Sri Sultan Hamengkubuwono X Trending di Usia 80 Tahun, Ini Profil dan Keseruan HUT-nya

Kirab lurah dan pamong se-DIY dalam kegiatan HUT. Insert: Sri Sultan Hamengkubuwono X. (foto:krjogja/Antara/Regina Safri melalui portaljogja/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Nama Sri Sultan Hamengkubuwono X mendadak menjadi sorotan publik. Raja sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu trending bertepatan dengan momentum ulang tahunnya yang ke-80 pada 2 April 2026.
Perayaan tersebut bukan sekadar seremoni internal keraton, melainkan pesta budaya berskala besar yang melibatkan ribuan warga. Dari kirab budaya, sowan massal, hingga angkringan gratis di Malioboro, peringatan ini menjelma menjadi peristiwa sosial yang menyatukan tradisi dan masyarakat modern Yogyakarta.
Lantas, siapa sebenarnya Sri Sultan Hamengkubuwono X? Mengapa sosoknya selalu relevan diperbincangkan? Dan seperti apa kemeriahan HUT ke-80 yang membuat namanya kembali viral?
Profil Sri Sultan Hamengkubuwono X: Raja yang Juga Gubernur
Sri Sultan Hamengkubuwono X lahir dengan nama Bendara Raden Mas Herjuno Darpito pada 2 April 1946 di Yogyakarta. Ia merupakan putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tokoh nasional yang berperan besar dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Sejak 7 Maret 1989, ia resmi dinobatkan sebagai Sultan Kesultanan Yogyakarta. Setelah era reformasi 1998, ia juga menjabat sebagai Gubernur DIY—posisi yang diembannya berdasarkan keistimewaan Yogyakarta yang diatur dalam undang-undang.
Status ganda sebagai raja sekaligus kepala daerah menjadikannya figur unik dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Tidak ada provinsi lain yang memiliki pola kepemimpinan seperti DIY, di mana kepala daerah tidak dipilih melalui pilkada, melainkan ditetapkan berdasarkan garis kesultanan.
Sebagai pemimpin, Sultan HB X dikenal moderat dan adaptif terhadap perubahan zaman. Salah satu keputusan penting yang pernah menjadi perbincangan nasional adalah kebijakannya membuka peluang kepemimpinan perempuan di lingkungan keraton, dengan menetapkan putri sulungnya sebagai pewaris takhta. Langkah ini dianggap sebagai pembaruan dalam tradisi monarki Jawa yang sebelumnya sangat patriarkal.
Mengapa Sri Sultan Hamengkubuwono X Trending?
Momentum ulang tahun ke-80 menjadi alasan utama namanya kembali ramai diperbincangkan. Usia 80 tahun merupakan tonggak penting bagi seorang pemimpin yang telah lebih dari tiga dekade memegang peran sentral di Yogyakarta.
Namun bukan hanya faktor usia yang membuatnya trending. Perayaan HUT kali ini dirancang terbuka dan melibatkan masyarakat luas. Media sosial dipenuhi dokumentasi kirab budaya, lautan warga di Malioboro, hingga momen kebersamaan rakyat dengan “Ngarsa Dalem”—sapaan hormat untuk Sultan.
Penutupan kawasan Malioboro dan pengalihan arus lalu lintas juga menjadi perhatian publik karena menunjukkan besarnya skala perayaan tersebut.
Keseruan Perayaan HUT ke-80: Kirab, Budaya, dan Pesta Rakyat
Perayaan ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono X digelar meriah di berbagai titik pusat Kota Yogyakarta.
Ribuan pamong desa dan perwakilan masyarakat dari ratusan kalurahan se-DIY mengikuti kirab budaya menuju kawasan Keraton Yogyakarta. Mereka membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada Sultan.
Prosesi kirab berlangsung semarak dengan iringan kesenian tradisional seperti jathilan, reog, hingga musik keroncong. Warga dan wisatawan memadati sepanjang jalan, menciptakan suasana yang penuh warna dan nuansa budaya Jawa yang kental.
Tak hanya itu, ratusan angkringan gratis disediakan di kawasan Jalan Malioboro. Ribuan porsi nasi kucing dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kedekatan Sultan dengan rakyatnya. Konsep pesta rakyat ini menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan suasana egaliter—raja dan rakyat merayakan bersama tanpa sekat.
Acara tersebut juga berdampak pada penutupan sementara akses kendaraan di kawasan pusat kota, memberikan ruang yang lebih luas dan aman bagi masyarakat untuk menikmati rangkaian perayaan.
Fakta Menarik tentang Sri Sultan Hamengkubuwono X
Ada beberapa hal yang membuat sosok Sultan HB X selalu relevan dalam diskursus nasional:
Pertama, ia adalah satu-satunya raja aktif di Indonesia yang sekaligus menjabat gubernur secara resmi dalam sistem pemerintahan modern.
Kedua, ia memimpin Yogyakarta dalam masa transisi penting, mulai dari era reformasi, desentralisasi, hingga penguatan otonomi daerah berbasis keistimewaan.
Ketiga, pendekatannya yang memadukan tradisi keraton dengan tata kelola modern membuat Yogyakarta tetap kuat sebagai pusat budaya sekaligus destinasi wisata unggulan nasional.
Momentum ulang tahun ke-80 ini menjadi refleksi atas perjalanan panjang kepemimpinannya—baik sebagai simbol budaya Jawa maupun sebagai pejabat publik.
Refleksi di Usia 80 Tahun
Perayaan HUT Sri Sultan Hamengkubuwono X bukan sekadar seremoni ulang tahun. Ia menjadi panggung pertemuan antara sejarah, budaya, dan realitas sosial Yogyakarta hari ini.
Di usia 80 tahun, Sultan HB X tetap menjadi figur sentral yang dihormati, baik di dalam lingkungan keraton maupun di panggung nasional. Perayaan meriah tersebut sekaligus menunjukkan kuatnya ikatan emosional antara pemimpin dan masyarakat DIY—sebuah relasi yang jarang ditemui di daerah lain di Indonesia.
(berbagaisumber/ai/hm27)
BERITA TERPOPULER






BERITA TERPOPULER























