Friday, September 18, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

SpaceX Dikabarkan Incar Data Perusahaan Bangkrut untuk Latih AI Grok

Mistar.idJumat, 18 September 2026 pukul 19.44 WIB
spacex_dikabarkan_incar_data_perusahaan_bangkrut_untuk_latih_ai_grok

Perusahaan SpaceX milik Elon Musk dikabarkan mengincar data perusahaan bangkrut untul melatih AI Grok. (foto: Reuters via BBC)

news_banner

MISTAR.ID - Perusahaan yang bangkrut ternyata bisa meninggalkan aset yang tetap menarik bagi industri kecerdasan buatan (AI): data.

SpaceX milik Elon Musk dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk membeli data pelanggan dan operasional dari perusahaan rintisan yang mengalami kesulitan keuangan atau bangkrut. Informasi tersebut dilaporkan Bloomberg dan dikutip Gizmodo.

Menurut sumber yang berbicara kepada Bloomberg, pembicaraan tersebut masih bersifat informal dan belum tentu berujung pada kesepakatan.

Langkah ini disebut berkaitan dengan kebutuhan SpaceX mendapatkan sumber data yang lebih murah untuk pengembangan AI. Dalam laporan keuangan pertamanya bulan lalu, SpaceX mengumumkan komitmen sebesar US$15,8 miliar untuk pengembangan AI. Sementara itu, divisi AI xAI mencatat rugi operasi bersih sebesar US$1,3 miliar.

Musk memiliki ambisi besar untuk membuat chatbot Grok mampu bersaing dengan model AI dari perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic. SpaceX juga disebut akan memperkenalkan Grok 5 sebelum akhir tahun, dengan klaim Musk bahwa model tersebut akan mencapai tingkat kemampuan artificial general intelligence (AGI).

Namun, rencana membeli data perusahaan yang bangkrut berpotensi menimbulkan persoalan privasi.

Google Sudah Lebih Dulu Memburu Data

SpaceX bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang melihat data perusahaan bangkrut sebagai sumber untuk pengembangan AI.

Dalam lelang kebangkrutan bulan lalu, Google mengajukan tawaran US$10 juta untuk mendapatkan data milik Spirit Airlines yang sudah tidak beroperasi. Data tersebut rencananya digunakan untuk melatih model Gemini.

Spirit Airlines tidak memasukkan informasi penumpang dalam data yang dilelang. Namun, paket tersebut mencakup sekitar 100 juta email perusahaan dan 500 juta percakapan Microsoft Teams milik mantan karyawan.

Data lainnya meliputi informasi operasional pesawat dan produktivitas karyawan, sekitar 1 juta catatan waktu kerja, 17 juta item Microsoft OneDrive milik karyawan, serta ratusan ribu dokumen karyawan, termasuk formulir pajak, kontrak kerja, dan berkas litigasi.

Google menyatakan data tersebut akan dibersihkan dari informasi yang dapat mengidentifikasi individu. Namun, langkah itu tetap dipersoalkan oleh pihak yang datanya termasuk dalam kumpulan tersebut.

Serikat pekerja Association of Flight Attendants mengajukan keberatan ke Pengadilan Kepailitan AS di Distrik Selatan New York. Mereka menilai standar deidentifikasi yang digunakan hanya mencakup konsumen, sementara data pribadi karyawan masih berpotensi terekspos.

Pengadilan kemudian menunda persetujuan atas pembelian tersebut. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN