Senyawa dari Hewan Laut Ascidia Berpotensi Lawan Penuaan

Sea Pineapple yang dibuat sebagai menu Hoya di Jepang. (foto: Oishii)
Medan, MISTAR.ID – Senyawa yang banyak ditemukan pada ascidia atau sea squirt menunjukkan potensi dalam melawan sejumlah tanda penuaan. Namun, sejauh ini efek tersebut baru dibuktikan melalui penelitian pada tikus tua.
Ascidia merupakan hewan laut yang juga dikonsumsi sebagai makanan di sejumlah negara Asia. Salah satu jenisnya, Halocynthia roretzi, dikenal dalam bahasa Inggris sebagai sea pineapple karena bentuk luarnya menyerupai nanas. Di Korea, ascidia jenis ini populer dengan sebutan meongge, sedangkan di Jepang dikenal sebagai hoya.
Hewan laut tersebut diketahui kaya plasmalogen, jenis lipid atau molekul lemak yang menjadi bagian penting membran sel. Plasmalogen secara alami banyak terdapat di otak, jantung, dan sel kekebalan tubuh, tetapi kadarnya cenderung menurun seiring bertambahnya usia.
Dilansir dari ScienceDaily, Jumat (4/9/2026), penelitian yang melibatkan ilmuwan Xi'an Jiaotong-Liverpool University, Stanford University, Shanghai Jiao Tong University, dan University of Chinese Academy of Sciences menguji pemberian plasmalogen yang berasal dari jaringan ascidia kepada tikus tua.
Hasilnya, tikus yang mendapat plasmalogen menunjukkan peningkatan kemampuan belajar dan daya ingat. Dalam uji Morris water maze, tikus tersebut mampu menemukan platform tersembunyi lebih cepat dibandingkan tikus tua yang tidak mendapat senyawa itu.
Pemeriksaan otak juga menunjukkan kondisi sinaps atau penghubung antarsel saraf yang lebih baik serta tingkat peradangan otak yang lebih rendah. Temuan penelitian tersebut dipublikasikan dalam Frontiers in Molecular Biosciences.
Profesor Lei Fu, penulis korespondensi penelitian, mengatakan plasmalogen berpotensi tidak hanya memperlambat penurunan kemampuan kognitif.
“Plasmalogen mungkin tidak hanya menghentikan penurunan kognitif, tetapi juga membalikkan gangguan kognitif pada otak yang menua,” kata Fu.
Perubahan juga terlihat secara fisik. Tikus tua yang mendapat plasmalogen menumbuhkan rambut baru yang lebih hitam, tebal, dan mengilap dibandingkan kelompok yang tidak diberi suplemen.
Menurut Fu, plasmalogen dapat meningkatkan molekul yang berperan dalam pertumbuhan neuron dan pembentukan sinaps.
“Temuan kami menunjukkan plasmalogen dapat mendorong regenerasi saraf,” ujarnya.
Peneliti menduga efek tersebut berkaitan dengan peningkatan fungsi membran sel saraf serta penurunan peradangan di otak. Plasmalogen juga diduga dapat memengaruhi hubungan antara mikroorganisme di usus dan otak.
Meski hasilnya menjanjikan, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa mengonsumsi ascidia ataupun suplemen plasmalogen dapat membalikkan penuaan pada manusia.
Temuan masih berasal dari eksperimen pada tikus. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah efek serupa dapat terjadi pada manusia, termasuk memastikan dosis dan keamanan penggunaannya.
Studi yang menjadi dasar temuan tersebut diterbitkan pada 2022 dengan judul Plasmalogens Eliminate Aging-Associated Synaptic Defects and Microglia-Mediated Neuroinflammation in Mice. (*)






























