Dari Pangkalan Ojek ke Istana: Ketika Abang Ojol dan Damkar Jadi Tamu Negara di HUT RI ke-81

Teks Foto: Sejumlah pengemudi ojek pangkalan di Stasiun Juanda mendapat undangan Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Kepresidenan. (Foto: Antara/HO-BPMI Sekretariat Presiden)
Jakarta, MISTAR.ID (16/8/2026) – Pagi itu mereka bukan lagi menunggu penumpang di pangkalan atau siaga di pos damkar. Zulkifli, Mulyadi, Wasuri, Gatot, dan Ruly melangkah masuk gerbang Istana Kepresidenan.
Dasi rapi, baju batik, dan undangan resmi di tangan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, pekerja-pekerja "garis depan" kota Jakarta itu duduk sebagai tamu negara di Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, Minggu (16/8/2026).
Tahun ini, Istana sengaja membuka pintunya lebih lebar. Bukan hanya pejabat dan duta besar. Pengemudi ojek pangkalan, penjaga warung kopi 24 jam, hingga petugas pemadam kebakaran ikut diundang.
“25 Tahun Lihat Istana dari Jauh, Kini Masuk Jadi Tamu”
Zulkifli sudah 25 tahun mangkal sebagai ojek pangkalan di Stasiun Juanda, Jakarta Pusat. Setiap hari ia hilir mudik mengantar orang, dan dari kejauhan sering melihat Istana.
“Saya bersyukur sekali dapat undangan ke Istana. Terima kasih Bapak Presiden,” katanya dengan mata berbinar.
Hal sama dirasakan Mulyadi. 28 tahun ia mangkal di tempat yang sama. Undangan ini adalah yang pertama baginya.
“Bersyukur sekali. Mudah-mudahan di usia 81 tahun ini Indonesia semakin maju dan berkembang,” ucapnya pelan.
Wasuri punya cerita lain. Sudah 3 tahun ia jaga Kedai Kopi Oke dengan sistem sif 24 jam. Ketika nama dan alamat kedainya muncul di surat undangan, ia tidak percaya.
“Senang, karena baru kali ini. Pengen tahu rasanya masuk istana kayak gimana. Saking pengennya, takut nggak bisa tidur,” tuturnya sambil tertawa.
Bagi Wasuri, undangan itu lebih dari sekadar upacara. Itu bukti bahwa kerja-kerja kecil di balik meja kopi juga dilihat negara.
Kehormatan untuk Seragam OranyeUndangan juga sampai ke Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta.
Gatot Santoso, 15 tahun bertugas di bidang operasi, dan Ruly Nur Efendi, 20 tahun di bidang penyelamatan, mewakili seragam oranye.
“Perasaan sangat luar biasa. Sebuah kehormatan bisa diundang ke Istana yang megah. Mudah-mudahan tahun depan teman-teman kami lebih banyak lagi yang diundang,” kata Ruly.
Gatot menyebut ini kebanggaan untuk seluruh keluarga besar damkar DKI. “Kami sudah dipercaya untuk mengikuti upacara kemerdekaan di Istana,” ujarnya.
Istana untuk SemuaDi tengah derap pasukan dan dentum meriam, ada wajah-wajah baru di kursi tamu.
Wajah yang biasanya ada di jalanan, di balik gerobak kopi, atau di balik truk pemadam.Mereka datang bukan sebagai penonton. Mereka datang sebagai bagian dari Indonesia yang merayakan.
Karena kemerdekaan, memang seharusnya dirasakan semua. Dari pangkalan ojek, sampai ke halaman Istana.(Antara/hm02)






















