Karhutla Kalimantan Meluas Dipicu El Nino, 12.880 Petugas Dikerahkan

Petugas penangannan karhutla di Kalimantan. (foto: Dok Kemenhut via Detik)
Jakarta, MISTAR.ID - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan terus meluas di tengah kondisi cuaca kering. Pemerintah mengerahkan 12.880 personel gabungan di tiga provinsi prioritas untuk melakukan pemadaman hingga mencegah munculnya kembali titik api.
Dilansir Detikcom, Jumat (21/8/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi kering tersebut berkaitan dengan El Nino yang saat ini berada pada intensitas sangat kuat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan kondisi iklim kering meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran dan kemunculan asap.
Berdasarkan pemantauan Dasarian I Agustus 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 tercatat +2,77, meningkat dibanding Juli yang berada pada +2,20. BMKG menyebut angka itu menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Selain itu, sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Sejumlah wilayah Kalimantan berada dalam status waspada hingga siaga terhadap dampak kekeringan.
Data yang dikutip Detikcom dari Kementerian Kehutanan menunjukkan, pada 18 Agustus terdapat 109 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Sehari kemudian, 19 Agustus, jumlahnya melonjak menjadi 518 titik.
Secara kumulatif pada 17-19 Agustus 2026, sebanyak 750 hotspot berkepercayaan tinggi terdeteksi di tiga provinsi tersebut. Rinciannya, 367 titik di Kalimantan Barat, 343 titik di Kalimantan Tengah, dan 40 titik di Kalimantan Selatan.
Menghadapi kondisi itu, pemerintah memperkuat operasi terpadu pengendalian karhutla dengan melibatkan Kementerian Kehutanan, BNPB, BMKG, pemerintah daerah, BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, relawan hingga masyarakat.
Sebanyak 12.880 personel gabungan dikerahkan, terdiri atas 1.410 personel di Kalimantan Barat, 10.700 personel di Kalimantan Tengah, serta 770 personel di Kalimantan Selatan.
Mereka melakukan patroli, pemantauan hotspot, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat hingga pembasahan dan pendinginan area terbakar.
Operasi tersebut turut didukung helikopter dan pesawat patroli serta helikopter water bombing. Pemerintah juga membangun dan mengaktifkan sumur bor di sejumlah lokasi prioritas karena sumber air permukaan untuk pemadaman semakin terbatas akibat kondisi kering.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan sumur bor dibutuhkan untuk memperpendek jarak pengambilan air dan mempercepat proses pemadaman.
Keberadaan sumber air dinilai semakin penting terutama pada kebakaran di lahan gambut. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan sehingga berpotensi kembali menyala apabila pembasahan dan pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.
BMKG mengingatkan mitigasi harus terus diperkuat karena masih terdapat banyak titik api yang membutuhkan penanganan. (*)
PREVIOUS ARTICLE
KPK OTT Rektor Unsoed, 14 Orang DiamankanNEXT ARTICLE
Ada Matahari Merah di Langit Palangka Raya





















