Tuesday, September 15, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Suahasil Jadi Menkeu, Saham Rokok Tertekan: Investor Kembali Cermati Arah Cukai

Mistar.idSelasa, 15 September 2026 pukul 17.05 WIB
suahasil_jadi_menkeu_saham_rokok_tertekan_investor_kembali_cermati_arah_cukai

Suahasil Jadi Menkeu, Saham Rokok Tertekan: Investor Kembali Cermati Arah Cukai. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (15/9/2026) — Pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) mulai mengusik saham emiten rokok di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasar kini kembali menghitung risiko perubahan kebijakan cukai hasil tembakau (CHT) setelah Suahasil Nazara menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

Kekhawatiran tersebut langsung tercermin dalam perdagangan saham. Sejumlah emiten rokok seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) kompak melemah pada perdagangan Selasa (15/9/2026).

Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai aksi jual tersebut berkaitan dengan munculnya kembali ekspektasi terhadap arah kebijakan cukai rokok di bawah Menteri Keuangan baru.

Pergantian Menkeu Bikin Investor Hitung Ulang Risiko Cukai

Rully mengatakan tekanan terhadap saham sektor rokok mulai terlihat sejak perdagangan Senin (14/9/2026) sore, setelah Suahasil resmi menggantikan Purbaya.

Menurut dia, sebelumnya pasar mendapat sinyal bahwa tarif cukai rokok berpotensi tidak mengalami kenaikan. Pergantian menteri membuat investor kembali mempertanyakan apakah kebijakan tersebut akan dipertahankan.

"Mungkin untuk sementara, kemarin kayaknya ada sell off dari saham-saham sektor rokok. Sementara, kalau rokok sendiri mungkin penetapan cukai rokok itu sendiri memang beberapa waktu yang lalu Pak Purbaya itu sempat menyebutkan kemungkinan tidak akan menaikkan cukai," ujar Rully dalam Media Day bertajuk Navigating Indonesia’s Market: Policy Shifts, Commodities & Opportunities di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Dengan demikian, perhatian investor kini tertuju pada satu pertanyaan utama: bagaimana arah kebijakan cukai rokok di era Suahasil Nazara?

Saham GGRM, HMSP, dan WIIM Kompak Tertekan

Sentimen tersebut terlihat jelas di lantai bursa. Pada sesi I perdagangan Selasa, sejumlah saham emiten rokok mengalami koreksi cukup dalam.

Saham GGRM turun 1.000 poin atau 5,26 persen ke level Rp18.000. Saham WIIM melemah 50 poin atau 3,18 persen menjadi Rp1.520.

Sementara itu, HMSP mencatat penurunan lebih dalam, yakni 45 poin atau 6,25 persen ke posisi Rp675.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan figur di Kementerian Keuangan dengan cepat menjadi perhatian investor sektor tembakau. Data perdagangan hingga siang hari juga menunjukkan GGRM, HMSP, dan WIIM berada di zona merah.

Gaya Kebijakan Suahasil Jadi Sorotan

Rully menilai karakter kebijakan Suahasil berpotensi memiliki kemiripan dengan pendekatan yang pernah diterapkan Sri Mulyani Indrawati.

Menurutnya, pendekatan tersebut cenderung lebih tegas terhadap sektor yang dinilai memiliki dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat, termasuk industri hasil tembakau.

"Kalau saya lihat sepertinya Pak Suahasil ini, pendekatannya agak mirip dengan Ibu Sri Mulyani, mungkin agak lebih keras terhadap hal-hal yang berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat Indonesia," kata Rully.

Perbedaan pendekatan tersebut berpotensi menjadi sentimen baru bagi saham rokok. Sebab, semakin ketat kebijakan terhadap industri tembakau, semakin besar pula risiko regulasi yang harus diperhitungkan investor.

"Memang ini ada perbedaan pandangan kedua kubu tersebut. Jadi, kemungkinan juga memang akan lebih keras terhadap sektor rokok," ujarnya.

Meski demikian, pandangan tersebut merupakan ekspektasi analis dan sentimen pasar, bukan kepastian bahwa tarif cukai rokok akan dinaikkan oleh Suahasil.

Suahasil Bicara Soal Rokok Ilegal

Di tengah kekhawatiran investor, Suahasil justru menegaskan komitmennya untuk melanjutkan dan memperkuat pemberantasan peredaran rokok ilegal.

Seusai dilantik sebagai Menteri Keuangan pada Senin (14/9/2026), Suahasil mengatakan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) telah menjalankan tugas penindakan terhadap berbagai aktivitas ilegal.

"Pak Djaka (Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama) telah bekerja dengan teman-teman Direktorat Jenderal Bea dan Cukai," kata Suahasil.

Ia menegaskan bahwa pengawasan tidak hanya menyasar rokok ilegal. Bea Cukai juga memiliki tanggung jawab menangani berbagai bentuk barang dan aktivitas ilegal lainnya.

"Yang ilegal itu bukan hanya rokok, tapi berbagai macam hal yang lain yang harusnya kita tangani," ujarnya.

Pemberantasan rokok ilegal menjadi isu penting bagi industri karena persaingan antara produk legal dan ilegal dapat memengaruhi penjualan serta pangsa pasar perusahaan rokok resmi.

Bukan Cuma Cukai, Investor Juga Pantau Rokok Ilegal

Bagi investor, perubahan kebijakan cukai bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan.

Kinerja saham rokok juga dipengaruhi oleh volume penjualan, daya beli konsumen, kemampuan perusahaan menjaga margin, pergeseran konsumsi ke produk yang lebih murah, serta maraknya peredaran rokok ilegal.

Karena itu, komitmen pemerintah memperkuat penindakan terhadap rokok ilegal justru dapat menjadi faktor yang berlawanan dengan sentimen negatif dari isu cukai. Penurunan peredaran produk ilegal berpotensi membantu mengembalikan pangsa pasar kepada produsen rokok legal.

Pasar Menunggu Arah Kebijakan Cukai

Untuk saat ini, investor masih berada dalam fase menunggu kepastian.

Pergantian Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara memang memunculkan kembali kekhawatiran mengenai arah kebijakan fiskal, termasuk cukai hasil tembakau. Namun, belum ada kepastian bahwa perubahan kepemimpinan tersebut otomatis akan diikuti kenaikan tarif cukai rokok.

Justru karena itulah, setiap pernyataan pemerintah mengenai CHT, pengawasan rokok ilegal, maupun kebijakan industri tembakau berpotensi menjadi katalis bagi GGRM, HMSP, WIIM, dan saham rokok lainnya.

Tekanan pada perdagangan Selasa dapat menjadi sinyal bahwa pasar mulai memasukkan risiko kebijakan tersebut ke dalam valuasi saham.

Dengan kata lain, investor kini tidak hanya melihat kinerja emiten rokok, tetapi juga menunggu ke mana arah “asap kebijakan” Suahasil Nazara.

(timesindonesia/bloomberg/idn/suara/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN