Era Taksi Tanpa Sopir Makin Dekat, Bolt dan Lucid Siapkan 25.000 Robotaxi di Eropa

Bolt dan Lucid siapkan 25.000 robotaxi di Eropa. (foto: Lucidmotors)
Tallinn, MISTAR.ID - Era taksi tanpa sopir di Eropa semakin mendekati penggunaan dalam skala besar. Platform berbagi kendaraan asal Estonia, Bolt, menggandeng produsen mobil listrik Amerika Serikat, Lucid, untuk menghadirkan sedikitnya 25.000 kendaraan otonom di benua tersebut.
Dilansir Reuters, Kamis (17/9/2026), kedua perusahaan belum mengungkapkan kapan target 25.000 kendaraan itu akan tercapai maupun besarnya investasi yang disiapkan. Namun, Bolt menargetkan 100.000 kendaraan otonom tersedia di platformnya pada 2035.
CEO Bolt Markus Villig menilai potensi penggunaan robotaxi di Eropa sangat besar.
“Kami pikir seiring waktu akan ada ruang bagi jutaan robotaxi di seluruh Eropa,” kata Villig kepada Reuters.
Menurut Villig, salah satu hambatan utama pengembangan robotaxi di Eropa adalah regulasi keselamatan yang jauh lebih ketat dibandingkan Amerika Serikat dan China.
Meski demikian, ia menilai Eropa memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi kendaraan otonom sendiri. Ketergantungan jangka panjang terhadap teknologi yang diimpor dari pasar pesaing, menurutnya, dapat menimbulkan risiko strategis bagi kawasan tersebut.
Villig menekankan teknologi kendaraan otonom dalam jangka panjang perlu dikembangkan di Uni Eropa agar sesuai dengan kebutuhan dan standar yang berlaku di kawasan itu.
Dalam kerja sama tersebut, Bolt akan memiliki sekaligus mengoperasikan armada kendaraan otonom tersebut.
Platform kendaraan itu rencananya menggunakan sistem Hyperion dari produsen chip Amerika Serikat, Nvidia.
Kendaraan untuk proyek tersebut akan diproduksi di fasilitas baru Lucid di Arab Saudi. Pabrik itu dijadwalkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Kerja sama Bolt dan Lucid muncul ketika Eropa berupaya meningkatkan kemampuan teknologi kendaraan otonom di tengah persaingan yang semakin ketat dengan Amerika Serikat dan China.
Rencana menghadirkan puluhan ribu kendaraan tanpa sopir tersebut sekaligus menunjukkan robotaxi mulai diarahkan menuju penggunaan dalam skala yang jauh lebih besar, meski penerapannya tetap menghadapi tantangan regulasi keselamatan di Eropa. (*)







































