Tuesday, July 7, 2026
home_banner_first
PIALA DUNIA 2026

Amerika Serikat vs Belgia 1-2 di Babak Pertama: De Ketelaere Borong Dua Gol, Setan Merah Unggul Efisien di Seattle

Mistar.idSelasa, 7 Juli 2026 pukul 08.11 WIB
amerika_serikat_vs_belgia_12_di_babak_pertama_de_ketelaere_borong_dua_gol_setan_merah_unggul_efisien_di_seattle

Aksi De Ketelaere saat menyundul bola dan mencetak gol keduanya dalam pertandingan Amerika Serikat vs Belgia. (foto:gettyimage via fwc/mistar)

news_banner

Seattle, MISTAR.ID — Belgia menutup babak pertama dengan keunggulan 2-1 atas Amerika Serikat pada laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Lumen Field, Seattle, Selasa (7/7/2026) pagi WIB. Charles De Ketelaere menjadi pembeda melalui dua gol yang menempatkan Setan Merah di posisi menguntungkan menuju babak kedua.

Meski bermain di hadapan mayoritas pendukung tuan rumah, Amerika Serikat kesulitan mengimbangi intensitas dan organisasi permainan Belgia sepanjang sebagian besar 45 menit pertama. Tim asuhan Rudi Garcia tampil lebih efisien dalam memanfaatkan peluang, sementara United States Men's National Soccer Team (USMNT) atau Tim Nasional Sepak Bola Pria Amerika Serikat baru menemukan momentum setelah tertinggal terlebih dahulu.

Sorotan Unggulan

De Ketelaere Menjawab Kepercayaan Rudi Garcia

Keputusan Rudi Garcia mencadangkan Romelu Lukaku dan memberikan peran starter kepada Charles De Ketelaere terbukti tepat pada babak pertama.

Penyerang Atalanta itu membuka keunggulan Belgia pada menit kesembilan setelah memanfaatkan bola liar hasil tekanan Nicolas Raskin di dalam kotak penalti. Berada di posisi ideal di depan gawang, De Ketelaere menyelesaikan peluang dengan sentuhan sederhana dari jarak dekat.

Gol tersebut lahir dari rangkaian kesalahan lini belakang Amerika Serikat. Sundulan Chris Richards gagal mengamankan situasi, sementara Raskin dengan cepat membaca pantulan bola dan mengirim umpan matang yang diselesaikan De Ketelaere.

Ketika Amerika Serikat mulai bangkit setelah menyamakan kedudukan, De Ketelaere kembali muncul pada menit ke-33. Kali ini ia menyambut umpan silang presisi Leandro Trossard dan memenangkan duel udara melawan Tim Ream sebelum menanduk bola ke sudut atas gawang Matt Freese.

Dua gol tersebut menegaskan kualitas penempatan posisi dan ketajaman penyelesaian akhir pemain berusia 25 tahun itu.

Tillman Menghidupkan Harapan USMNT

Di tengah dominasi Belgia, Amerika Serikat sempat menemukan jalan kembali ke pertandingan melalui Malik Tillman pada menit ke-31.

Gol tersebut berawal dari situasi bola mati yang diperoleh setelah Folarin Balogun dilanggar di area berbahaya. Tillman melepaskan tembakan kaki kanan yang sempat mengalami sedikit defleksi dari Hans Vanaken sebelum mengecoh Thibaut Courtois.

Menariknya, peluang itu hanya memiliki nilai expected goals (xG) sebesar 0,10, menandakan rendahnya probabilitas menjadi gol. Namun efektivitas menjadi kunci bagi tuan rumah yang pada saat itu baru mencatatkan satu tembakan sepanjang pertandingan.

Gol Tillman sempat mengubah atmosfer stadion dan membuka peluang kebangkitan USMNT sebelum Belgia kembali merespons hanya dua menit berselang.

Analisis Taktis: Belgia Menang di Area Sayap

Sisi Kiri Belgia Menjadi Sumber Ancaman Utama

Sebagian besar serangan berbahaya Belgia berasal dari kombinasi Maxim De Cuyper, Leandro Trossard, dan Charles De Ketelaere.

Trossard beberapa kali berhasil menemukan ruang di belakang Sergiño Dest dan Alex Freeman. Gol kedua Belgia menjadi contoh paling jelas bagaimana Setan Merah mengeksploitasi kelemahan struktur pertahanan Amerika Serikat di sisi kanan.

