Pecel Bu Erna, Menu Sederhana yang Dinantikan di depan Gedung DPRD Sumut

Pedagang pecel, Erna, saat melayani para pembeli di depan Gedung DPRD Sumut. (foto: Ari/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas Gedung DPRD Sumatera Utara (Sumut), ada satu sudut sederhana yang justru menghadirkan kehangatan tersendiri saat waktu makan siang tiba. Bukan ruang rapat atau lobi megah, melainkan lapak kecil milik Bu Erna, penjual pecel yang setia menyajikan cita rasa rumahan bagi para pegawai gedung rakyat.
Setiap hari kerja, Senin hingga Jumat, perempuan berusia lebih dari 50 tahun itu hadir di depan Gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan. Dengan senyum ramah, ia mulai menggelar dagangannya sejak pukul 12.00 WIB hingga 16.00 WIB.
“Setiap pukul 12.00 sampai 16.00 WIB saya berjualan. Alhamdulillah, para PNS dan staf DPRD ini sudah banyak yang menjadi langganan saya,” ujarnya pada Mistar saat ditemui, Senin (13/4/2026).
Lapaknya jauh dari kesan mewah. Ia hanya mengandalkan sebuah sepeda motor bebek yang menjadi teman setianya dari rumah hingga lokasi berjualan. Namun dari kesederhanaan itulah, Bu Erna menggantungkan harapan.
Baginya, setiap bungkus pecal yang terjual bukan sekadar transaksi, melainkan bagian dari perjuangan hidup. Dari hasil berjualan, ia mencukupi kebutuhan keluarga, membiayai sekolah anak, hingga menaruh harapan agar kelak anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.
“Saya usaha ini untuk penuhi kebutuhan rumah, biaya sekolah anak, dan kehidupan sehari-hari. Harapannya, dari sini anak bisa sekolah sampai kuliah,” katanya.
Dalam sehari, Bu Erna mampu meraup omzet sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000. Dengan harga yang ramah di kantong, mulai dari Rp5.000 hingga Rp15.000 per porsi, dagangannya menjadi pilihan favorit banyak pegawai.
“Mulai lima ribu sudah bisa menikmati pecel saya. Kalau nasi pakai lauk Rp10.000 sampai Rp15.000. Kalau bersisa, saya lanjut keliling lagi jualannya sore hari,” ucapnya.
Namun, dibalik kelancaran rezeki yang ia jalani, terselip kekhawatiran. Lokasinya yang berada di depan gedung DPRD Sumut kerap bersinggungan dengan aksi unjuk rasa. Situasi yang tidak menentu membuatnya harus lebih berhati-hati.
“Saya sudah lebih dari dua tahun jualan di sini. Kalau ada unjuk rasa, saya agak cemas. Kadang tidak jualan di tempat, lebih pilih keliling saja. Takut kalau situasi jadi ricuh,” tuturnya.
Ia menyampaikan, selain para staf dan pegawai yang membeli pecalnya, beberapa anggota DPRD Sumut juga pernah membeli dagangannya. Salah satunya ialah Rahmansyah Sibarani.
“Beberapa anggota dewan ada juga yang beli. Kemarin ada Pak Rahmansyah, dan ada beberapa dewan yang saya kurang kenal identitasnya. Tetapi saya senang karena mereka suka dengan dagangan saya,” ujarnya.
Meski begitu, kehadiran Bu Erna tetap dirindukan. Bagi para pelanggan, pecal buatannya bukan sekadar makanan pengganjal perut, tetapi juga rasa yang akrab dan menenangkan.
Para peminatnya terdiri dari para ASN, staf P3K, Security, Cleaning Service hingga para mahasiswa magang. Salah satu pelanggan setianya, Salsa, mengaku hampir setiap siang mencari pecal Bu Erna.
“Kalau siang, pasti kami nyari pecal ini. Selain enak, ada gorengannya, harganya juga terjangkau di tengah kebutuhan makan yang makin naik,” ucapnya.
Bumbu kacang racikan Bu Erna yang khas, berpadu dengan sayuran segar dan pelengkap sederhana, seolah menjadi pengikat cerita di antara kesibukan para pegawai. Dari lapak kecil itu, kehangatan tercipta bukan hanya dari rasa, tetapi juga dari ketulusan.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya seporsi pecal. Namun bagi Bu Erna, setiap bungkus yang terjual adalah harapan tentang kerja keras, ketekunan, dan keyakinan bahwa rezeki akan selalu menemukan jalannya. Di depan Gedung DPRD Sumut itu, kisah sederhana tentang perjuangan hidup terus mengalir, setulus rasa dalam setiap sajian pecel Bu Erna.
NEXT ARTICLE
Alasan Mengapa Harga Kaviar Sangat Fantastis

























