Skrining Kanker Kolorektal Turunkan Risiko Kematian hingga 43 Persen

Ilustrasi. (foto: ai/mistar)
Stockholm, MISTAR.ID - Orang yang mengikuti skrining kanker kolorektal menggunakan tes sampel feses di rumah tercatat memiliki risiko kematian akibat penyakit tersebut 43 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak mengikuti skrining.
Temuan tersebut berasal dari penelitian Karolinska Institutet dan UmeƄ University di Swedia terhadap 376.511 orang dengan masa pemantauan hingga 14 tahun. Hasilnya diterbitkan dalam JAMA Network Open, seperti dilansir ScienceDaily, Jumat (21/8/2026).
Dalam skrining ini, peserta menerima perangkat untuk mengambil sampel feses di rumah. Sampel diperiksa untuk mendeteksi darah dalam jumlah sangat kecil yang tidak terlihat dengan mata. Jika ditemukan darah, peserta ditawarkan pemeriksaan lanjutan, umumnya kolonoskopi.
Peneliti membandingkan orang yang mendapat undangan skrining pada 2008-2012 dengan kelompok kontrol. Setelah memperhitungkan sejumlah faktor, mereka yang mendapat undangan skrining memiliki risiko kematian akibat kanker kolorektal 26 persen lebih rendah. Sementara pada mereka yang benar-benar mengikuti skrining, risikonya 43 persen lebih rendah.
Selama penelitian, tercatat 1.668 kematian akibat kanker kolorektal. Peneliti juga menemukan sekitar sepertiga orang yang ditawari skrining tidak mengirimkan sampel, meskipun tes diberikan secara gratis dan relatif sederhana.
"Studi kami menyoroti pentingnya mengikuti skrining kanker kolorektal dan menunjukkan bahwa skrining benar-benar dapat menyelamatkan nyawa," ujar Johannes Blom dari Karolinska Institutet.
Penelitian sebelumnya terhadap program yang sama menunjukkan kelompok yang mendapat undangan skrining memiliki risiko kematian 14 persen lebih rendah. Dengan masa pengamatan yang lebih panjang, penelitian terbaru menunjukkan manfaat yang lebih besar, terutama pada mereka yang benar-benar menjalani skrining.
Meski demikian, peneliti mengingatkan angka tersebut merupakan estimasi yang menggunakan sejumlah penyesuaian statistik untuk mengurangi potensi bias, sehingga masih terdapat tingkat ketidakpastian. (*)























