Monday, October 26, 2026
home_banner_first
WISATA

625 Meter di Atas Sungai, China Sulap Jembatan Tertinggi di Dunia Jadi Destinasi Wisata Ekstrem

Mistar.idSenin, 26 Oktober 2026 pukul 20.52 WIB
625_meter_di_atas_sungai_china_sulap_jembatan_tertinggi_di_dunia_jadi_destinasi_wisata_ekstrem

625 Meter di Atas Sungai, China Sulap Jembatan Tertinggi di Dunia Jadi Destinasi Wisata Ekstrem

Guizhou, MISTAR.ID - Seorang pria muda berdiri di atas platform di bawah badan jembatan raksasa, bersiap melakukan bungee jumping dari ketinggian ratusan meter. Petugas memeriksa tali pengaman dan perlengkapan yang dikenakannya sebelum ia melompat ke jurang yang membentang jauh di bawah.

Selama sekitar tujuh detik, tubuhnya meluncur bebas menuju dasar ngarai. Tali bungee kemudian meregang dan memantulkannya kembali ke udara, disambut tepuk tangan para penonton yang mengabadikan momen tersebut menggunakan ponsel.

Pemandangan itu bukan sekadar atraksi wisata ekstrem. Aksi tersebut berlangsung di Jembatan Huajiang Grand Canyon, Provinsi Guizhou, China barat daya, sebuah mahakarya rekayasa yang kini berkembang menjadi destinasi wisata tersendiri.

Jembatan yang menjulang 625 meter (2.051 kaki) di atas Sungai Beipan itu resmi dibuka pada September 2025. Menurut Guinness World Records, struktur tersebut merupakan jembatan tertinggi di dunia jika diukur berdasarkan jarak vertikal antara badan jembatan dan permukaan di bawahnya.

Wisatawan berjalan menyusuri area pengamatan khusus pejalan kaki di Jembatan Huajiang Grand Canyon, China. (foto: Qu Honglun/China News Service/VCG/Getty Images via CNN)

"Jembatan sepanjang hampir 2,9 kilometer (1,8 mil) itu dibangun untuk memangkas waktu tempuh melintasi ngarai dari sekitar dua jam menjadi hanya dua menit," tulis Mike Valerio, kontributor CNN International, dalam laporannya.

Namun, jembatan yang dirancang untuk mempercepat perjalanan tersebut justru membuat banyak orang datang untuk menikmati pemandangan dan menghabiskan waktu di sekitarnya.

Data yang disampaikan pejabat setempat menunjukkan, sejak dibuka hingga Agustus 2026, jembatan tersebut telah menarik sekitar 3,3 juta kunjungan wisatawan.

Infrastruktur Transportasi Menjadi Destinasi Wisata

Selama puluhan tahun, China membangun jembatan-jembatan besar untuk mengatasi tantangan geografis, terutama di wilayah pegunungan. Kini, Huajiang Grand Canyon Bridge memperlihatkan bagaimana infrastruktur transportasi dapat berkembang menjadi daya tarik wisata yang menggerakkan perekonomian lokal.

Dua menara besar berwarna hijau kebiruan berdiri menjulang di atas jurang, dengan bentang jembatan membelah lanskap pegunungan Guizhou. Bagi wisatawan, pemandangan tersebut menjadi pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

Pengunjung tidak hanya dapat melintasi jembatan menggunakan kendaraan. Mereka juga bisa memasuki area wisata yang disediakan, termasuk anjungan pengamatan berlantai kaca untuk melihat langsung kedalaman ngarai.

Bagi pencari tantangan, tersedia pula aktivitas bungee jumping serta jalur pejalan kaki terbuka di bagian bawah badan jembatan.

Dalam kunjungannya pada awal musim gugur, Valerio turut mencoba berjalan di sisi jembatan dengan mengenakan tali pengaman. Berada ratusan meter di atas dasar ngarai, dengan ruang terbuka di bawah kaki dan pegunungan membentang hingga cakrawala, memberikan perspektif berbeda tentang skala pembangunan infrastruktur tersebut.

Namun, dampak jembatan itu tidak hanya terlihat dari ramainya wisatawan atau atraksi ekstrem. Di desa-desa yang berada di dasar ngarai, perubahan mulai terasa melalui tumbuhnya usaha penginapan dan layanan wisata.

