Obesitas Global: WHO Ungkap 1,1 Miliar Orang Alami Obesitas dan Ancam Anak Remaja

WHO Ungkap 1,1 Miliar Orang Alami Obesitas, Anak dan Remaja Ikut Terancam. (foto ilustrasi:gemini/mistar)
"Obesitas semakin menjadi ancaman kesehatan global. WHO mencatat sekitar 1,1 miliar orang di dunia hidup dengan obesitas pada 2024. Pola makan tidak sehat, konsumsi makanan ultra-proses, dan minimnya aktivitas fisik menjadi faktor yang turut mendorong peningkatan kasus, termasuk pada anak dan remaja."
Pematangsiantar, MISTAR.ID — Obesitas bukan lagi sekadar persoalan berat badan atau penampilan. Kondisi ini telah menjadi masalah kesehatan global karena berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, stroke, hingga sejumlah jenis kanker.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 1,1 miliar orang di seluruh dunia hidup dengan obesitas pada 2024. Angka tersebut setara dengan sekitar satu dari tujuh penduduk dunia.
Tren ini menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan. Prevalensi obesitas pada orang dewasa secara global telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 1990. Sementara itu, prevalensi obesitas pada kelompok usia 5–19 tahun meningkat hingga empat kali lipat dalam periode yang sama.
Lantas, mengapa obesitas terus meningkat dan siapa saja yang paling rentan?
Penyebab Obesitas: Pola Makan dan Makanan Ultra-Proses Jadi Sorotan
Peningkatan obesitas tidak disebabkan oleh satu faktor. WHO menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi interaksi berbagai faktor, mulai dari genetik, biologis, psikologis, perilaku, hingga lingkungan sosial.
Salah satu penyebab obesitas yang perlu diperhatikan adalah perubahan pola makan. Masyarakat semakin mudah mengakses makanan tinggi kalori, gula, garam, dan lemak, termasuk produk makanan ultra-proses atau ultra-processed foods (UPF).
Makanan ringan kemasan, minuman berpemanis, serta sejumlah produk siap konsumsi dapat menyumbang asupan energi berlebih apabila dikonsumsi secara berlebihan dan menggantikan makanan bergizi seimbang.
Kondisi tersebut diperparah oleh gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik. Kebiasaan duduk terlalu lama, penggunaan gawai, serta berkurangnya aktivitas luar ruangan membuat pengeluaran energi tubuh cenderung menurun.
WHO memperkirakan sekitar 31 persen orang dewasa di dunia tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik pada 2022. Ketidakseimbangan antara energi yang masuk melalui makanan dan energi yang dikeluarkan tubuh dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan obesitas.
Bahaya Obesitas, dari Diabetes hingga Penyakit Jantung
Bahaya obesitas tidak berhenti pada penumpukan lemak tubuh. Kondisi ini juga dapat mengganggu metabolisme dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Salah satu yang paling erat kaitannya adalah diabetes tipe 2. Penumpukan lemak, terutama di sekitar organ dalam atau lemak visceral, dapat meningkatkan resistensi insulin. Akibatnya, tubuh menjadi kurang efektif dalam mengatur kadar gula darah.
Selain diabetes, obesitas juga berkaitan dengan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, gangguan hati, penyakit ginjal, gangguan muskuloskeletal, dan sejumlah jenis kanker.
WHO memperkirakan indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi dari tingkat optimal berkontribusi terhadap sekitar 3,7 juta kematian pada 2023 melalui berbagai penyakit, termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker.
Karena itu, obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan pencegahan dan penanganan jangka panjang, bukan sekadar persoalan penampilan fisik.
Obesitas pada Anak Meningkat, Apa Dampaknya bagi Masa Depan?
Ancaman obesitas juga semakin nyata pada kelompok usia muda. WHO mencatat sekitar 400 juta anak dan remaja berusia 5–19 tahun mengalami kelebihan berat badan pada 2024. Dari jumlah tersebut, sekitar 170 juta di antaranya hidup dengan obesitas.
Prevalensi obesitas pada kelompok usia tersebut meningkat dari sekitar 2 persen pada 1990 menjadi 8 persen pada 2024.
Perubahan pola konsumsi, paparan makanan tinggi gula dan lemak, serta berkurangnya aktivitas fisik menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.
Anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan aktivitas duduk berisiko memiliki waktu bergerak yang lebih sedikit. Jika kebiasaan tersebut berlangsung bersamaan dengan pola makan tinggi kalori, risiko obesitas dapat meningkat.
Dampaknya tidak hanya dirasakan selama masa pertumbuhan. Anak yang mengalami obesitas memiliki kemungkinan lebih besar untuk tetap mengalami kondisi serupa ketika dewasa, sehingga berisiko menghadapi diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular pada usia lebih muda.
Obesitas pada anak juga dapat berdampak pada kesehatan psikologis dan kehidupan sosial, termasuk meningkatkan risiko perundungan, diskriminasi, serta menurunkan kualitas hidup.
Cara Mencegah Obesitas, Perlu Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Pencegahan obesitas membutuhkan perubahan pola hidup sekaligus lingkungan yang mendukung kesehatan.
Masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan sumber protein bergizi. Sebaliknya, makanan tinggi gula, garam, lemak, serta minuman berpemanis perlu dibatasi.
Aktivitas fisik juga perlu menjadi bagian dari rutinitas. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu. Sementara anak dan remaja usia 5–17 tahun dianjurkan aktif secara fisik rata-rata minimal 60 menit setiap hari.
Namun, penanganan obesitas tidak bisa hanya dibebankan kepada individu. Ketersediaan makanan sehat dengan harga terjangkau, edukasi gizi, lingkungan sekolah yang mendukung aktivitas fisik, serta pembatasan pemasaran makanan tidak sehat kepada anak juga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Besarnya angka obesitas global menjadi peringatan bahwa persoalan ini membutuhkan perhatian serius. Terlebih, meningkatnya kasus pada anak dan remaja berpotensi menambah beban penyakit kronis pada generasi mendatang.
Obesitas bukan sekadar masalah berat badan, melainkan tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, serta dukungan lingkungan yang lebih sehat.
who/unicefindonesia/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Ebola Kembali Mengancam Dunia! WHO Uji 2 Vaksin Baru, Seberapa Besar Risikonya bagi Indonesia?BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER










































