Enam Klaim Palsu Trump soal Tragedi 9/11

Donald Trump saat berada di kawasan Ellipse, dekat Gedung Putih, Washington DC, Selasa (8/9/2026). (foto: Saul Loeb/AFP/Getty Images via The Guardian)
Washington, MISTAR.ID - Menjelang peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001 atau 9/11, sejumlah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai tragedi tersebut kembali menjadi sorotan.
Dilansir The Guardian, Rabu (9/9/2026), terdapat enam klaim Trump terkait serangan Al-Qaeda di New York dan Washington yang dinilai palsu, berlebihan, atau tidak didukung bukti. Klaim-klaim tersebut disampaikan dalam berbagai kesempatan, mulai tak lama setelah serangan 11 September 2001 hingga masa jabatan keduanya sebagai presiden.
1. Mengklaim gedungnya menjadi yang tertinggi
Tak lama setelah Menara World Trade Center (WTC) runtuh, Trump mengatakan gedung miliknya di 40 Wall Street menjadi bangunan tertinggi di kawasan pusat Manhattan.
Trump menyebut 40 Wall Street sebelumnya merupakan gedung tertinggi sebelum WTC dibangun, kemudian turun menjadi yang tertinggi kedua. Setelah WTC runtuh, ia mengklaim gedung tersebut kembali menjadi yang tertinggi.
Namun, klaim itu tidak sesuai fakta. Gedung 70 Pine Street yang berada tidak jauh dari 40 Wall Street memiliki ketinggian lebih besar.
2. Mengaku ikut membantu membersihkan puing
Trump juga beberapa kali mengatakan dirinya terlibat dalam upaya pemulihan setelah runtuhnya WTC.
Saat berkampanye pada 2016, Trump mengklaim berada di lokasi, melihat langsung proses pembersihan dan ikut membantu. Tak lama setelah serangan 2001, ia juga pernah mengatakan akan mengerahkan ratusan pekerja untuk membantu membersihkan puing-puing.
Namun, tidak ditemukan bukti yang mendukung klaim bahwa Trump benar-benar mengirim para pekerjanya untuk ikut dalam operasi pembersihan Ground Zero.
3. Mengklaim ribuan Muslim bersorak
Salah satu klaim Trump yang paling kontroversial disampaikan saat kampanye presiden 2016. Ia mengatakan “ribuan dan ribuan” Muslim di Jersey City, New Jersey, bersorak ketika menyaksikan serangan 11 September.
Klaim tersebut kemudian menjadi bahan pemeriksaan fakta, tetapi tidak ditemukan bukti yang mendukung adanya perayaan dalam skala seperti yang digambarkan Trump.
4. Klaim Ilhan Omar menari saat peringatan 9/11
Pada September 2019, Trump menyebarkan ulang sebuah video yang memberi kesan anggota Kongres dari Partai Demokrat, Ilhan Omar, menari pada peringatan serangan 9/11.
Trump ketika itu juga menyebut Omar sebagai “wajah baru Partai Demokrat”.
Namun, video tersebut sebenarnya berasal dari acara Congressional Black Caucus dan tidak direkam pada 11 September. Dengan demikian, video itu tidak menunjukkan Omar sedang menari dalam peringatan tragedi 9/11 sebagaimana kesan yang dibangun melalui unggahan tersebut.
5. Mengklaim telah memperingatkan soal Osama bin Laden
Trump juga pernah menyatakan bahwa dirinya telah memperingatkan mengenai Osama bin Laden sebelum terjadinya serangan 9/11.
Ia mendasarkan klaim tersebut pada bukunya, The America We Deserve, yang diterbitkan pada 2000 dan memang menyebut nama Bin Laden.
Pada 2018, Trump bahkan mengatakan Amerika Serikat seharusnya menangkap Bin Laden jauh lebih awal serta menegaskan dirinya telah menyebut pemimpin Al-Qaeda itu sebelum serangan terhadap WTC.
Namun, ketika buku Trump diterbitkan, Bin Laden bukan sosok yang belum dikenal publik Amerika Serikat. Namanya telah menjadi perhatian setelah Al-Qaeda dikaitkan dengan pengeboman Kedutaan Besar AS di Kenya dan Tanzania pada 1998.
6. Mengaku digotong petugas pemadam kebakaran
Klaim terbaru muncul ketika Trump menghadiri acara di Gedung Putih untuk menghormati para petugas darurat yang menangani tragedi 9/11.
Trump mengatakan dirinya bersama sejumlah pekerja berada di kawasan Lower Manhattan setelah serangan. Menurut ceritanya, dua petugas pemadam kebakaran kemudian mengangkat dan membawanya menjauh karena khawatir gedung One Liberty Plaza akan runtuh.
Trump menyebut kedua petugas itu mengangkat tubuhnya dan berlari membawanya menjauh dari lokasi.
Memang sempat muncul kekhawatiran mengenai kestabilan One Liberty Plaza setelah serangan, hingga bangunan di sekitarnya sempat dievakuasi. Namun, tidak ditemukan bukti bahwa Trump berada di lokasi dan mengalami kejadian seperti yang diceritakannya.
Klaim mengenai para pekerjanya yang dibawa ke lokasi untuk membantu penanganan pascaserangan juga tidak didukung bukti.
Serangan 11 September 2001 menewaskan hampir 3.000 orang dan menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Menjelang seperempat abad peristiwa tersebut, berbagai pernyataan Trump tentang apa yang ia lihat dan lakukan setelah serangan kembali diperiksa dan dipersoalkan. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Ancaman AI Bisa Musnahkan Manusia pada 2030 Guncang Kongres AS




































