Thursday, August 13, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Prabowo Kejar E20, Indonesia Targetkan Bangun hingga 50 Pabrik Bioetanol

Mistar.idKamis, 13 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB
prabowo_kejar_e20_indonesia_targetkan_bangun_hingga_50_pabrik_bioetanol

BBM Pertamax Green (RON 95) PT Pertamina (Persero) di SPBU Pertamina MT Haryono, Jakarta Selatan, Senin (24/7/2023). (Foto: CNBC Indonesia)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID- Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan pengembangan bahan bakar nabati berbasis bioetanol untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil dan impor.

Pemerintah menargetkan Indonesia mampu meningkatkan penggunaan bioetanol sebagai campuran bensin dari E5 menuju E10, bahkan hingga E20. Target tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur.

Prabowo mengatakan Indonesia sudah memiliki kemampuan untuk menerapkan bensin dengan campuran 10% etanol atau E10. Bahkan, kadar campuran tersebut dinilai masih dapat ditingkatkan menjadi E20.

Bioetanol dapat diproduksi dari berbagai bahan baku nabati, seperti molase atau tetes tebu, sorgum, singkong, hingga jagung.

“Saya melihat pameran tadi sudah mampu menuju E10, etanol 10, jadi bensin nanti dicampur 10% etanol. Tapi tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20,” ujar Prabowo.

Untuk mengejar target tersebut, Prabowo menyebut kebutuhan pembangunan fasilitas produksi menjadi salah satu tantangan utama. Ia bahkan meminta jumlah pabrik bioetanol ditambah secara signifikan.

“Butuh pabrik. Tadi pabriknya yang kita miliki baru satu pabrik. Saya putuskan kita bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50 pabrik,” katanya.

Prabowo Bandingkan Indonesia dengan India dan Brasil

Prabowo juga membandingkan perkembangan penggunaan bioetanol di Indonesia dengan sejumlah negara lain.

India saat ini telah menerapkan campuran etanol sebesar 20% pada bensin atau E20. Sementara Brasil telah mengembangkan penggunaan bahan bakar berbasis etanol dengan kadar yang jauh lebih tinggi.

“India sudah E20, Brasil sudah E100. Masa Indonesia enggak bisa? Indonesia bisa, kan?” kata Prabowo.

Menurut pemerintah, pengembangan bioetanol tidak hanya berkaitan dengan ketahanan energi. Penggunaan bahan baku lokal juga berpotensi membuka pasar baru bagi sektor pertanian dan meningkatkan nilai ekonomi komoditas yang dihasilkan petani.

Indonesia Sudah Terapkan E5

Di tengah rencana peningkatan kadar campuran etanol, Indonesia sebenarnya telah menerapkan bahan bakar E5 secara komersial.

Implementasi tersebut dilakukan melalui produk Pertamax Green 95 yang memiliki campuran bioetanol 5% dan setara dengan bensin RON 95.

Per 1 Agustus 2026, harga Pertamax Green 95 tercatat sebesar Rp16.600 per liter, turun dibandingkan harga Juli 2026 yang berada di level Rp17.000 per liter.

CEO Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), John Anis, mengatakan Pertamina siap mendukung pemerintah dalam mempercepat pengembangan ekosistem bioetanol nasional.

John menyebut Indonesia saat ini masih berada pada tahap E5. Implementasinya dilakukan secara terbatas di sekitar 170 SPBU Pertamina yang berada di wilayah Jakarta dan Jawa Timur.

“Jadi kita enggak mau kalah. Kita harus kejar mereka. Kita baru E5. Jadi ini E5 di 170 outlet kami di Jawa Timur dan di Jakarta,” ujar John saat mendampingi Prabowo.

Pertamina Siapkan Beragam Bahan Baku Bioetanol

Pertamina juga mengembangkan bioetanol dengan memanfaatkan berbagai sumber bahan baku. Pengembangannya tidak hanya bergantung pada tebu, tetapi juga diarahkan menggunakan aren, singkong, jagung, dan sorgum.

John memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 20 hingga 30 pabrik bioetanol baru dalam dua tahun ke depan untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Pembangunan fasilitas produksi di berbagai daerah dinilai dapat memberikan manfaat ekonomi bagi petani karena menciptakan pasar baru untuk hasil pertanian.

“Jadi daripada impor, uangnya ke luar, kasih petani,” tegas John saat menjelaskan potensi kebijakan bioetanol terhadap pengurangan impor.

Namun, percepatan pengembangan industri bioetanol membutuhkan dukungan kebijakan. Pertamina menilai regulasi mandatori serta kepastian harga bahan baku menjadi faktor penting agar investasi dan ekosistem bioetanol dapat berkembang.

Harga Bioetanol Agustus 2026 Naik

Sejalan dengan rencana pengembangan bioetanol, pemerintah juga telah menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis bioetanol untuk Agustus 2026.

HIP bioetanol murni ditetapkan sebesar Rp11.695 per liter, berlaku mulai 1 Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan HIP Juli 2026 yang berada di level Rp10.933 per liter.

Harga tersebut merupakan harga bioetanol murni berbahan dasar tetes tebu sebelum dicampurkan dengan bensin.

Penetapan HIP menggunakan formula:

HIP = (rata-rata harga tetes tebu KPB periode tiga bulan × 4,125 kg/liter) + US$0,25/liter.

Berdasarkan formula tersebut, rata-rata harga tetes tebu KPB periode 15 Januari hingga 14 Mei 2026 tercatat Rp1.748 per kilogram.

Sementara itu, nilai tukar yang digunakan mengacu pada rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Juni hingga 14 Juli 2026 sebesar Rp17.931 per dolar AS.

Dengan target E10 hingga E20, pembangunan puluhan pabrik, serta perluasan penggunaan bahan baku lokal, pemerintah kini berupaya membangun rantai pasok bioetanol dari sektor pertanian hingga industri bahan bakar. Keberhasilan program tersebut akan sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku, investasi pabrik, regulasi, dan kepastian harga di tingkat produsen.




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN