Minum Obat Depresi atau Hipertensi? Waspadai Risiko saat Cuaca Panas

Ilustrasi. (foto: nano banano/mistar)
London, MISTAR.ID - Sejumlah obat yang umum digunakan untuk mengatasi depresi, ADHD, tekanan darah tinggi hingga penyakit jantung diketahui dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat cuaca panas.
Dilansir BBC, para dokter memperingatkan bahwa beberapa jenis obat dapat memengaruhi kemampuan tubuh mengatur suhu. Risiko tersebut menjadi semakin penting seiring gelombang panas yang makin sering dan intens.
Obat antidepresan seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) dan serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI), misalnya sertraline, fluoxetine, escitalopram dan venlafaxine, dapat memengaruhi pusat pengaturan suhu tubuh di otak.
Psikiater asal Amerika Serikat dan perwakilan American Psychiatric Association di Medical Society Consortium on Climate and Health, Robert Feder, menjelaskan, peningkatan serotonin di hipotalamus dapat mengganggu pengaturan suhu tubuh dan memicu keringat berlebihan. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit.
"Hal itu menjadi masalah yang lebih berat ketika seseorang sudah mengalami dehidrasi akibat suhu tinggi," ujar Feder.
Jenis antidepresan trisiklik juga dapat memengaruhi produksi keringat. Obat tersebut bisa memicu keringat berlebihan, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat menghambat produksi keringat sehingga tubuh lebih sulit melepaskan panas.
Selain obat untuk gangguan mental, sejumlah obat tekanan darah dan jantung juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan saat cuaca panas.
Obat diuretik, ACE inhibitor dan angiotensin II receptor blockers (ARB) dapat meningkatkan risiko ketidakseimbangan elektrolit. ACE inhibitor dan ARB juga dapat memengaruhi mekanisme tubuh yang memicu rasa haus.
Dokter layanan primer Logan Harper mengatakan, kombinasi efek tersebut dapat menyebabkan dehidrasi berat hingga meningkatkan risiko gangguan ginjal, serangan jantung dan kerusakan organ lainnya.
Sementara itu, beta blocker dapat mengurangi aliran darah ke kulit sehingga kemampuan tubuh melepaskan panas menjadi kurang efektif.
Risiko lebih tinggi terjadi pada kelompok lanjut usia karena mereka cenderung mengonsumsi beberapa jenis obat sekaligus dan secara alami lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat panas.
Meski demikian, dokter mengingatkan pasien agar tidak menghentikan konsumsi obat secara sepihak. Perubahan dosis maupun penghentian obat harus terlebih dahulu dikonsultasikan dengan tenaga medis.
Pengguna obat-obatan tersebut disarankan mencukupi kebutuhan cairan, menghindari paparan sinar matahari pada jam-jam terpanas, serta mengenali gejala serius akibat paparan panas.
Gejala seperti kebingungan, perubahan perilaku atau penurunan kesadaran dapat menjadi tanda heat stroke atau sengatan panas yang membutuhkan penanganan medis segera. (*)
- Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan bukan pengganti saran medis profesional. Konsultasikan dengan dokter jika memiliki kekhawatiran terkait kondisi kesehatan atau penggunaan obat.
























