Kudeta Militer Guinea-Bissau: Presiden Embalo Ditangkap, Pemilu Dihentikan

Presiden Guinea-Bissau Umaro Sissoco Embalo. (foto:pelantar/msitar)
Bissau, MISTAR.ID
Sebuah kelompok perwira militer di Guinea-Bissau menyatakan telah mengambil alih kekuasaan dan menangkap Presiden Umaro Sissoco Embalo, hanya sehari sebelum hasil pemilu presiden diumumkan.
Dalam siaran televisi pada Rabu (26/11/2025), para perwira yang menamakan diri “Komando Tinggi Militer untuk Pemulihan Ketertiban” menyatakan telah mengendalikan penuh negara dan memerintahkan penghentian proses elektoral hingga pemberitahuan lebih lanjut. Langkah ini dibarengi penutupan total perbatasan darat, laut, dan udara serta pemberlakuan jam malam.
Kudeta terjadi di tengah situasi politik memanas pasca-pemilu Minggu lalu, yang mempertemukan Embalo dengan penantangnya, Fernando Dias. Kedua kandidat sempat mengklaim kemenangan tanpa bukti resmi.
“Saya telah digulingkan,” kata Embalo melalui sambungan telepon kepada France24, menambahkan bahwa ia saat ini berada di markas staf umum.
Dilansir Kamis (27/11/2025), Al Jazeera melaporkan, Embalo kini ditahan bersama pemimpin oposisi Domingos Simoes Pereira.
Jurnalis Nicolas Haque mengungkapkan bahwa pemimpin kudeta, Brigadir Jenderal Denis N’Canha, sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pasukan Pengawal Presiden.
“Orang yang seharusnya melindungi presiden justru yang menahannya,” ujar Haque.
Tembakan berkelanjutan terdengar di sekitar Istana Presiden, kantor Komisi Pemilu, dan Kementerian Dalam Negeri di ibu kota Bissau. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran mengenai legitimasi pemilu, terutama karena partai oposisi utama, PAIGC, dilarang mengikuti pemilihan.
ECOWAS, Uni Afrika, dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam, serta menyerukan pembebasan para pejabat yang ditahan dan kelanjutan proses elektoral. Pemerintah Portugal juga meminta agar institusi negara dipulihkan dan proses pemilu dilanjutkan.
Guinea-Bissau telah mengalami empat kudeta dan sejumlah upaya kudeta sejak kemerdekaan. Ketegangan politik serupa juga terjadi pada pemilu 2019, yang memicu krisis selama empat bulan.
Krisis terbaru ini menambah daftar ketidakstabilan di Afrika Barat, yang dalam beberapa tahun terakhir diguncang kudeta di Mali, Burkina Faso, Niger, dan Guinea. (hm16)






















