Trump Tak Menyesal Perangi Iran Meski Kalah Pemilu, Wapres AS: Itu Harga yang Harus Dibayar

Wakil Presiden AS JD Vance. (Foto: Getty Images via AFP/POOL)
Washington, MISTAR.ID (6/11/2026) — Untuk pertama kalinya, dua tokoh teratas pemerintahan Amerika Serikat (AS) mengakui secara terbuka: perang melawan Iran telah memukul Partai Republik di kotak suara.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut perang itu sebagai biang utama kekalahan partainya dalam pemilihan paruh waktu. Presiden Donald Trump pun tidak membantah. Ia mengakui konflik tersebut ikut menentukan hasil pemilu, meski ia bersikeras tidak menyesal telah memulainya.
Pengakuan ganda ini muncul hanya selang sehari setelah Partai Republik kehilangan momentum dalam pemilu yang digelar Selasa (3/11/2026). Bagi Gedung Putih, ini bukan sekadar evaluasi biasa. Ini adalah retakan terbuka di dalam lingkaran kekuasaan Trump sendiri.
Vance menyampaikan penilaian itu melalui unggahan di media sosial X, Rabu (5/11/2026). Nada tulisannya tajam, jujur, dan tidak lagi dibungkus bahasa diplomatik.
Menurut Vance, penyebab kekalahan Partai Republik sudah terang benderang: perang Iran yang dilancarkan Trump bersama Israel sejak Februari lalu.
“Alasan sebenarnya kita kalah sudah jelas bagi hampir semua orang. Alasan kita kalah adalah perang. Presiden sendiri mengatakan demikian tadi malam,” tulis Vance, seperti dikutip The Guardian.
Ia kemudian menantang siapa pun yang masih membela perang itu untuk berterus terang soal harganya.
“Jika Anda ingin berpendapat bahwa itu sepadan, bahwa kehilangan Senat selama 6 tahun ke depan itu sepadan, maka lakukanlah. Berargumenlah bahwa itu adalah harga yang pantas dibayar. Setuju atau tidak setuju, setidaknya itu jujur,” lanjut Vance.
Bagi Vance, tidak ada jalan untuk melangkah maju tanpa mengakui dulu kesalahan ini.
“Semua orang tahu mengapa kita kalah. Dan setiap percakapan jujur tentang ke mana kita akan melangkah selanjutnya harus dimulai dari sana,” ujarnya.
Trump menyampaikan pengakuan serupa dalam wawancara telepon dengan Wall Street Journal, Selasa (4/11/2026). Ketika ditanya apakah perang Iran memengaruhi hasil pemilihan paruh waktu, Trump menjawab singkat.
“Iran adalah salah satu penyebabnya,” kata Trump.
Namun, pengakuan itu berhenti di sana. Trump menolak untuk menyesali keputusan perang. Ia bahkan menegaskan akan mengambil langkah yang sama jika dihadapkan pada situasi serupa.
“Saya tidak memikirkannya. Saya melakukan hal yang benar. Saya akan melakukannya lagi,” ujar Trump.
Pernyataan ini mempertegas sikap Trump: ia menerima konsekuensi politiknya, tetapi tidak mengubah pendiriannya soal perang.
Pernyataan Vance menjadi sorotan bukan hanya karena isinya, melainkan karena siapa yang menyampaikannya.
Sebelumnya, Vance dikenal sebagai salah satu tokoh yang mewakili upaya pemerintahan Trump untuk membuka jalur perundingan dengan Teheran. Ia juga disebut-sebut memiliki keraguan terhadap perang Iran yang hingga kini belum terselesaikan.
Kini, ia justru tampil sebagai suara paling keras yang mengaitkan kekalahan partainya dengan perang tersebut.
Langkah ini dibaca banyak pengamat sebagai upaya Vance untuk menjauhkan diri dari konflik itu, menjelang kemungkinan pencalonan dirinya ke Gedung Putih pada 2028.
Jika benar, maka pemilu sela ini bukan hanya kekalahan bagi Partai Republik. Ia juga menjadi panggung awal bagi Vance untuk membangun citra politiknya sendiri, terpisah dari bayang-bayang Trump.
Pengakuan Vance dan Trump membuka tiga pertanyaan besar bagi Partai Republik ke depan:
1. Apakah perang Iran masih bisa dipertahankan secara politik? Jika perang menjadi alasan kekalahan, partainya harus memutuskan apakah akan terus mendukungnya atau mulai menuntut jalan keluar.
2. Siapa yang akan memimpin Republik pasca-Trump? Sikap Vance yang mulai berbeda dari Trump menunjukkan adanya perebutan arah di dalam partai.
3. Apakah pemilih masih percaya pada janji pemerintahan? Kekalahan di pemilu sela sering menjadi sinyal awal bahwa pemilih mulai menjauh, dan perang yang berlarut-larut hanya mempercepat kejauhan itu.
Satu hal yang jelas: untuk pertama kalinya, Gedung Putih tidak lagi menyembunyikan bahwa perang Iran telah memakan korban politik di dalam negeri.(CNN/hm02)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER










































