Iran Bantah Pernyataan Donald Trump Telah Kuasai Selat Hormuz

Ilustrasi Selat Hormuz. (Foto: Gemini AI)
Teheran, MISTAR.ID – Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebutkan AS telah menguasai Selat Hormuz.
Komandan paramiliter Basij, Hojjatoleslam Hossein Taeb, mengatakan kondisi di Selat Hormuz masih berada dalam pengawasan penuh pemerintah Iran.
"Hari ini Anda melihat bahwa Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan dan kendali Republik Islam (Iran), dan negara kami terus melangkah dalam kondisi keamanan penuh," kata Taeb, dilansir Al Jazeera, Jumat (14/8/2026).
"Pihak Amerika telah menyaksikan kekuatan revolusi kami," ucapnya.
Penolakan serupa disampaikan Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya, komando militer gabungan Iran. Mereka menegaskan kapal tidak dapat melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari Teheran.
"Klaim tak berdasar yang dilontarkan AS mengenai pelayaran normal kapal-kapal melalui Selat Hormuz, tidak lain hanyalah kebohongan dan kepalsuan belaka," kata perwaklan Markas Besar Khatam Al Anbiya.
Iran beri syarat pembukaan Selat Hormuz
Pejabat senior urusan politik militer Iran, Rasoul Sanaei-Rad, mengatakan Teheran belum akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat memenuhi komitmen yang tercantum dalam kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang.
Sanaei-Rad juga memperingatkan AS bahwa Iran akan memberikan respons yang lebih keras apabila konflik kembali pecah.
"Dalam kemungkinan perang di masa depan, kami akan bersikap lebih tegas dan lebih ofensif," ujarnya.
Perselisihan mengenai Selat Hormuz kembali mencuat setelah kesepakatan sementara antara Iran dan AS mengalami kegagalan. Kedua negara sebelumnya mencapai kesepakatan pada Juni untuk memperpanjang gencatan senjata yang telah berlangsung sejak April serta memulihkan kebebasan navigasi di kawasan Teluk.
Namun, kesepakatan tersebut hanya bertahan beberapa pekan. Iran kemudian kembali melakukan serangan terbatas terhadap sejumlah kapal yang disebutnya telah melanggar ketentuan perjanjian.
Situasi itu kemudian diikuti serangan balasan AS ke wilayah selatan Iran. Washington disebut berupaya melemahkan kemampuan Teheran dalam menyerang kapal-kapal yang melintas di kawasan Teluk. (Al Jazeera)




















