Thursday, August 20, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Lingkar Pinggang Dinilai Lebih Akurat Prediksi Risiko Kematian Lansia

Mistar.idJumat, 21 Agustus 2026 pukul 06.00 WIB
lingkar_pinggang_dinilai_lebih_akurat_prediksi_risiko_kematian_lansia

Ilustrasi. (foto: ai/mistar)

news_banner

Rhode Island, MISTAR.ID - Ukuran lingkar pinggang dinilai dapat menjadi indikator risiko kematian yang lebih akurat dibandingkan indeks massa tubuh (BMI), khususnya pada kelompok lanjut usia.

Temuan itu berdasarkan penelitian ilmuwan University of Rhode Island, Amerika Serikat, terhadap 6.095 orang berusia 65 tahun ke atas yang dipantau selama 13 tahun, dari 2011 hingga 2024.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American Geriatrics Society menunjukkan, pria dengan lingkar pinggang 40 inci atau sekitar 102 sentimeter ke atas serta perempuan dengan lingkar pinggang 35 inci atau sekitar 89 sentimeter ke atas memiliki risiko kematian dini 24 persen lebih tinggi.

Risiko bahkan meningkat pada pria lanjut usia yang memiliki BMI normal tetapi lingkar pinggang besar. Kelompok ini tercatat menghadapi peningkatan risiko kematian dini hingga 33 persen selama periode penelitian.

Temuan tersebut memperkuat kritik terhadap BMI yang selama ini digunakan sebagai salah satu acuan menentukan berat badan sehat, kelebihan berat badan, hingga obesitas.

BMI tidak dapat membedakan massa lemak dan otot. Kondisi itu menjadi semakin penting pada usia lanjut karena massa otot biasanya berkurang, sementara lemak dapat bertambah di sekitar perut dan organ dalam tanpa menyebabkan perubahan berat badan yang signifikan.

Direktur The Obesity Collective sekaligus Profesor Kehormatan Nutrisi Kesehatan Masyarakat di University of Sydney, Tim Gill, mengatakan BMI tinggi pada usia lanjut dalam penelitian tersebut justru dikaitkan dengan risiko kematian lebih rendah.

Namun, ia menegaskan temuan itu bukan berarti kadar lemak tinggi melindungi kesehatan.

“Hal ini tidak boleh ditafsirkan bahwa tingkat lemak tubuh yang tinggi bersifat protektif, melainkan menunjukkan kelemahan BMI sebagai ukuran komposisi tubuh, terutama pada orang lanjut usia,” ujarnya, dikutip dari The Sun, Kamis (20/8/2026).

Peneliti juga menemukan fenomena yang disebut “paradoks obesitas”. Pria dengan BMI 30 hingga 40, yang masuk kategori obesitas, justru tercatat memiliki risiko kematian 46 persen lebih rendah, termasuk pada mereka yang memiliki lingkar pinggang besar.

Kepala Laboratorium Neurosains Metabolik University of Melbourne, Profesor Garron Dodd, mengingatkan temuan tersebut bukan alasan bagi lansia untuk menambah berat badan.

Menurutnya, BMI rendah pada usia lanjut dapat menjadi tanda hilangnya massa otot, bukan selalu menunjukkan kondisi tubuh yang lebih sehat.

Profesor Emeritus Jennie Brand-Miller dari University of Sydney menilai hasil penelitian tersebut menunjukkan pentingnya mempertahankan massa otot dan komposisi lemak tubuh yang sehat saat menua.

Namun, penumpukan lemak di area perut tetap perlu diwaspadai karena berkaitan dengan risiko kesehatan yang lebih besar.

Body Mass Index (BMI) selama ini banyak digunakan untuk menilai apakah seseorang tergolong kekurangan berat badan, normal, kelebihan berat badan atau obesitas. Namun metode tersebut telah lama dikritik karena tidak memperhitungkan distribusi lemak maupun massa otot dan tulang. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN