Saturday, September 5, 2026
home_banner_first
EDUKASI

Kenapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat? Ini Penjelasan Psikologinya

Mistar.idSabtu, 5 September 2026 pukul 07.00 WIB
kenapa_perjalanan_pulang_terasa_lebih_cepat_ini_penjelasan_psikologinya

Ilustrasi. (foto: istockphoto/mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Pernahkah Anda merasa perjalanan menuju suatu tempat terasa lebih lama, sementara perjalanan kembali justru seperti berlangsung lebih cepat? Padahal, jarak dan waktu yang ditempuh sebenarnya tidak berbeda.

Fenomena psikologis tersebut dikenal sebagai return trip effect. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang mempersepsikan perjalanan pulang lebih singkat dibandingkan perjalanan pergi, meskipun keduanya memiliki durasi yang sama.

Fenomena tersebut telah menjadi objek penelitian untuk mengetahui bagaimana otak mempersepsikan waktu selama melakukan perjalanan. Sejumlah eksperimen menunjukkan bahwa perbedaan yang dirasakan bukan terletak pada durasi sebenarnya, melainkan pada cara manusia menilai dan mengingat pengalaman perjalanan.

Salah satu penelitian yang dimuat dalam Psychonomic Bulletin & Review menguji fenomena ini melalui tiga studi. Para peneliti menggunakan berbagai skenario, termasuk perjalanan nyata dengan bus dan sepeda serta eksperimen dengan peserta yang menyaksikan video perjalanan.

Hasil penelitian menunjukkan pola yang serupa. Peserta lebih sering menilai perjalanan kembali sebagai perjalanan yang lebih singkat, meskipun jarak maupun durasinya sama dengan perjalanan saat berangkat.

Salah satu faktor yang diduga berperan adalah rasa familiar terhadap perjalanan. Ketika berangkat, seseorang belum sepenuhnya mengetahui kondisi rute yang akan dilewati sehingga perjalanan terasa kurang dapat diprediksi.

Sebaliknya, saat perjalanan pulang, seseorang telah memiliki gambaran mengenai perjalanan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat rute terasa lebih familiar dan dapat memengaruhi persepsi terhadap waktu.

Menariknya, penelitian tersebut menemukan efek serupa meskipun peserta menggunakan rute berbeda ketika pulang, selama jarak perjalanannya relatif sama.

Para peneliti kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep expectation violation atau pelanggaran ekspektasi. Ketika berangkat, seseorang mungkin memperkirakan perjalanan akan berlangsung dalam waktu tertentu. Jika kenyataannya perjalanan terasa lebih lama dari perkiraan, ekspektasi terhadap perjalanan berikutnya dapat berubah.

Akibatnya, ketika perjalanan pulang ternyata tidak selama yang dibayangkan, durasinya dapat terasa lebih singkat. Dengan kata lain, bukan waktu perjalanan yang berubah, tetapi cara otak memperkirakan dan mengevaluasi durasi tersebut.

Penelitian juga menunjukkan bahwa efek ini tidak selalu muncul ketika perjalanan masih berlangsung. Perbedaan persepsi justru dapat terasa setelah seseorang tiba di tujuan dan mulai membandingkan pengalaman perjalanan pergi dan pulang.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan di PLOS ONE. Peneliti membandingkan bagaimana peserta memperkirakan durasi ketika perjalanan sedang berlangsung dengan penilaian yang diberikan setelah perjalanan selesai.

Dalam penelitian tersebut, aktivitas sistem saraf otonom peserta juga dipantau menggunakan elektrokardiogram (ECG). Hasilnya menunjukkan bahwa return trip effect tetap terlihat ketika penilaian dilakukan setelah perjalanan berakhir.

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa perjalanan pulang terasa lebih singkat bukan semata-mata karena pengalaman yang terjadi selama berada di kendaraan. Persepsi tersebut juga dipengaruhi oleh cara otak mengingat dan membandingkan durasi perjalanan setelah semuanya selesai.

Jadi, jika perjalanan pulang sering terasa lebih cepat, bukan berarti waktu benar-benar berjalan lebih singkat. Otak kitalah yang memiliki cara berbeda dalam memperkirakan, merasakan, dan mengingat perjalanan tersebut.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN