Wednesday, November 4, 2026
home_banner_first
MEDAN

Penghasilan Suami Tak Cukup, Istri Nelayan di Belawan Terpaksa Jadi PRT

Mistar.idRabu, 4 November 2026 pukul 16.57 WIB
penghasilan_suami_tak_cukup_istri_nelayan_di_belawan_terpaksa_jadi_prt

Para kaum istri nelayan di Lorong Sedar, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Belawan, Kota Medan, akan kembali pada rutinitas rumah seperti, menjaga anak sembari menunggu suami pulang dari laut. (Foto: Junaidin Zai/Mistar)

Medan, MISTAR.ID - Penghasilan suami dari melaut tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi ini memaksa sejumlah istri nelayan di Lorong Sedar, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Belawan, pergi membersihkan rumah orang lain, mencuci pakaian, memasak, hingga mengerjakan berbagai pekerjaan domestik.

Pun begitu, kata Ani (52), upah yang diterima mereka sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) tidak mampu menutupi kebutuhan rumah. "Gaji saya Rp300 ribu sebulan, uang rumah Rp700 ribu, enggak cukuplah," kata Ani yang sudah hampir sepuluh tahun menjadi PRT ini, Rabu (4/11/2026).

"(Upah) itu belum dihitung sama pengeluaran belanja bahan makanan," sambungnya.

Seandainya, kata Ani, apabila dia bekerja ke pusat kota kemungkinan upah yang diterima dapat lebih besar dari yang sekarang, akan tetapi itu bukan menjadi pilihannya.

Alasannya, karena beberapa pertimbangan seperti memasak, mencuci, hingga merawat anak, lanjut Ani, tidak mungkin diserahkan kepada orang lain. Karena itu, ia hanya bekerja di rumah tetangga saja. "Mau gimana lagi. Beginilah kehidupan kami di sini," katanya.

Bagi kaum perempuan di sana, para istri yang bekerja sebagai PRT adalah hal yang biasa. Kondisi itu terjadi ketika laut tak lagi mampu memberikan kepastian penghidupan, akibatnya beban untuk mempertahankan ekonomi keluarga ikut berpindah ke pundak para istri.

Para istri sadar dengan keadaan yang meraka alami. Tidak ada pilihan lain. Bahkan, jika bisa, rencana untuk memiliki rumah sendiri ditunda dahulu. Di lorong Sedar, warga tinggal di rumah panggung yang berdempetan. Tidak ada pilihan lain meski rumah mereka kerap terendam banjir.

Sudah lebih 20 tahun Iyah (47) dan suaminya, Lukman (51), tinggal di sana. Saban hari setelah menyiapkan bekal makanan suaminya, Iyah akan pergi mencuci pakaian tetangga.

Tak ada ubahnya dengan Ani, kebutuhan dasar rumah tangga adalah hal yang paling sering dikeluhkan. "Keseharian saya memang begini, cukup atau enggak, dicukupkan lah," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Medan, jumlah penduduk miskin di Kota Medan pada 2026 tercatat sebanyak 164,48 ribu jiwa atau 6,92 persen. Angka tersebut turun dibandingkan 2025 yang mencapai 7,25 persen.

Sementara itu, garis kemiskinan Kota Medan pada 2026 tercatat sebesar Rp806.234 per kapita setiap bulan, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp721.547.

Pemerintah Kota Medan memperkirakan terdapat sekitar 9.000 nelayan di wilayahnya. Pada 2026, sebanyak 2.000 nelayan tercatat sebagai penerima perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, sebanyak 500 nelayan menerima bantuan cadangan pangan berupa beras dari pemerintah.

Data kemiskinan BPS tersebut mencakup seluruh penduduk Kota Medan dan tidak merinci jumlah keluarga nelayan miskin di Kecamatan Medan Belawan. (Junaidin Zai)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN