Iran Ancam Hentikan Ekspor Minyak Negara di Kawasan

Massa demonstran memprotes serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran di Teheran, Iran, pada 4 Maret 2026. (Foto: Xinhua/Shadati)
Teheran, MISTAR.ID - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak menghalangi ekspor minyak Iran. Ia menegaskan, jika Iran dicegah menjual minyaknya, negara lain di kawasan juga tidak akan dapat melakukan ekspor minyak.
"AS dan negara-negara lain harus tahu, seperti yang telah kami katakan, bahwa di mana kami tidak dapat menjual minyak, yang lain pun tidak akan menjual minyak," kata Qalibaf, Selasa, menurut kantor berita pemerintah Iran IRNA.
Peringatan tersebut disampaikan ketika Iran menghadapi pembatasan berat terhadap ekspor minyak di tengah konflik dengan Washington dan sanksi AS.
Gubernur Bank Sentral Iran mengatakan pada Agustus bahwa ekspor minyak negaranya telah turun menjadi nol. Menurut dia, Iran tidak lagi mengekspor minyak mentah akibat perang dan sanksi.
Sementara itu, militer AS mengatakan pada 19 September bahwa lebih dari satu miliar barel minyak mentah telah melewati Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir dengan bantuan militer AS.
Washington juga mengklaim Iran tidak mengekspor "satu barel pun" minyak di bawah apa yang disebut AS sebagai "blokade ketat".
"Jika keamanan kami tidak dijamin, tidak ada infrastruktur yang akan aman," kata Qalibaf.
Awal September, Qalibaf memperingatkan infrastruktur dan aset energi AS di sekitar Teluk serta Selat Hormuz dapat menjadi sasaran pembalasan Iran jika Washington menyerang fasilitas minyak dan gas Iran.
Qalibaf juga menyinggung pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump mengenai Selat Hormuz dan pelayaran kapal di jalur tersebut. Menurut dia, pernyataan Trump merupakan pengulangan klaim AS sebelumnya.
Pada Sabtu, Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial normal selama tujuh hari. Trump menyebut persyaratan Iran tidak dapat diterima dan mengklaim Washington telah "menguasai sepenuhnya" jalur tersebut.
Dalam proposal itu, Washington diminta mencairkan aset Iran yang dibekukan, mencabut sanksi minyak, dan mengakhiri blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran. Setelah itu, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dan memulai pembicaraan mengenai kesepakatan akhir.
Saat ini, Teheran masih membatasi akses melalui Selat Hormuz sembari meminta Washington memenuhi komitmen dalam memorandum kesepahaman yang ditandatangani pada Juni.
Iran menyatakan jalur tersebut tidak akan sepenuhnya dibuka sebelum persyaratannya dipenuhi dan komitmen AS dilaksanakan.
Qalibaf juga memperingatkan Washington agar tidak meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Ia mengatakan Iran tidak akan mundur menghadapi apa yang disebutnya sebagai "blokade udara maupun komersial".
"Para pemimpin Gedung Putih harus tahu bahwa Iran, bangsa bijaksana yang telah mencatat sejarah, tidak akan pernah mundur karena garis merah, pidato, atau blokade udara maupun komersial," kata Qalibaf.
Dia menambahkan bahwa respons Iran terhadap "ancaman atau tindakan petualangan" akan "disesalkan dan cepat".
Washington telah memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran, tidak hanya mencakup sektor minyak dan maritim, tetapi juga penerbangan sipil. (hm25/antara)
PREVIOUS ARTICLE
AS dan Legislator Venezuela Siapkan Pemilihan Presiden Baru








