Rumah Tua Berubah Menjadi Penginapan

Bagi warga setempat, Lin Guoquan, pembangunan jembatan membuka peluang ekonomi yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai koki di Provinsi Yunnan, Zhejiang, dan Guangdong, Lin kembali ke Guizhou. Ia kemudian mengubah sejumlah rumah lama, termasuk rumah milik kakek-neneknya, menjadi penginapan bagi wisatawan.

Sejumlah toko dan kafe baru dengan tampilan warna-warni bermunculan di Kota Huajiang, China, seiring berkembangnya kawasan tersebut sebagai destinasi wisata. (foto: Ou Dongqu/Xinhua/Getty Images via CNN)

Keputusan itu didasarkan pada keyakinan bahwa jembatan baru akan mendatangkan pengunjung ke desanya, yang sebelumnya jarang menjadi tujuan wisata orang dari luar daerah.

Spekulasi Lin tersebut tampaknya membuahkan hasil.

“Ketika pertama kali dibuka, kami hanya memiliki sembilan kamar. Sekarang kami sudah berkembang menjadi 52 kamar, dan masih belum memiliki cukup kamar untuk menampung semua tamu,” kata Lin.

Pertumbuhan usaha Lin sejalan dengan lonjakan kunjungan wisatawan ke kawasan tersebut.

Selama libur Tahun Baru Imlek di China yang berlangsung sembilan hari pada Februari 2026, tercatat lebih dari 300.000 kunjungan ke area layanan jembatan. Angka itu bahkan melampaui jumlah penduduk Buffalo, New York, Amerika Serikat.

Lin juga memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan desanya. Melalui Douyin, platform video pendek China yang sejenis dengan TikTok, ia menyiarkan keindahan desa dengan latar jembatan raksasa yang membentang di atasnya.

Aktivitas tersebut membuatnya memiliki lebih dari 100.000 pengikut.

“Banyak orang memesan kamar di penginapan saya setelah menonton video-video saya. Mereka juga meminta saran perjalanan,” ujarnya.

Jaringan Digital Menopang Pariwisata

Lonjakan wisatawan turut meningkatkan kebutuhan terhadap jaringan komunikasi di kawasan Huajiang.

Sebelumnya, cakupan jaringan seluler di daerah tersebut masih terbatas. Namun, operator telekomunikasi milik negara, China Mobile, bekerja sama dengan perusahaan teknologi Huawei, memperluas jaringan dengan menambahkan stasiun pemancar untuk mengakomodasi pertumbuhan jumlah pengunjung.

Sejumlah wisatawan mengenakan perlengkapan pengaman untuk mencoba berjalan di ketinggian pada Jembatan Huajiang Grand Canyon di China. (foto: Qu Honglun/China News Service/VCG/Getty Images via CNN)

“Yang dilihat orang adalah jembatan fisik yang megah ini. Namun, jembatan di dunia digital juga sama pentingnya, dan itulah jaringan komunikasi kami,” kata Zhou Jianguo, anggota divisi strategi dan pengembangan bisnis China Huawei.

Konektivitas tersebut mendukung aktivitas wisatawan sekaligus membantu pelaku usaha mempromosikan layanan mereka secara daring.

Di tengah pegunungan, kawasan itu kini memperlihatkan keterkaitan antara infrastruktur fisik, jaringan digital, dan ekonomi pariwisata.

Selain penginapan milik warga, pengembangan kawasan juga menghadirkan fasilitas akomodasi kelas atas.

Onaemont Hotel, yang memiliki 83 kamar, dibangun di lereng gunung sebagai bagian dari pengembangan industri wisata di sekitar jembatan. Hotel tersebut dilengkapi restoran dan kolam renang panoramik, sementara setiap kamar menghadap langsung ke jembatan.

Bagi Cao Luyao, manajer komunikasi pemasaran hotel tersebut, perubahan paling penting bukan semata-mata bertambahnya jumlah wisatawan, melainkan meningkatnya waktu yang mereka habiskan di kawasan itu.

“Wisatawan kini tidak hanya datang untuk melihat jembatan, tetapi juga bisa menginap di dekatnya,” kata Cao.

Menurutnya, pendekatan tersebut mengubah pariwisata yang sebelumnya hanya berupa kunjungan singkat menjadi pengalaman menginap yang lebih menyeluruh.

Manfaat Ekonomi Jembatan Besar Masih Dipertanyakan

Meski membawa peluang baru, pembangunan jembatan-jembatan raksasa juga memunculkan pertanyaan mengenai manfaat ekonomi jangka panjangnya.

China telah membangun banyak jembatan tinggi untuk menghubungkan wilayah yang terpisah oleh sungai, lembah, dan ngarai. Namun, semakin luas jaringan jalan tol yang tersedia, semakin kompleks pula perhitungan manfaat dari pembangunan jembatan tambahan.

Li Linna, profesor madya di Beijing Normal University, meneliti 295 jembatan tinggi di Guizhou. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa rata-rata kontribusi jembatan-jembatan tersebut terhadap peningkatan aksesibilitas transportasi di tingkat kabupaten cenderung menurun.

Pada periode 2010–2015, jembatan tinggi meningkatkan aksesibilitas transportasi kabupaten rata-rata sekitar 8 persen. Angka tersebut turun menjadi sekitar 5 persen pada periode 2015–2020, seiring berkembangnya jaringan jalan tol yang mengurangi kebutuhan akan penyeberangan baru.

“Manfaat tambahan terhadap aksesibilitas yang dihasilkan oleh setiap jembatan baru pun semakin menurun,” kata Li.

Meski demikian, ia menilai pembangunan jembatan tinggi belum tentu kehilangan relevansinya.

Di kabupaten terpencil dan kurang berkembang di wilayah pegunungan China barat, jembatan tambahan masih dapat memberikan manfaat besar, baik dari sisi ekonomi maupun akses transportasi, terutama bagi masyarakat yang terisolasi oleh ngarai dan sungai.

Namun, menurut Li, cara menilai nilai ekonomi sebuah jembatan juga perlu berkembang.

Wisatawan berjalan menyusuri area pengamatan khusus pejalan kaki di Jembatan Huajiang Grand Canyon, China. (foto: Qu Honglun/China News Service/VCG/Getty Images via CNN)

Jika sebelumnya manfaat utama diukur berdasarkan pemangkasan waktu perjalanan, penurunan biaya transportasi, serta kelancaran pergerakan orang dan barang, kini jembatan seperti Huajiang menawarkan nilai tambahan: menarik wisatawan ke tempat yang mungkin tidak pernah mereka kunjungi sebelumnya.

“Pertanyaan penting untuk masa depan adalah di mana jembatan-jembatan tinggi ini dibangun dan persoalan spesifik apa yang akan diselesaikan oleh masing-masing jembatan,” ujarnya.

Ketika Jembatan Menjadi Tujuan Perjalanan

Apakah jutaan wisatawan yang datang ke Huajiang pada tahun pertamanya akan menghasilkan kemakmuran jangka panjang bagi masyarakat setempat, itu masih perlu dibuktikan.

Namun, bagi Xie Boran, direktur Kantor Proyek Huajiang di Guizhou Transport Investment Industry Group, tahun pertama pengoperasian jembatan itu telah menghadirkan sejumlah pengalaman yang tidak terduga.

Ia mengenang kegembiraan para koleganya ketika jembatan tersebut akhirnya dibuka untuk lalu lintas. Selain itu, ia juga menyaksikan pasangan pengantin baru menggelar upacara pernikahan dengan jembatan raksasa sebagai latar belakang.

Tentu saja, ada pula wisatawan yang datang untuk mencoba bungee jumping.

Berabad-abad lalu, para pedagang membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk menempuh perjalanan melintasi kawasan yang sulit dijangkau tersebut.

Kini, situasinya berubah. Orang bersedia menempuh perjalanan ratusan kilometer bukan semata-mata untuk menyeberangi ngarai, melainkan untuk berhenti, menikmati pemandangan, dan mengagumi jembatan yang menggantung di antara pegunungan.

Jembatan Huajiang Grand Canyon awalnya dibangun dengan tujuan agar orang bisa lebih cepat mencapai tempat lain, namun kini justru menjadi tempat yang ingin mereka tuju. (CNN)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN