Apollo Hospitals Hub Indonesia Hadir di Medan, Buka Akses Pengobatan Medis India

Apollo Hospitals. (foto:dokumen Apollo Hospitals/Mistar)
Medan, MISTAR.ID (14/8/2026) – Ketika vonis dokter jatuh pada penyakit serius dan kompleks, pikiran pasien dan keluarga sudah pasti langsung mengarah pada rumah sakit terbaik dan tepat. Selain itu, perkiraan biaya dan peluang kesembuhan sudah pasti menjadi pertimbangan penting.
Seiring terbukanya akses digital, saat ini masyarakat Indonesia semakin aktif dalam mencari alternatif pengobatan berteknologi tinggi, bahkan sampai ke luar negeri, atau paling sering seputar Asia Tenggara.
Namun kini, pengobatan dari India yang menggunakan teknologi medis canggih, keahlian dokter subspesialis kelas dunia, dan biaya yang lebih terjangkau mulai membuat Negeri Taj Mahal ini dilirik sebagai destinasi medis unggulan baru.
Melihat tingginya antusiasme dan kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan berstandar internasional, Apollo Hospitals Hub Indonesia akan hadir untuk menghubungkan pasien Tanah Air dengan jaringan raksasa kesehatan India, Apollo Hospitals.
Direktur India for Health sekaligus Direktur Apollo Hospitals Hub Indonesia, Ribkah Darmawati, menjelaskan bahwa kehadiran hub ini dapat memangkas jarak dan mempermudah akses masyarakat untuk konsultasi kasus-kasus medis kategori berat, mulai dari transplantasi organ (liver dan ginjal), penyakit jantung hingga robotic surgery.
Menurutnya, banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui bahwa India, khususnya Apollo Hospitals, dapat menjadi pilihan rumah sakit terbaik untuk pengobatan dengan teknologi yang mumpuni.
“Kami hadir di Medan untuk memberikan informasi bahwa ada pilihan yang sangat rasional untuk berkonsultasi dengan dokter di Apollo, terlebih jika pasien butuh pilihan lain atau penanganan medis kompleks yang belum bisa dilakukan di sini,” katanya didampingi Sherena Aisya Maharayni, Jumat (14/8/2026).
Berdasarkan data resmi rumah sakit tersebut, sekitar 70 persen pasien asal Indonesia yang berobat ke jaringan Apollo berasal dari Kota Medan. Kasus gangguan fungsi liver serta transplantasi organ tercatat mendominasi rujukan tersebut.
“Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Medan terbuka dengan medis internasional dan juga kian cerdas dengan membandingkan aspek rekam jejak, kecanggihan teknologi, biaya maupun tingkat keberhasilan tindakan medis yang mencapai 98 persen,” tuturnya.
Namun, Ribkah menjelaskan bahwa tidak semua penyakit harus diterbangkan ke India. Jika suatu kondisi medis masih bisa ditangani optimal oleh fasilitas kesehatan lokal di Indonesia, maka pasien tidak perlu pergi berobat jauh-jauh.
“Tapi untuk kasus yang perlu teknologi khusus, ketersediaan donor transplantasi maupun terapi tingkat lanjut, second opinion merupakan hak pasien dalam memastikan langkah penanganan terbaik,” ucapnya lagi.
Bagi sebagian besar pasien asal Medan yang datang berkonsultasi, masalah kesehatan liver menempati urutan teratas. Kondisi seperti hepatitis B atau C hingga sirosis sering kali berkembang secara diam-diam tanpa gejala yang mencolok atau dikenal sebagai silent killer, membuat pasien baru menyadari keparahannya saat fungsi organ sudah merosot tajam.
Bagi pasien dengan kerusakan hati stadium akhir (end-stage liver disease), transplantasi liver menjadi pilihan utama. Organ pengganti dapat berasal dari donor keluarga yang sudah sesuai dengan syarat dan ketentuan medis. “Organ liver memiliki kemampuan regenerasi alami, jadi sebagian liver dari donor hidup akan tumbuh kembali secara utuh, baik pada tubuh donor maupun penerima,” katanya.
Apollo Hospitals di India, sebutnya, sudah menangani lebih dari 6.500 tindakan transplantasi liver. Secara keseluruhan, jaringan ini mengoperasikan sekitar 78 rumah sakit di berbagai kota besar di India yang didukung oleh Centers of Excellence spesifik, di antaranya Apollo New Delhi dengan keunggulan transplantasi organ liver dan robotic surgery, kemudian Apollo Hyderabad yang menjadi pusat rujukan transplantasi sumsum tulang untuk kasus kanker darah seperti leukemia pada anak dan orang dewasa.
Kemudian Apollo Chennai yang menjadi pusat terapi radiasi proton tercanggih di dunia untuk indikasi kanker tertentu, serta Apollo Bangalore, pusat robotic surgery dengan presisi ultra tinggi dan trauma jaringan yang minimal.
Faktor finansial sering kali menjadi bahan pertimbangan pasien dalam mengambil keputusan medis internasional. Menjawab hal ini, Ribkah memaparkan kalkulasi biaya yang diklaim jauh lebih kompetitif dan transparan dibandingkan dengan negara tujuan medis lainnya.
Transplantasi liver disebut berkisar antara Rp750 juta hingga Rp1 miliar. Biaya ini sudah mencakup evaluasi donor dan perawatan selama 21 hari. Di beberapa negara lain, harga perawatan yang sama dapat mencapai lebih dari Rp6 miliar.
Selanjutnya, transplantasi ginjal yang berkisar kurang lebih Rp650 juta, tergantung kondisi spesifik pasien dan durasi perawatan pascaoperasi.
“Namun, kami mengingatkan bahwa estimasi biaya ini bukan menjadi acuan atau tarif tunggal yang berlaku sama bagi semua orang. Faktor penyakit, respons tubuh pasien sampai kebutuhan obat khusus dapat berpengaruh pada kalkulasi akhir,” katanya.
Ia mengingatkan jika ingin membawa pasien dengan kondisi sakit serius harus mempersiapkan dengan matang, mulai dari pengumpulan rekam medis dengan lengkap hingga pengurusan medical visa dan keberangkatan. Tim rumah sakit di India juga akan melakukan penjemputan dan pengawalan medis hingga pasien tiba di fasilitas perawatan.
Selain penanganan organ dalam dan onkologi, Ribkah menjelaskan bahwa layanan ini juga merambah dunia pediatrik (anak) untuk kasus leukemia atau kelainan bawaan lainnya. Untuk robotic surgery, kata Ribkah, penanganannya minim perdarahan dan masa pemulihan yang lebih cepat.
“Tujuan dari kehadiran Apollo Hospitals Hub Indonesia di Medan yaitu untuk memberikan informasi medis yang terbuka luas bagi masyarakat. Keputusan tetap ada pada pasien dan keluarga maupun pertimbangan tim dokter yang menangani,” tutur Ribkah.
Menurutnya, pengobatan yang ideal tidak selalu dilihat dari seberapa jauh lokasinya, tetapi seberapa tepat dan aman tindakan yang dilakukan untuk pasien sesuai dengan kondisinya. (hm27)

























