Gurun Terkering di Dunia Mendadak Berbunga, Ini Sebabnya

Gurun Atacama di Chile berubah menjadi hamparan bunga warna-warni setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut. (Foto: Javier Torres via Science Alert)
Chile, MISTAR.ID - Gurun Atacama di Chile berubah menjadi hamparan bunga warna-warni setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut. Fenomena yang dikenal sebagai desierto florido atau "gurun berbunga" itu tahun ini mencakup area sekitar 17.000 kilometer persegi.
Pemandangan bunga berwarna ungu, merah muda, putih, merah hingga kuning bermekaran di antara lanskap Gurun Atacama yang biasanya tandus. Luasan tersebut menjadikan fenomena desierto florido tahun ini sebagai salah satu yang paling ekstensif di Atacama sejak 1997.
Mengutip Live Science, kemunculan bunga dipicu curah hujan yang jauh lebih tinggi dari biasanya yang berkaitan dengan fenomena Super El Nino. Hujan tersebut membuat benih dan umbi tanaman yang selama bertahun-tahun berada dalam kondisi dorman kembali aktif.
Benih dan umbi berbagai tanaman memang dapat bertahan di bawah permukaan tanah Gurun Atacama dalam kondisi kering. Ketika air, suhu, dan kelembapan berada pada kondisi yang sesuai, tanaman mulai berkecambah dan tumbuh dalam waktu relatif singkat.
Setelah memperoleh cukup air, tanaman tumbuh, berbunga, menghasilkan biji baru, kemudian menyelesaikan siklus hidupnya sebelum kondisi gurun kembali kering.
"Ini adalah fenomena unik, terdapat lebih dari 200 spesies tanaman," kata Jorge Carabantes, Kepala Departemen Kawasan Lindung pada National Forest Corporation (CONAF) Chile.
Sejumlah tanaman yang terlihat dalam fenomena tersebut antara lain pata de guanaco, ananuca, suspiro de campo, serta garra de leon atau lion's claw. Garra de león merupakan spesies endemik kawasan Atacama dan menjadi salah satu ikon desierto florido.
Hujan tidak hanya mengaktifkan benih dan umbi tanaman. Laporan AP menyebut sejumlah organisme lain yang berada dalam kondisi dorman, termasuk telur beberapa jenis invertebrata dan reptil, juga dapat kembali aktif setelah kondisi lingkungan mendukung.
Hujan Langka Picu Ledakan Kehidupan
Gurun Atacama dikenal sebagai salah satu wilayah terkering di Bumi. Sebagian wilayahnya menerima curah hujan yang sangat sedikit sepanjang tahun.
Namun, kondisi tersebut dapat berubah ketika pola atmosfer dan laut dipengaruhi fenomena El Nino. Perubahan suhu permukaan laut di Pasifik tropis dapat memengaruhi pola atmosfer dan curah hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk pantai barat Amerika Selatan.
Pada tahun ini, sejumlah wilayah di utara Chile mengalami hujan deras. Beberapa lokasi bahkan mencatat curah hujan sekitar 190 milimeter, jumlah yang sangat besar untuk kawasan yang biasanya sangat kering.
Air hujan yang meresap ke dalam tanah kemudian memicu perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman.
Penelitian mengenai respons flora Gurun Atacama dan Peru terhadap fenomena El Nino pada 1982-1983 juga menunjukkan bahwa hujan akibat El Nino dapat memicu pembungaan besar di kawasan gurun tersebut.
Fenomena serupa bukan berarti Gurun Atacama berubah secara permanen menjadi padang rumput. Ledakan bunga hanya berlangsung sementara dan akan berakhir ketika kondisi kering kembali mendominasi.
Ketika musim kering tiba, tanaman akan layu dan menghilang dari permukaan. Sebagian tanaman kemudian meninggalkan benih atau umbi di dalam tanah untuk kembali berada dalam kondisi dorman.
Strategi tersebut menjadi salah satu cara tanaman bertahan di lingkungan ekstrem. Alih-alih terus tumbuh dan kehilangan air selama periode kering, tanaman menyimpan benih atau struktur bawah tanah hingga hujan dalam jumlah cukup kembali terjadi.
Setelah mendapatkan air, tanaman dapat tumbuh, berbunga dan bereproduksi dalam waktu relatif singkat. Siklus tersebut memungkinkan flora bertahan di salah satu lingkungan paling kering di dunia.
Fenomena desierto florido juga menjadi daya tarik bagi wisatawan dan fotografer. Gurun yang biasanya didominasi tanah dan bebatuan berubah menjadi hamparan bunga dengan latar pegunungan Atacama.
Namun, pemandangan tersebut memiliki umur yang terbatas. Banyak bunga diperkirakan menghilang menjelang akhir musim semi di belahan Bumi selatan, kemudian meninggalkan benih dan umbi yang kembali menunggu hujan berikutnya.
Fenomena Atacama tahun 2026 menunjukkan bagaimana hujan langka dapat memicu ledakan kehidupan dalam ekosistem yang sangat kering. Gurun tersebut tidak benar-benar kehilangan kehidupan selama musim kering, melainkan menyimpan benih dan organisme yang menunggu kondisi lingkungan yang tepat untuk kembali aktif. (hm25/detikcom)
PREVIOUS ARTICLE
AI Milik Meta Tembus 5 Juta Unduhan dalam 3 MingguNEXT ARTICLE
Peneliti Temukan Tanah Hitam di Bahtera Nuh













































