Kadin: Ekspor Indonesia Masih Berprospek Positif hingga Akhir 2026

Ilustrasi. (Foto: Pradita Utama/detikFoto)
Jakarta, MISTAR.ID - Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Saleh Husin menilai ekspor Indonesia masih memiliki prospek positif hingga akhir 2026, terutama ditopang industri pengolahan yang menjadi tulang punggung ekspor.
"Kadin melihat ekspor masih memiliki prospek positif hingga akhir tahun, terutama didukung industri pengolahan yang menjadi backbone ekspor," ujar Saleh Husin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, impor diperkirakan tetap tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal. Namun, pertumbuhan impor perlu diikuti peningkatan produksi dan ekspor agar surplus perdagangan tetap terjaga.
Pada Januari-Juli 2026, ekspor Indonesia tumbuh 4,43 persen, sedangkan impor tumbuh 19,94 persen.
Saleh mengatakan, kenaikan impor saat ini lebih banyak mencerminkan penguatan aktivitas produksi dan investasi. Hal itu terlihat dari 91,33 persen impor Januari-Juli yang terdiri atas bahan baku atau penolong serta barang modal.
"Namun, pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat daripada ekspor tetap perlu diwaspadai," katanya.
Ia menegaskan, indikator yang perlu diperhatikan bukan hanya kenaikan impor, tetapi sejauh mana impor tersebut mampu meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas, dan ekspor industri.
Saleh menyebut sejumlah sektor yang berpotensi meningkatkan ekspor antara lain industri pengolahan bernilai tambah, makanan dan minuman, agroindustri, logam dan hilirisasi mineral, elektronika dan mesin, serta otomotif dan komponennya.
Sementara itu, industri padat karya seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur masih menghadapi tantangan berupa biaya produksi, produktivitas, teknologi, dan persaingan global.
"Fokusnya perlu bergeser dari ekspor berbasis komoditas menuju produk manufaktur dengan nilai tambah dan kandungan domestik yang lebih tinggi," ujarnya.
Untuk itu, Saleh mendorong pemerintah memastikan impor produktif diikuti investasi, peningkatan kapasitas dan produktivitas industri, serta ekspansi pasar ekspor.
Menurutnya, pemerintah juga perlu menjaga daya saing biaya energi dan logistik, menjamin ketersediaan bahan baku, memperkuat industri intermediate dan rantai pasok domestik, memberikan kepastian regulasi, memperluas akses pasar, serta mendorong hilirisasi.
"Dengan demikian, impor hari ini tidak berhenti sebagai pengeluaran devisa, tetapi menjadi kapasitas produksi dan ekspor Indonesia di masa depan," kata Saleh. (hm25/antara)
PREVIOUS ARTICLE
Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu per Kg, Jadi Ancaman Inflasi Sumut










