Dalam proses gol tersebut:

- Tielemans menemukan Trossard di ruang terbuka.

- Trossard berhasil melewati tekanan Robinson dan Dest.

- Umpan silang diarahkan ke area tiang jauh.

- De Ketelaere memenangkan duel udara melawan Ream.

Skema itu memperlihatkan kualitas rotasi posisi Belgia sekaligus masalah koordinasi pertahanan USMNT ketika menghadapi overload di sisi sayap.

Raskin Mengendalikan Tempo

Meski De Ketelaere menjadi pencetak gol, Nicolas Raskin layak mendapat perhatian khusus.

Gelandang bertahan Belgia tampil agresif saat fase transisi dan menjadi motor perebutan bola. Ia mencatat assist untuk gol pertama serta beberapa kali memutus aliran serangan Amerika Serikat di area tengah.

Kehadirannya membuat Tyler Adams dan Weston McKennie kesulitan membangun progresi bola secara konsisten.

Fakta Menarik dan Unik

1. De Ketelaere Masuk Daftar Elite Belgia

Dua gol pada babak pertama membuat De Ketelaere menjadi pemain Belgia ketiga yang mencetak brace sebelum jeda dalam sejarah Piala Dunia.

Sebelumnya hanya ada:

- Bernard Voorhoof vs Jerman (1934)

- Romelu Lukaku vs Tunisia (2018)

Pencapaian tersebut menempatkan nama De Ketelaere dalam daftar eksklusif sejarah sepak bola Belgia.

2. Gol Kilat Bersejarah

Gol pembuka De Ketelaere pada menit kesembilan menjadi gol tercepat kedua Belgia dalam laga fase gugur Piala Dunia.

Rekor tercepat masih dipegang Georges Grün yang mencetak gol pada menit kedelapan saat menghadapi Jerman pada Piala Dunia 1994.

3. Efisiensi Belgia Sangat Tinggi

Hingga menit ke-37:

De Ketelaere mencetak 2 gol dari 3 tembakan.

Kedua golnya lahir dari jarak kurang dari tiga yard.

Amerika Serikat mencetak 1 gol dari satu-satunya tembakan mereka.

Data tersebut menunjukkan pertandingan lebih ditentukan oleh kualitas penyelesaian akhir dibanding volume peluang.

4. Rekor Tak Terkalahkan Saat Unggul Lebih Dulu

Sebelum laga ini, Belgia tidak pernah kalah dalam 19 pertandingan Piala Dunia ketika mencetak gol pertama sejak kekalahan 2-4 dari Prancis pada 1986.

Statistik tersebut menjadi modal psikologis penting memasuki babak kedua.

Pertarungan Efektivitas Melawan Momentum

Babak pertama memperlihatkan dua pendekatan yang berbeda.

Amerika Serikat mencoba membangun permainan melalui energi, agresivitas, dan dukungan publik Seattle. Namun ritme mereka beberapa kali terputus oleh penghentian pertandingan akibat cedera Amadou Onana serta sejumlah duel fisik di lini tengah.

Sebaliknya, Belgia bermain lebih sabar dan terstruktur. Mereka tidak mendominasi penguasaan bola secara berlebihan, tetapi mampu menemukan ruang yang tepat ketika menyerang area pertahanan terakhir lawan.

Perbedaan terbesar terlihat pada kualitas keputusan di sepertiga akhir lapangan. Belgia memaksimalkan setiap kesalahan pertahanan USMNT, sementara Amerika Serikat terlalu sering kehilangan bentuk ketika harus bertahan menghadapi pergerakan Trossard dan De Ketelaere.

Meski hanya tertinggal satu gol, tugas Mauricio Pochettino pada babak kedua tidak sederhana. USMNT harus meningkatkan disiplin pertahanan di sektor kanan tanpa mengurangi agresivitas menyerang. Di sisi lain, Belgia berada dalam posisi ideal untuk memanfaatkan ruang transisi yang semakin besar apabila tuan rumah mulai bermain lebih terbuka.

Dengan skor 2-1 saat turun minum, pertandingan masih sepenuhnya terbuka. Namun berdasarkan jalannya babak pertama, Belgia menunjukkan alasan mengapa mereka tetap menjadi salah satu tim paling berbahaya di fase gugur: efisien, tenang, dan mampu menghukum setiap kesalahan lawan.

(fotmob/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN