Wednesday, September 30, 2026
home_banner_first
HIBURAN

1 Oktober 2026: Conjurig dan Lobang Buaya Tayang, Ada Angka 309 yang Bikin Film Hanung Bramantyo Jadi Sorotan

Mistar.idKamis, 1 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB
1_oktober_2026_conjurig_dan_lobang_buaya_tayang_ada_angka_309_yang_bikin_film_hanung_bramantyo_jadi_sorotan

1 Oktober 2026: Conjurig dan Lobang Buaya Tayang, Ada Angka 309 yang Bikin Film Hanung Bramantyo Jadi Sorotan. (foto ilustrasi:imdb/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (1/10/2026) — Ada yang tidak biasa di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026. Dua film dengan “hantu” sebagai daya tarik utama hadir bersamaan, tetapi membawa penonton ke dua dunia yang sama sekali berbeda.

Conjurig mengajak penonton masuk ke kehidupan cosplayer hantu di jalanan Bandung. Sementara Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah karya Hanung Bramantyo membawa cerita ke sebuah desa bernama Lobang Buaya dalam latar 1964, dengan kisah fiksi tentang pembunuhan misterius dan ketegangan sosial-politik, tepat 309 hari sebelum peristiwa 30 September 1965.

Tanggal rilis Lobang Buaya pun membuat film ini semakin menarik perhatian. Sebab, 1 Oktober berada tepat setelah tanggal yang selama puluhan tahun melekat kuat dalam ingatan sejarah Indonesia.

Namun, Hanung memastikan filmnya bukan remake atau versi baru film Pengkhianatan G30S/PKI.

Angka 309 Jadi Kunci Lobang Buaya

Angka 309 merupakan penanda waktu dalam konsep cerita: film menempatkan kisahnya 309 hari sebelum peristiwa 30 September 1965.

Lobang Buaya mengambil latar 1964, ketika Desa Lobang Buaya diguncang serangkaian pembunuhan misterius. Cerita berpusat pada Letnan Soegeng yang berusaha mengungkap siapa dalang di balik teror tersebut.

Di tengah penyelidikan, muncul isu tentang sosok gaib hingga konflik sosial dan politik yang membuat ketegangan di desa semakin meningkat.

Hanung menggunakan horor bukan hanya untuk menghadirkan rasa takut, tetapi juga sebagai cara membicarakan persoalan seperti kekuasaan, korupsi, penindasan, dan ketegangan masyarakat.

Dengan demikian, angka 309 berfungsi sebagai penanda waktu: penonton tidak dibawa langsung ke tragedi 1965, tetapi diajak melihat sebuah masyarakat sebelum tragedi tersebut terjadi.

Bukan Remake G30S/PKI, Ini Cerita Lobang Buaya

Kesamaan nama dengan lokasi bersejarah Lubang Buaya membuat film Hanung mudah dikaitkan dengan peristiwa 1965.

Namun, sutradara secara tegas membantah anggapan bahwa Lobang Buaya merupakan remake Pengkhianatan G30S/PKI.

“Ini bukan film G30S/PKI atau remake film tahun '84,” kata Hanung dalam konferensi pers pada Agustus 2026. Ia menjelaskan bahwa fokus film berada pada gesekan masyarakat desa dan persoalan “7 Setan Desa”, bukan pada penculikan para jenderal.

Film ini merupakan karya fiksi dengan latar sosial-politik 1964. Desa Lobang Buaya dalam film juga merupakan ruang cerita fiktif.

Karena itu, penonton perlu membedakan antara nama dan konteks sejarah yang menjadi latar dengan cerita fiksi yang dibangun Hanung.

Kenapa Hanung Memilih Horor?

Pilihan genre menjadi salah satu bagian paling menarik dari Lobang Buaya.

Hanung mengatakan horor dipilih karena ia melihat ada rasa takut kolektif ketika masyarakat Indonesia membicarakan periode 1965. Ketakutan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam cerita melalui pembunuhan misterius, unsur supernatural, konflik kekuasaan, dan penindasan.

Artinya, “hantu” dalam Lobang Buaya bukan satu-satunya sumber teror.

Film ini juga mencoba memperlihatkan bagaimana manusia, kekuasaan, dan konflik sosial dapat menjadi sesuatu yang menakutkan.

Pendekatan tersebut membuat Lobang Buaya berada di persimpangan antara film horor, misteri, thriller, dan drama berlatar sejarah.

Conjurig: Ketika Hantu Justru Bukan untuk Menakut-nakuti

Di hari yang sama, Conjurig menawarkan pengalaman yang jauh berbeda.

Film garapan Tubagus Deddy ini merupakan drama komedi yang terinspirasi dari fenomena cosplayer hantu di Bandung.

Cerita mengikuti Piit, pemuda yang menjadi cosplayer pocong di kawasan Alun-Alun Bandung setelah kehilangan pekerjaan dan mengalami patah hati. Ia kemudian bertemu Tamy, cosplayer bergaya gothic yang menyimpan persoalan identitasnya sendiri.

Alih-alih menjadikan hantu sebagai sumber teror, Conjurig menggunakan kostum hantu sebagai “topeng” bagi manusia yang sedang berusaha menyembunyikan masalah hidupnya.

Film ini terinspirasi komunitas Comjurig, yang menghadirkan cosplayer dengan karakter hantu di sejumlah kawasan Bandung, termasuk Asia Afrika dan Braga.

Dua Film, Dua Makna Ketakutan

Di sinilah pertemuan Conjurig dan Lobang Buaya pada 1 Oktober 2026 menjadi menarik.

Keduanya sama-sama menggunakan citra hantu, tetapi maknanya berbeda.

Conjurig menjadikan hantu sebagai kostum, pekerjaan, ruang pelarian, sekaligus cara manusia mencari kembali dirinya.

Sebaliknya, Lobang Buaya menjadikan horor sebagai kendaraan untuk memasuki misteri pembunuhan, konflik sosial, kekuasaan, dan memori sejarah.

Jadi, menyebut 1 Oktober sebagai “hari dua film horor” memang terdengar menarik, tetapi kurang tepat jika dipahami secara genre.

Conjurig adalah drama komedi, sedangkan Lobang Buaya menggabungkan horor, misteri, thriller, dan latar sosial-politik 1964.

Mengapa 1 Oktober Membuat Lobang Buaya Semakin Disorot?

Ada permainan konteks yang membuat tanggal rilis Lobang Buaya sulit diabaikan.

Film ini membawa penonton 309 hari sebelum tragedi 30 September 1965, tetapi justru mulai tayang pada 1 Oktober 2026.

Dengan kata lain, ketika publik berada pada tanggal yang sangat dekat dengan memori sejarah tersebut, film Hanung justru mengajak penonton mundur ke masa sebelumnya.

Bukan untuk mengulang cerita G30S, melainkan untuk melihat kehidupan masyarakat sebelum tragedi 1965 melalui cerita fiksi dan pendekatan horor.

Inilah yang menjadi daya tarik utama film tersebut: bukan hanya apa yang terjadi pada 1965, tetapi seperti apa ketegangan yang dibangun sebelum titik balik sejarah itu.

Film Hanung Ini Sudah Berkeliling Festival

Sebelum masuk ke bioskop Indonesia, Lobang Buaya lebih dulu mendapat perhatian di festival internasional, termasuk International Film Festival Rotterdam (IFFR) dan Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN).

Kehadiran di dua festival tersebut menjadi bagian dari perjalanan film sebelum akhirnya dijadwalkan tayang serentak di Indonesia pada 1 Oktober 2026.

Sementara itu, Conjurig memilih jalur yang lebih dekat dengan fenomena budaya populer lokal: kehidupan cosplayer hantu di jalanan Bandung.

Dua film tersebut akhirnya bertemu pada tanggal yang sama, tetapi membawa cerita dan pendekatan yang sangat berbeda.

1 Oktober dan Angka 309: Bukan Sekadar Kebetulan Promosi

Pada akhirnya, daya tarik Lobang Buaya bukan semata-mata karena menggunakan nama yang sudah sangat kuat dalam ingatan publik.

Angka 309, latar 1964, tanggal tayang 1 Oktober, dan penegasan bahwa film ini bukan remake G30S/PKI menjadi rangkaian elemen yang membuat film Hanung Bramantyo ramai diperbincangkan.

Di sisi lain, Conjurig menawarkan kontras: hantu bukan untuk membuat penonton bersembunyi di balik kursi, melainkan untuk memperlihatkan manusia yang sedang mencoba bangkit dari persoalan hidup.

Maka, 1 Oktober 2026 menghadirkan dua wajah “hantu” di bioskop Indonesia.

Satu memakai pocong untuk menyembunyikan luka.

Satu lagi menggunakan horor untuk membuka kembali pertanyaan tentang masyarakat dan sejarah sebelum 1965.

Dan di antara keduanya, ada satu angka yang paling mengundang rasa penasaran: 309.

(21cineplex/lsf/rri/idn/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN