Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu per Kg, Jadi Ancaman Inflasi Sumut

Pedagang cabai dan bawang di Pasar Petisah. (foto:amita/mistar)
Medan, MISTAR.ID (1/10/2026) — Naiknya harga cabai di beberapa wilayah Sumatera Utara (Sumut) pada awal Oktober 2026 menjadi sorotan utama dan ancaman serius terhadap laju inflasi daerah.
Harga cabai rawit dan cabai merah eceran tembus Rp100.000 per kilogram (kg) dan membuat keresahan bagi ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan tren kenaikan harga terjadi merata dan cenderung naik.
"Berdasarkan pantauan, beberapa pasar tradisional di Deli Serdang, seperti Pasar Tanjung Morawa, Delimas, dan Bakaran Batu, harga cabai merah ditransaksikan Rp80.000 hingga Rp85.000 per kg, dan cabai rawit Rp90.000 hingga Rp95.000 per kg," katanya, Kamis (1/10/2026).
Kondisi terparah terjadi di Kabupaten Langkat, cabai rawit dibanderol Rp100.000 per kg. Harga cabai rawit juga di kisaran angka maksimal tersebut.
"Lonjakan harga ini memicu efek domino dan memengaruhi harga jenis cabai lainnya. Harga cabai hijau hari ini naik menjadi Rp60.000 per kg dan cabai caplak Rp96.000 per kg," ucapnya.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Kota Medan mengonfirmasi bahwa harga cabai merah adalah Rp84.000 per kg di Pasar Brayan dan cabai rawit Rp82.000 per kg di Pasar Petisah.
Gunawan menjelaskan, kenaikan harga cabai dipicu masalah fundamental terkait penyusutan pasokan yang dihadapkan pada cuaca ekstrem. Curah hujan yang tinggi di Sumatera Utara memicu gangguan produksi dan distribusi petani.
Iklim Sumut yang diguyur hujan deras, namun wilayah lain masih terdampak gelombang panas El Nino, membuat proyeksi harga menjadi sulit diukur.
"Krisis ini diperparah oleh masa panen yang berakhir di beberapa lumbung produksi cabai Sumatera Utara, sementara permintaan dari luar daerah justru terus berjalan konsisten," ujarnya.
Situasi ini otomatis menekan daya beli masyarakat. Di sektor bisnis, pelaku usaha kuliner, khususnya pedagang ayam penyet hingga rumah makan berskala besar, menjadi yang paling terpukul.
Sebelumnya, mereka harus memutar otak menghadapi mahalnya harga daging ayam. Kini, ongkos produksi kembali membengkak karena naiknya harga cabai.
Untuk menyiasati agar tidak rugi atau kehilangan pelanggan, pelaku usaha kuliner lebih memilih mengurangi porsi sambal yang disajikan daripada menaikkan harga jual.
"Di ranah rumah tangga, mahalnya bumbu dapur membuat ibu-ibu terpaksa mengubah menu makanan keluarga menjadi tidak terlalu bergantung pada komoditas cabai," tuturnya.
Gunawan memperingatkan, gejolak harga pangan menjadi pekerjaan rumah yang serius, karena dominasi cabai sebagai penyumbang utama inflasi tak bisa diabaikan begitu saja pada Oktober ini. (hm27)










































