SBY Kenang AM Hendropriyono: Dari Mentoring Militer hingga Jejak Sejarah

AM Hendropriyono (kiri) bersama putra SBY yakni Agus Yudhoyono. (foto:fb@agusyudhoyono/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Nama AM Hendropriyono kembali menjadi sorotan publik ketika mantan Presiden Republik Indonesia ke‑6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengenang hubungan profesi dan personalnya dengan sang jenderal purnawirawan saat menghadiri acara di Kraton Majapahit Jakarta pada Selasa, 31 Maret 2026.
Dalam sambutannya, SBY tidak sekadar menyebut Hendropriyono sebagai tokoh militer senior, tetapi juga mentor penting yang berperan besar dalam perjalanan awal kariernya di angkatan darat. Kenangan ini membuka sisi lain dari sosok Hendropriyono yang dikenal luas di panggung nasional.
Siapa AM Hendropriyono? Profil Singkat Tokoh yang Kembali Dibicarakan
AM Hendropriyono, yang lahir pada 7 Mei 1945 di Yogyakarta, adalah purnawirawan Jenderal dari Kopassus — satuan elit TNI AD — yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pada periode 2001–2004.
Selain dikenal sebagai tokoh militer, ia juga sempat memimpin Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) serta aktif dalam sejumlah kegiatan kebudayaan dan intelektual setelah pensiun dari dinas aktif. Selain itu, ia tercatat sebagai salah satu profesor ilmu intelijen pertama di dunia — gelar yang diabadikan dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).
Meski begitu, kariernya tidak lepas dari kontroversi sejarah — termasuk perannya dalam beberapa operasi militer dan tudingan serius seputar pelanggaran hak asasi manusia — yang tetap menjadi bagian perdebatan publik hingga kini.
SBY dan Hendropriyono: Hubungan Senior–Junior yang Bermakna
Kenangan SBY terhadap Hendropriyono bukan sekadar salam hormat biasa. Dalam pernyataannya, SBY menyinggung hubungan mereka sejak ia masih berpangkat mayor atau letnan kolonel — jauh sebelum ia menjadi presiden — sementara Hendropriyono telah berada pada jenjang jabatan yang lebih tinggi.
SBY mengatakan bahwa Hendropriyono memberikan kesempatan penting kepada perwira muda seperti dirinya dan kolega saat itu, termasuk keterlibatan dalam tugas diplomasi besar negara seperti pertemuan Gerakan Nonblok pada awal 1990‑an.
Pengalaman ini, menurut SBY, bukan hanya soal strategi atau tugas‑tugas militer semata, tetapi juga membentuk pandangan dan wawasan dirinya tentang kepemimpinan dan diplomasi internasional.
Momentum Aktual: SBY ke Kraton Majapahit
Kunjungan SBY ke Kraton Majapahit Jakarta — sebuah gagasan budaya yang digagas oleh Hendropriyono — menjadi momen tatap muka simbolis dua generasi pemimpin. Acara ini tidak hanya mempertemukan tokoh senior dan junior dari militer era yang sama, tetapi juga menegaskan betapa erat hubungan kedua tokoh dalam konteks sejarah modern Indonesia.
Kehadiran SBY di acara itu sekaligus menjadi pengingat bagi publik bahwa mentoring atau transfer pengalaman antarpribadi tetap memainkan peran penting dalam perjalanan karier para pemimpin bangsa.
Sorotan Fakta Menarik Tentang Hendropriyono
- Kepala BIN Indonesia: Ia memimpin badan intelijen negara pada masa transisi politik penting di awal abad ke‑21, ketika Indonesia menghadapi tantangan keamanan pasca‑reformasi.
- Profesor Intelijen: Dirinya tercatat dalam Museum Rekor Indonesia sebagai profesor ilmu intelijen pertama, sebuah prestasi unik di tingkat global.
- Hubungan dengan Militer dan Politik: Di luar dinas militer, ia aktif dalam politik partai serta sejumlah kegiatan budaya dan intelektual di kalangan elite.
- Mentor SBY: Ungkapan SBY menempatkan Hendropriyono bukan hanya sebagai senior, tetapi sebagai figur yang membentuk fondasi kariernya di angkatan darat.
Mengapa Publik Tertarik Kini?
Sorotan terbaru terhadap AM Hendropriyono muncul karena pengakuan langsung seorang mantan presiden yang selama ini dikenal sebagai figur tegas dan berprestasi sendiri. Pengakuan SBY ini memberi warna baru pada narasi sejarah militer Indonesia serta memperkaya diskusi seputar hubungan internal elite angkatan bersenjata dengan peran mereka dalam peristiwa diplomasi besar nasional.
Dalam lanskap berita nasional, kenangan SBY tentang Hendropriyono bukan hanya cerita personal, tetapi juga bagian dari rekaman sejarah kolektif yang memengaruhi cara generasi baru melihat perjalanan kepemimpinan Indonesia di era militer dan pasca‑militer.
(berbagaisumber/ai/hm27)






















