Wednesday, September 30, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Sering Sarapan Gorengan, Berbahayakah bagi Kesehatan? Ini Kata Penelitian

Mistar.idKamis, 1 Oktober 2026 pukul 06.01 WIB
sering_sarapan_gorengan_berbahayakah_bagi_kesehatan_ini_kata_penelitian

Ilustrasi makanan gorengan (Foto: AI)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Tempe goreng, tahu, bakwan, risol hingga pisang goreng menjadi pilihan sarapan yang cukup populer karena mudah ditemukan dan praktis disantap sebelum memulai aktivitas.

Namun, kebiasaan mengonsumsi gorengan pada pagi hari sering dikaitkan dengan berbagai kekhawatiran mengenai kesehatan. Lantas, apakah sarapan dengan gorengan memang lebih berbahaya dibandingkan mengonsumsinya pada siang atau malam hari?

Sejauh bukti ilmiah yang tersedia, belum ada dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa gorengan secara khusus menjadi lebih berbahaya hanya karena dikonsumsi saat sarapan.

Penelitian mengenai makanan yang digoreng justru lebih banyak melihat seberapa sering makanan tersebut dikonsumsi dan kaitannya dengan risiko penyakit dalam jangka panjang.

Risiko Kesehatan Lebih Berkaitan dengan Frekuensi

Salah satu penelitian yang sering menjadi rujukan adalah meta-analisis berjudul Fried-food consumption and risk of cardiovascular disease and all-cause mortality: a meta-analysis of observational studies yang diterbitkan dalam jurnal Heart pada 2021.

Penelitian Pei Qin dan sejumlah peneliti tersebut menganalisis berbagai studi observasional mengenai konsumsi makanan goreng dan kaitannya dengan penyakit kardiovaskular serta kematian.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok dengan konsumsi gorengan paling tinggi memiliki risiko kejadian kardiovaskular mayor sekitar 28 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan konsumsi paling rendah.

Risiko penyakit jantung koroner tercatat sekitar 22 persen lebih tinggi, sementara risiko gagal jantung sekitar 37 persen lebih tinggi.

Untuk stroke, analisis juga menunjukkan kecenderungan peningkatan risiko. Namun, hasil tersebut tidak memiliki tingkat kepastian statistik yang sama.

Di sisi lain, meta-analisis tersebut tidak menemukan hubungan yang jelas antara konsumsi gorengan dengan kematian akibat penyakit kardiovaskular maupun kematian dari semua penyebab.

Para peneliti menyebut konsumsi makanan digoreng mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Analisis juga menunjukkan pola dose-response, yaitu kecenderungan risiko meningkat seiring bertambahnya konsumsi.

Meski begitu, hasil tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Studi yang dianalisis memiliki perbedaan cukup besar dan terdapat kemungkinan bias, termasuk dalam hal mengingat serta mengelompokkan jumlah makanan goreng yang dikonsumsi.

Artinya, angka peningkatan risiko tersebut tidak berarti setiap orang yang makan gorengan otomatis mengalami peningkatan risiko penyakit dengan persentase yang sama.

Jenis Minyak dan Cara Menggoreng Juga Berpengaruh

Bukti lain berasal dari tinjauan ilmiah Fried Food Consumption and Cardiovascular Health: A Review of Current Evidence yang ditulis Taraka V. Gadiraju, Yash Patel, J. Michael Gaziano, dan Luc Djoussé.

Tinjauan yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients pada 6 Oktober 2015 itu mengevaluasi berbagai penelitian mengenai konsumsi makanan goreng dan kaitannya dengan penyakit kardiovaskular, diabetes, hipertensi, serta obesitas.

Hasil penelitian yang ditinjau tidak sepenuhnya seragam. Beberapa studi menemukan adanya hubungan antara konsumsi gorengan dan penyakit kronis, sedangkan penelitian lainnya tidak menemukan hubungan yang sama.

Namun, tinjauan tersebut mencatat adanya bukti mengenai risiko penyakit kronis yang lebih tinggi ketika makanan goreng dikonsumsi lebih sering, terutama empat kali atau lebih dalam sepekan.

Para peneliti juga menilai masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Salah satu alasannya, sejumlah studi belum memiliki informasi terperinci mengenai jenis minyak, suhu penggorengan, lama memasak, metode penggorengan, hingga penggunaan minyak secara berulang.

Faktor-faktor tersebut penting karena proses penggorengan dapat memengaruhi kandungan gizi makanan maupun senyawa yang terbentuk selama proses memasak.

Bukan Berarti Harus Menghindari Gorengan Sepenuhnya

Sarapan dengan tahu, tempe, bakwan atau pisang goreng sesekali tidak otomatis berarti buruk bagi kesehatan.

Hal yang lebih penting adalah melihat kebiasaan tersebut sebagai bagian dari pola makan secara keseluruhan. Frekuensi, jumlah yang dikonsumsi, metode pengolahan, serta makanan lain yang masuk ke tubuh perlu menjadi pertimbangan.

Jika gorengan hampir selalu menjadi menu sarapan, dikonsumsi dalam jumlah banyak, atau menjadi pilihan makanan utama setiap hari, kebiasaan tersebut patut dievaluasi.

Sebaliknya, pola makan yang lebih beragam dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi. Sarapan dapat dikombinasikan dengan sumber karbohidrat, protein, sayuran maupun buah sesuai kebutuhan masing-masing.

Dengan demikian, bukan waktu sarapan yang menjadi persoalan utama. Bukti yang ada lebih menyoroti pola konsumsi secara keseluruhan, terutama frekuensi dan jumlah gorengan serta bagaimana makanan tersebut diolah.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN