Dunia Berbalik! Saat Trump- Netanyahu Kehilangan Mayoritas, Iran-Putin Bahas Gas dan Selat Hormuz

Kubu Donald Trump dan Benjamin Netanyahu kalah pemilu, pejabat keamanan Iran temui Presiden Rusia Vladimir Putin. (REUTERS/Alexei Babushkin)
Teheran, MISTAR.ID (6/11/2026) — Peta politik dunia berubah drastis dalam sepekan terakhir. Di Amerika Serikat, Partai Republik yang selama ini menjadi kendaraan politik Presiden Donald Trump kehilangan suara mayoritas. Di Israel, Partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga tidak lagi berkuasa.
Dua sekutu yang selama ini paling lantang memusuhi Iran kini hanya tinggal menjalankan sisa masa pemerintahan. Kekuasaan mereka melemah, pengaruh mereka menyusut.
Ironisnya, di saat yang sama, Iran yang selama ini dijadikan musuh bersama oleh Washington dan Tel Aviv justru semakin percaya diri menjalin kerja sama pertahanan dengan Rusia.
Sinyal perubahan itu terlihat jelas pada Kamis (5/11/2026). Presiden Rusia Vladimir Putin menerima kunjungan Sekretaris Dewan Keamanan Tertinggi Iran Mohsen Rezaei di Kremlin. Kabar itu disampaikan media pemerintah Iran.
Rezaei bukan datang dengan tangan kosong. Ia membawa pesan khusus dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei untuk Putin. Kantor Kepresidenan Rusia juga membenarkan pertemuan tersebut berlangsung di Kremlin.
Pertemuan ini terjadi tidak lama setelah para negosiator Iran bertemu dengan mediator untuk membahas proposal mengakhiri permusuhan dengan Amerika Serikat.
Artinya, di satu sisi Iran membuka pintu diplomasi dengan AS, di sisi lain Iran memperkuat punggungnya dengan Rusia.
Usai pertemuan, Rezaei mengungkapkan isi pembicaraannya dengan Putin.
“Masalah-masalah regional penting dibahas dengan Putin, dan percakapan penting terjadi mengenai periode pasca-perang dan pengaturan keamanan regional,” kata Rezaei, merujuk pada perang antara Iran dan AS.
Bukan sekadar basa-basi diplomatik. Pembicaraan itu menyangkut nasib kawasan setelah perang berakhir. Siapa yang mengatur keamanan? Bagaimana peta kekuatan baru disusun? Dan apa posisi Iran di dalamnya?
Selain soal keamanan, ada agenda ekonomi yang tidak kalah besar: pembangunan jalur pipa gas dari Rusia ke Iran.
Proyek ini dirancang untuk mengatasi kekurangan gas yang selama ini dialami Iran. Sekaligus, proyek ini membuka jalan bagi Rusia untuk menjual gasnya ke negara-negara tetangga Iran.
Jika proyek ini terealisasi, hubungan Moskow-Teheran tidak lagi sekadar aliansi politik, melainkan kemitraan energi jangka panjang yang saling menguntungkan.
Pesan keras juga datang dari Teheran. Dalam pernyataan tertulis pada Rabu, Khamenei menegaskan seharusnya tidak ada “sedikit pun kecenderungan untuk tunduk” kepada Amerika Serikat, seperti dikutip Arab News.
Pernyataan itu menjadi penanda bahwa Iran tidak akan bernegosiasi dalam posisi lemah, meski tekanan dari AS dan sekutunya terus berlanjut.
Upaya perdamaian saat ini difokuskan pada empat persoalan utama: status masa depan Selat Hormuz yang strategis, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, sanksi terhadap Republik Islam Iran, dan dimulainya kembali negosiasi mengenai program nuklir Teheran.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan pekan ini bahwa kedua pihak masih sangat berbeda pendapat.
Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif. Jalur sempit ini adalah nadi perdagangan minyak dunia. Siapa yang menguasainya, dialah yang memegang kunci ekonomi global.
Rezaei menegaskan sikap Teheran dengan kalimat yang sangat tegas:
“Namun, kami telah mengatakan kepadanya bahwa dalam masalah diplomasi, kami telah mengumumkan tujuh syarat kepada Amerika, selama mereka tidak melaksanakan tujuh syarat kami, kami tidak akan membuka Selat Hormuz maupun melakukan negosiasi,” tambah Rezaei.
Pesan itu jelas: tidak ada pembukaan Selat Hormuz, tidak ada negosiasi, sebelum tujuh syarat Iran dipenuhi.
Kini, dunia menanti babak baru. Trump dan Netanyahu yang dulu begitu dominan, kini berada di ujung kekuasaan. Putin dan Iran justru sedang menyusun ulang peta keamanan dan energi kawasan.
Apakah ini awal dari tatanan dunia baru? Atau hanya jeda sebelum konflik yang lebih besar?
Yang pasti, pertemuan di Kremlin pada Kamis itu bukan pertemuan biasa. Itu adalah sinyal bahwa poros Teheran-Moskow semakin kokoh, di saat poros Washington-Tel Aviv sedang goyah.(CNN/hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Trump Tak Menyesal Perangi Iran Meski Kalah Pemilu, Wapres AS: Itu Harga yang Harus DibayarBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER










































