Thursday, August 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Di Sudut Pasar Pekan Labuhan: Cerita Bu Mimi Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Beras

Mistar.idKamis, 20 Agustus 2026 pukul 15.07 WIB
di_sudut_pasar_pekan_labuhan_cerita_bu_mimi_bertahan_di_tengah_lonjakan_harga_beras_

Pedagang ayam di Pasar V Marelan sepi pembeli akibat harga yang mahal. (Foto: Kamaluddin/Mistar.id)

news_banner

Medan, MISTAR.ID – Hari itu masih pagi, terlihat antrean kaum ibu di depan gerai beras Bulog di sudut pasar Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, sudah ‘mengular’.

Di barisan paling depan ada Bu Mimi, 38 tahun, ibu tiga anak. Di tangannya tergenggam uang pas Rp56.000 untuk membeli sekarung beras kemasan 5 kg.

"Sekarang beras eceran sudah Rp18.000 sekilo, Bang. Mana sanggup," ujarnya, Kamis (20/8/2026).

Kalimat itu ia ucapkan sambil mengusap jidat yang sedikit berpeluh. Baginya, beras Bulog seharga Rp11.000 per kilo menjadi pilihan. Itu kebutuhan.

Bu Mimi bukan orang baru dalam soal berhemat. Sehari-hari ia membuat kue untuk dititipkan ke warung-warung.

Suaminya kurir paket online. Tapi dengan harga hari ini, semua hitungan berubah. Kebutuhan hidup keluarganya kini mencapai Rp120.000 per hari. Itu sudah termasuk ongkos sekolah tiga anaknya.

"Ayam sekarang Rp42.000 sekilo. Ikan nila Rp30.000. Ikan lain-lain di atas Rp30.000 semua," katanya pelan.

Dengan beras Bulog, ia masih bisa menyisihkan uang untuk lauk dan jajan anak. Tanpa itu, dapurnya bisa dipastikan akan menyedihkan.

Dalam hal ini, pihak pemerintah masih membatasi pembelian beras Bulog hanya 2 karung per orang. Begitupun, bu Mimi bersyukur. Setidaknya bisa beli dua karung beras atau 10 kg cukup untuk kebutuhan dengan makan hemat selama seminggu.

Di Pasar V Marelan, pedagang ayam hanya bisa geleng kepala. Dagangannya sepi. "Harga sekarang Rp42.000 per kilo. Sama kayak menjelang Lebaran kemarin," kata seorang pedagang.

Pembeli datang, bertanya, lalu pergi. Banyak yang beralih ke tahu, tempe, atau ikan yang lebih murah. Ikan laut? Harganya sudah di atas Rp30.000 per kilogram. Ikan nila jadi satu-satunya pilihan "murah" masih bisa Rp30.000/kg.

Di tengah kenaikan harga, Bu Mimi hanya punya satu permintaan, harga kembali normal. "Pemerintah tolong bantu kami. Kami orang kecil ini yang paling kena dampaknya," ucapnya.

Baginya, naiknya harga beras bukan sekadar soal angka. Itu soal anaknya bisa sarapan atau tidak. Soal kue yang bisa ia produksi atau tidak. Soal apakah besok masih bisa antre lagi atau tidak.

Di ujung antrean, Bu Mimi menenteng dua karung beras. Bebannya berat. Tapi setidaknya, untuk seminggu ke depan, keluarganya masih bisa makan.(Kamaluddin/hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN