Monday, October 5, 2026
home_banner_first
MEDAN

Kritis Akibat Sampah, Geber’s Ajak Pemuda dan Warga Bantaran Selamatkan Ekosistem Sungai Deli

Mistar.idSenin, 5 Oktober 2026 pukul 18.23 WIB
kritis_akibat_sampah_gebers_ajak_pemuda_dan_warga_bantaran_selamatkan_ekosistem_sungai_deli_

Pelaksanaan kegiatan bersih-bersih dan pertunjukan seni di Sungai Deli (Foto: Geber’s/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID (5/10/2026) – Melihat kondisi Sungai Deli yang semakin kritis akibat penumpukan sampah domestik dan alih fungsi lahan di daerah hulu, Kolektif Gerakan Bersih Sungai (Geber’s) melakukan aksi lingkungan dan kebudayaan di Sanggar Anak Sungai Deli (Sasude).

Aksi yang bertajuk ‘Menelusuri Arus, Merespon Ruang, Merekam Aksi’ itu dilakukan dalam rangka memperingati Hari Sungai Sedunia (World River Day) 2026, sekaligus mendorong kepedulian publik terhadap keberlanjutan ekosistem sungai di Kota Medan.

Koordinator Gerakan Bersih Sungai, Lukman Hakim Siagian menegaskan bahwa momentum Hari Sungai Sedunia harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang berdampak langsung bagi kelestarian sungai dan warga sekitar.

“Menelusuri Arus artinya kita menelusuri dari mana datangnya sampah. Merespon Ruang berarti kita membela warga bantaran yang menjadi penjaga sungai. Dan Merekam Aksi artinya kita mendokumentasikan kegiatan dan karya ini sebagai bukti kepedulian anak muda Medan kepada Sungai Deli,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (5/9/2026).

Lukman menjelaskan bahwa Sungai Deli merupakan satu dari tiga sungai besar yang melintasi Kota Medan dan bermuara ke Selat Malaka. Kondisi yang semakin kritis karena sampah domestik dan alih fungsi lahan tersebut, kata dia, membuat sungai tersebut butuh perhatian warga serta pemerintah.

Ia menekankan bahwa menjaga kelestarian sungai bukan tugas dari satu kelompok saja, melainkan tanggung jawab bersama. Dengan pelaksanaan kegiatan ini, ia berharap generasi muda dapat belajar peduli akan lingkungan sekitar terutama sungai.

“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sungai. Sungai Deli bukan sekadar tempat mengalirnya air atau buangan limbah, tetapi juga warisan budaya dan ekosistem yang harus kita rawat bersama untuk generasi mendatang,” tuturnya.

Rangkaian kegiatan festival yang disebut akan berlangsung hingga 10 Oktober 2026 itu turut melibatkan warga bantaran, mahasiswa, pelajar hingga para seniman dan komunitas lainnya. Tak hanya pembersihan sampah (clean up), ada juga aksi lingkungan lainnya seperti susur sungai dan mural.

Kemudian ada perlombaan anak dengan pelaksanaan workshop pembuatan gantungan kunci dari sampah, pertunjukan seni dan refleksi, pembuatan film dan diskusi publik yang menghadirkan narasumber dari Yayasan Lentera Pertiwi Sumatera & IKAHUT USU, dan Himpunan Mahasiswa Medan.

Puluhan kolaborator yang juga turut mendukung di antaranya Lingkar Cukil, Ruang Asa, Tiki Bar Coffee & Toba, dan komunitas kreatif Medan lainnya. Seluruh rangkaian acara menerapkan prinsip zero single-use plastic dengan menyediakan stasiun isi ulang air minum (water station) bagi para peserta. (hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN