat kompetisi yang bahkan lebih berat ke depannya,” kata Yoshida.

Sebagai penggemar game, ia mengaku antusias dengan masa depan industri. Namun, dari perspektif developer, situasinya justru akan semakin sulit.

“Sebagai penggemar game, saya sangat antusias dengan masa depan dan melihat begitu banyak game menarik bermunculan. Tapi dari sudut pandang developer, masa depannya akan sangat berat,” ujarnya.

Menurut Yoshida, jumlah game yang dirilis di Steam saja terus meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan AI berpotensi mempercepat tren tersebut karena developer dapat membuat game dengan lebih cepat dan lebih banyak orang bisa masuk ke industri.

“Jadi, tren tersebut akan terus berlanjut, dan saya rasa kompetisinya akan menjadi semakin berat,” katanya.

Masa Depan Game Fisik Belum Tentu Berakhir

Yoshida juga ditanya mengenai kemungkinan PlayStation semakin meninggalkan distribusi game fisik. Ia menegaskan tidak mengetahui adanya rencana spesifik mengenai hal tersebut.

Namun, sebagai konsumen, Yoshida mengaku dirinya sudah sepenuhnya beralih ke digital.

“Secara pribadi, saya adalah konsumen yang sepenuhnya digital. Saya tidak mau repot mengatur disc atau menggonta-ganti disc,” katanya.

Ia ingin seluruh koleksi game tersedia di dashboard sehingga dapat langsung dipilih dan dimainkan.

Menurut Yoshida, pergeseran dari fisik ke digital memang sudah berlangsung di seluruh industri. Porsi konsumen yang memilih game digital terus meningkat setiap tahun.

Meski demikian, ia memahami bahwa media fisik memiliki nilai tersendiri bagi para kolektor.

“Saya tahu ada kolektor game fisik. Mereka punya dinding yang penuh dengan package fisik, dan bagi mereka, tentunya sangat disayangkan kalau game fisik sudah tidak lagi tersedia untuk dikoleksi,” ujarnya.

Ia menilai collector's edition masih dapat dipertahankan meskipun disc game suatu hari tidak lagi disertakan. Salah satu kemungkinan adalah menghadirkan kemasan fisik yang berisi voucher download.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN