Inflasi September Diprediksi 3,3%, Ekspektasi Harga Oktober Bawa Sinyal Mengejutkan

Inflasi September Diprediksi 3,3%, Ekspektasi Harga Oktober Bawa Sinyal Mengejutkan. (foto ilustrasi:gemini/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (1/10/2026) — Inflasi Indonesia memasuki Oktober 2026 dengan dua sinyal yang bertolak belakang. Inflasi September diperkirakan kembali naik, tetapi ekspektasi tekanan harga pada Oktober justru mulai menurun.
Konsensus 20 ekonom yang dihimpun Reuters memperkirakan inflasi September mencapai 3,30% secara tahunan (yoy), naik dari 3,19% pada Agustus. Proyeksi lain bahkan menempatkan inflasi September di 3,35% yoy.
Angka tersebut masih berupa perkiraan karena BPS baru merilis data inflasi September pada 1 Oktober 2026. Namun, arah tekanannya sudah terlihat: harga pangan menjadi salah satu pendorong utama.
Inflasi September Makin Panas, Pangan Jadi Pemicu
Tekanan inflasi mulai terlihat sejak Agustus. BPS mencatat inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19% yoy, naik dari 2,88% pada Juli. Inflasi bulanan tercatat 0,21%.
Salah satu sumber tekanan terbesar berasal dari kelompok pangan bergejolak atau volatile food. DEN mencatat inflasi komponen ini melonjak menjadi 4,06% yoy pada Agustus, dari 2,52% pada Juli. Kenaikan dipengaruhi harga sejumlah komoditas pangan, kendala produksi hortikultura, serta faktor El Niño.
Memasuki September, tekanan tersebut diperkirakan berlanjut.
Sejumlah proyeksi menyebut cabai merah, cabai rawit, beras, ayam, dan telur sebagai komoditas yang perlu diperhatikan. Mirae Asset memperkirakan inflasi September sekitar 0,3% secara bulanan atau sekitar 3,3% yoy, dengan pangan menjadi sumber kenaikan utama.
Dengan demikian, angka inflasi September bukan sekadar cerita tentang indikator makro. Di tingkat rumah tangga, tekanannya dapat terasa langsung melalui harga kebutuhan sehari-hari.
Ada Risiko yang Belum Hilang: El Niño dan Harga Global
Tekanan pangan juga memiliki risiko lanjutan.
DEN menilai El Niño dapat terus memengaruhi produksi pangan. Gangguan cuaca berpotensi menekan pasokan, sementara distribusi dan harga komoditas global juga dapat menambah tekanan.
Di luar pangan, tekanan biaya juga terlihat dari harga perdagangan besar. BPS mencatat IHPB nasional Agustus 2026 naik 6,18% yoy, dengan sejumlah komoditas seperti LPG nonsubsidi, solar industri, beras, pelumas, dan laptop mengalami kenaikan harga tahunan.
Artinya, risiko inflasi belum sepenuhnya selesai meski tekanan permintaan domestik belum terlalu kuat.
Oktober Justru Membawa Sinyal Berbeda
Di tengah potensi inflasi September yang lebih tinggi, ada kabar yang cukup menarik untuk Oktober.
Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia menunjukkan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 turun menjadi 146,5, dari 155,2 pada periode sebelumnya. BI menyebut angka tersebut mencerminkan perkiraan tekanan inflasi Oktober yang menurun.
Ini bukan berarti harga barang akan langsung turun.
Inflasi yang melandai berarti laju kenaikan harga berkurang, bukan harga barang otomatis menjadi lebih murah.
Dengan kata lain, masyarakat masih bisa menghadapi harga yang tinggi pada Oktober, tetapi kenaikannya berpotensi tidak setajam bulan sebelumnya.
Inilah kontra-narasi yang menarik dari kondisi inflasi saat ini: September berpotensi lebih panas, tetapi ekspektasi Oktober justru mulai mendingin.
BI Masih Waspada, Suku Bunga Ditahan 5,75%
Bank Indonesia juga masih menjaga keseimbangan antara inflasi, rupiah, dan pertumbuhan ekonomi.
Dalam RDG 22–23 September 2026, BI mempertahankan BI-Rate 5,75%, Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%.
BI menegaskan kebijakan tersebut sekaligus diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi 2026–2027 berada dalam sasaran 2,5% ± 1%.
Posisi ini menjadi penting jika tekanan pangan kembali meningkat atau harga komoditas global bergerak lebih tinggi.
Jadi, Bagaimana Prospek Inflasi Memasuki Oktober?
Gambaran besarnya cukup jelas.
September: inflasi berpotensi meningkat menuju sekitar 3,3%–3,35% yoy, terutama akibat tekanan pangan dan energi.
Oktober: belum berarti harga turun, tetapi ekspektasi kenaikan harga mulai melemah. IEH BI turun dari 155,2 menjadi 146,5.
Beberapa bulan berikutnya: pangan tetap menjadi risiko utama. El Niño, produksi, distribusi, serta harga komoditas global akan menjadi faktor yang menentukan apakah tekanan inflasi benar-benar mereda.
Karena itu, pertanyaan terbesar memasuki Oktober bukan lagi sekadar berapa angka inflasi September.
Yang lebih penting adalah apakah tekanan pangan hanya bersifat sementara atau mulai menjadi tren baru.
Jika pasokan pangan kembali normal, tekanan inflasi berpeluang mereda. Namun jika cuaca, distribusi, dan harga komoditas global kembali mengganggu pasokan, angka inflasi bisa kembali menghadapi tekanan.
Untuk sementara, sinyal yang tersedia menunjukkan satu hal: inflasi September mungkin lebih panas, tetapi Oktober mulai membawa harapan bahwa tekanan harga tidak semakin membesar.
(reuters/ivestor/bps/bi/*/hm27)









































