Sunday, August 16, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Gempa NTT: 53 Tewas, 1.357 Rumah Rusak dan Hampir 1.000 Gempa Susulan

Mistar.idMinggu, 16 Agustus 2026 pukul 19.16 WIB
gempa_ntt_53_tewas_1357_rumah_rusak_dan_hampir_1000_gempa_susulan

Pasien menjalani perawatan di lorong rumah sakit setelah gempa bumi mengguncang Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 15 Agustus 2026. (ap/firdia lisnawati)

news_banner

Labuan Bajo, MISTAR.ID - Jumlah korban meninggal akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 53 orang hingga Minggu (16/8/2026). Sebanyak 135 orang lainnya terluka, sementara ribuan warga masih berada di pengungsian.

Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan korban meninggal terbanyak berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 25 orang dan Manggarai Timur 20 orang.

“Total kami mencatat 53 jiwa meninggal dunia dengan rincian, Kabupaten Manggarai Barat satu jiwa, Kabupaten Manggarai Timur 20 jiwa, Kabupaten Manggarai 25 jiwa, Nagekeo satu jiwa, Sikka empat jiwa, Ende dua jiwa,” kata Abdul Muhari dalam konferensi pers, dikutip dari detikNews, Minggu (16/8/2026).

BNPB juga mencatat sebanyak 135 orang mengalami luka ringan maupun berat dan menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Sementara itu, sedikitnya 1.357 rumah terdampak gempa, terdiri atas 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintah, berdasarkan data BNPB yang dikutip detikNews.

Mengutip Reuters, Minggu (16/8/2026), sekitar 5.000 warga telah dievakuasi akibat gempa. Lebih dari 3.300 warga di Kabupaten Sikka mengungsi secara mandiri maupun berada di gedung olahraga yang dijadikan lokasi pengungsian.

Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pagi. BNPB mencatat hampir 1.000 gempa susulan telah terjadi sejak gempa utama, seperti dilaporkan Reuters. Kondisi itu membuat banyak warga masih takut kembali ke rumah.

Longsor dan kerusakan jalan juga menghambat operasi pencarian. Petugas memprioritaskan pembersihan reruntuhan di Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo untuk mencari kemungkinan korban yang masih tertimbun.

Pejabat badan pencarian dan pertolongan Suryaman mengatakan sejauh ini belum ada laporan resmi mengenai warga yang hilang. Namun, longsor dan gempa susulan masih menghambat proses pencarian.

Lebih dari 3.500 personel TNI dan Polri telah dikerahkan ke wilayah terdampak untuk membantu operasi penanganan bencana, menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Pemerintah Provinsi NTT juga telah menetapkan status darurat. Kebijakan tersebut memungkinkan pemerintah mempercepat mobilisasi sumber daya dan pendanaan untuk penanganan bencana.

Pasokan listrik dilaporkan hampir seluruhnya pulih, meski petugas PLN masih memperbaiki sejumlah jaringan distribusi yang terdampak.

Di sejumlah wilayah, warga masih memilih bertahan di luar rumah karena khawatir terhadap gempa susulan. Sebagian korban tinggal di bawah tenda darurat dari terpal, sementara warga yang terluka juga menjalani perawatan di tenda yang didirikan di luar rumah sakit.

Kepala badan penanggulangan bencana setempat, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, mengatakan gempa tersebut kembali mengingatkan masyarakat Flores pada bencana besar 1992.

“Kami sering mengalami gempa. Namun, gempa kali ini benar-benar mengingatkan kembali trauma akibat gempa 1992,” katanya, dikutip dari Reuters.

Gempa besar pada 1992 berkekuatan magnitudo 7,5 dan menyebabkan kerusakan luas di Flores. Kawasan tersebut rawan gempa karena berada di sekitar sistem sesar naik belakang busur Flores atau Flores Back-Arc Thrust. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN