Saturday, September 5, 2026
home_banner_first
BUDAYA

Dari Nona Manis ke Pegunungan: Wastra Indonesia Menolak Punah di Tangan Generasi Baru

Mistar.idSabtu, 5 September 2026 pukul 05.00 WIB
dari_nona_manis_ke_pegunungan_wastra_indonesia_menolak_punah_di_tangan_generasi_baru_

Saat UMKM Wastra Nusantara Menjaga Alam dan Menggerakkan Ekonomi (Foto: wartadesaku.id )

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID (4/9/2026) – Di tengah derasnya arus mode global, sehelai kain bisa menjadi penanda jati diri.

Di Indonesia, kain itu bernama wastra.Wastra adalah sebutan untuk kain tradisional Nusantara yang menyimpan cerita, filosofi, dan identitas.

Ragamnya membentang dari Sabang sampai Merauke. Ada batik, songket, ulos Batak, ulos Simalungun, tenun ikat, sasirangan, tapis, lurik, hingga besurek.

Namun mempertahankan wastra agar tidak sekadar menjadi pajangan museum adalah pekerjaan rumah.

Tantangannya besar. Bagaimana membuat kain warisan tetap relevan bagi generasi muda? Jawabannya mungkin ada pada kolaborasi.

Momentum HUT ke-81 Republik Indonesia bertepatan dengan 64 tahun perjalanan Sarinah menjadi titik tolak.

Melalui Songket Collection, Sarinah menggandeng brand fesyen Buttonscarves untuk menghadirkan wastra dalam wajah baru.

Koleksi yang resmi diluncurkan pada 13 Agustus 2026 ini terdiri dari rangkaian scarf dan apparel. Dua motif utama menjadi sorotan: Nona Manis dan Pegunungan.

Nona Manis hadir dengan susunan geometris ritmis yang menggambarkan kehangatan dan kebersamaan. Sementara Pegunungan merepresentasikan ketangguhan, perlindungan, dan harapan.

Yang menarik, kedua motif tradisional itu dipadukan dengan monogram ‘B’ khas Buttonscarves. Pertemuan antara warisan dan identitas modern inilah yang membuat songket tidak lagi terasa jauh.

Koleksi ini juga dipamerkan dalam gelaran Festiloka by BRImo pada 16 Agustus 2026.

Direktur Utama PT Sarinah, Raisha Syarfuan, menegaskan bahwa menjaga wastra bukan hanya soal mempertahankan.

"Menjaga warisan budaya bukan hanya tentang mempertahankan apa yang telah ada, tetapi juga menghadirkan ruang agar karya dan nilai di baliknya dapat dikenal, digunakan, dan diapresiasi oleh generasi hari ini. Kami berharap koleksi ini dapat semakin mendekatkan songket dengan keseharian masyarakat sekaligus menumbuhkan kebanggaan untuk mengenakan karya Indonesia," ujarnya, Kamis.

Senada, Creative Director Buttonscarves, Mifthahul Jannah, mengatakan kolaborasi ini adalah cara membawa wastra lebih dekat dengan perempuan masa kini.

"Selama ini Sarinah telah membuka ruang bagi karya dan budaya Indonesia untuk semakin dikenal. Melalui kolaborasi ini, kami ingin melanjutkan semangat tersebut dengan mengajak lebih banyak orang untuk mengenakan warisan Indonesia dengan bangga," ucapnya.

Wastra Hidup Jika Dipakai

Dari lemari kaca ke keseharian. Dari upacara adat ke kantor dan kampus. Itulah mungkin cara paling jujur menjaga warisan: memakainya.

Ketika songket, tenun, dan ulos kembali hadir dalam gaya hidup anak muda, maka benang-benang sejarah itu tidak akan putus. Ia akan terus ditenun, mengikuti zaman, tanpa kehilangan maknanya.(detikcom/hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN