Monday, September 14, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Minyak Dunia Tembus US$108, Serangan Drone Saudi Bikin BBM Terancam Meledak

Mistar.idSenin, 14 September 2026 pukul 19.34 WIB
minyak_dunia_tembus_us108_serangan_drone_saudi_bikin_bbm_terancam_meledak

Minyak Dunia Tembus US$108, Serangan Drone Saudi Bikin BBM Terancam Meledak. (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (14/9/2026) — Harga minyak dunia kembali melesat di atas US$108 per barel. Bukan karena permintaan global tiba-tiba melonjak, melainkan karena pasar mulai cemas terhadap satu hal yang jauh lebih berbahaya: pasokan minyak dunia terganggu.

Harga minyak mentah Brent pada Senin (14/9/2026) naik lebih dari 3% ke sekitar US$108 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus US$103 per barel. Lonjakan terjadi setelah Arab Saudi menghentikan sementara operasi pipa minyak East-West menyusul serangan drone.

Gangguan itu menjadi pukulan baru bagi pasar energi yang sebelumnya sudah tertekan akibat konflik dan terganggunya jalur pelayaran di Timur Tengah.

Kini pertanyaannya bukan lagi sekadar kenapa harga minyak naik, tetapi: seberapa mahal minyak dunia jika pasokan Saudi benar-benar terganggu?

Pipa Minyak Saudi Diserang, Pasokan Dunia Terancam

Pipa East-West sepanjang sekitar 1.200 kilometer merupakan jalur penting bagi Arab Saudi untuk mengalirkan minyak dari wilayah timur menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Jalur ini semakin strategis karena memungkinkan Saudi menghindari Selat Hormuz yang saat ini menghadapi gangguan serius.

Pipa tersebut dalam beberapa waktu terakhir mengalirkan sekitar 4-5 juta barel minyak per hari. Reuters memperkirakan gangguan berkepanjangan pada jalur tersebut dapat mengancam hingga sekitar 4% pasokan minyak global.

Karena itu, ketika serangan drone memaksa pipa ditutup, pasar langsung menghitung ulang risiko pasokan.

Reuters memperkirakan gangguan berkepanjangan pada pipa tersebut berpotensi menghilangkan hingga 4% pasokan minyak global. Persediaan minyak siap ekspor di Yanbu juga diperkirakan hanya cukup untuk sekitar lima hingga tujuh hari jika jalur tersebut tidak segera pulih.

Inilah alasan harga minyak dunia langsung melonjak.

Kenapa Harga Minyak Dunia Bisa Tembus US$108?

Pasar minyak sangat sensitif terhadap gangguan pasokan.

Dalam kondisi normal, kehilangan beberapa juta barel per hari sudah cukup untuk mengerek harga. Dengan sejumlah jalur energi di Timur Tengah yang masih terganggu, pasar dinilai memiliki ruang yang semakin terbatas untuk menyerap gangguan pasokan tambahan.

Masalahnya, gangguan tidak hanya terjadi di satu titik.

Selat Hormuz masih menjadi sumber kekhawatiran, sementara situasi keamanan di Laut Merah dan Bab al-Mandeb juga memburuk. Kondisi tersebut membuat jalur alternatif pengiriman minyak Saudi ikut menghadapi risiko.

Artinya, pasar menghadapi risiko pasokan berlapis.

Jika satu jalur terganggu, minyak masih bisa dialihkan. Namun jika beberapa jalur strategis sekaligus bermasalah, harga minyak dapat bergerak jauh lebih agresif.

Apa Dampaknya bagi Harga BBM Indonesia?

Kenaikan harga minyak dunia pada akhirnya bisa menjalar ke harga BBM.

Namun, Brent US$108 per barel tidak otomatis berarti harga BBM Indonesia langsung naik dengan besaran yang sama.

Harga BBM domestik dipengaruhi banyak faktor, mulai dari harga minyak dan produk olahan dunia, nilai tukar rupiah, biaya distribusi, hingga kebijakan pemerintah.

Untuk BBM nonsubsidi, kenaikan harga minyak dunia yang berlangsung lama dapat meningkatkan tekanan biaya. Sementara harga BBM subsidi memiliki mekanisme berbeda karena pemerintah ikut menentukan harga jualnya.

Yang perlu diwaspadai adalah durasi kenaikan harga minyak.

Jika harga hanya melonjak beberapa hari kemudian turun, dampaknya bisa relatif terbatas. Tetapi jika minyak bertahan di atas US$100 selama berminggu-minggu, tekanan terhadap BBM, transportasi, logistik, dan inflasi akan semakin besar.

Negara Pengimpor Minyak Paling Rentan

Kenaikan harga minyak paling cepat terasa bagi negara yang sangat bergantung pada impor energi.

China, India, Jepang, Korea Selatan, serta sejumlah negara Eropa harus menghadapi kenaikan biaya ketika harga minyak dan produk energi melonjak.

Efeknya kemudian merembet ke sektor transportasi dan industri.

Biaya produksi naik, ongkos logistik meningkat, dan harga barang berpotensi ikut terdorong. Dalam skala lebih besar, minyak mahal juga dapat membuat bank sentral lebih sulit menurunkan suku bunga karena tekanan inflasi kembali meningkat.

Jadi, krisis minyak bukan hanya masalah energi. Ini juga ancaman bagi inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Bisakah Harga Minyak Tembus US$120?

Level US$120 per barel kini bukan lagi skenario yang sulit dibayangkan.

Brent sudah berada di kisaran US$108. Artinya, hanya diperlukan tambahan sekitar US$12 untuk mencapai level tersebut.

Namun, kenaikan menuju US$120 sangat bergantung pada perkembangan konflik dan durasi gangguan pasokan.

Jika pipa East-West segera kembali beroperasi dan jalur pelayaran Timur Tengah mulai normal, tekanan harga bisa mereda.

Sebaliknya, jika serangan terhadap fasilitas energi berlanjut, Selat Hormuz tetap terganggu, dan ekspor Saudi semakin sulit dilakukan, pasar dapat menghadapi defisit pasokan yang lebih serius.

S&P Global memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga sekitar US$120 jika gangguan pasokan berlangsung lama, sementara Wood Mackenzie memiliki proyeksi yang lebih rendah.

Minyak US$120, Apa Artinya bagi Indonesia?

Jika harga minyak benar-benar menembus US$120 dan bertahan di level tersebut, dampaknya bagi Indonesia akan lebih serius.

Tekanan pertama akan muncul pada biaya energi dan produk BBM. Berikutnya, kenaikan biaya transportasi dan logistik dapat merembet ke harga barang.

Dalam situasi seperti itu, perhatian pasar tidak lagi hanya tertuju pada harga minyak, tetapi juga pada inflasi, rupiah, suku bunga, dan daya beli masyarakat.

Karena itu, level US$108 saat ini sebaiknya tidak dilihat sebagai angka biasa.

Yang sedang diuji pasar adalah seberapa kuat pasokan minyak dunia menghadapi gangguan berikutnya.

Jika jalur minyak Saudi bisa segera pulih, lonjakan harga berpeluang mereda.

Tetapi jika gangguan meluas, US$120 per barel bisa menjadi bukan sekadar ancaman, melainkan level baru yang harus dihadapi pasar energi global.

(reuters/egyptoil&gas/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN