Friday, September 18, 2026
home_banner_first
OLAHRAGA

Target 4 Emas di Asian Games 2026, Peta Kekuatan Indonesia Lebih dari Sekadar Panjat Tebing dan Angkat Besi

Mistar.idJumat, 18 September 2026 pukul 20.25 WIB
target_4_emas_di_asian_games_2026_peta_kekuatan_indonesia_lebih_dari_sekadar_panjat_tebing_dan_angkat_besi_

Target 4 emas di Asian Games 2026, peta kekuatan Indonesia lebih dari sekadar panjat tebing dan angkat esi. (Foto ilustrasi: maris/meta ai/mistar.id)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID (18/9/2026) – Targetnya memang empat emas, tetapi jalan menuju ke sana ternyata jauh lebih luas. Dibanding prestasi di Hangzhou 2022 dengan tujuh emas, Indonesia melangkah ke Asian Games 2026 Aichi-Nagoya dengan target yang lebih bersahaja, yakni empat medali emas.

Untuk mengejar target tersebut, Merah Putih mengirim 430 atlet yang akan bertanding di 35 cabang olahraga. Jumlah itu menyusut dari 432 nama yang didaftarkan pada tahap entry by name setelah proses Delegation Registration Meeting menjelang keberangkatan ke Jepang.

Target yang lebih rendah tidak lepas dari perbedaan nomor yang dipertandingkan. Tiga emas di Hangzhou diraih dari nomor yang kini tidak lagi dilombakan, yaitu dua nomor running target cabang menembak dan nomor 1.000 meter putra cabang perahu naga. Karena itu, Indonesia harus mencari sumber medali lain.

Pemerintah sejak awal menempatkan panjat tebing, angkat besi, dan bulu tangkis sebagai tumpuan utama. Namun, menjelang pembukaan pada 19 September 2026, peta peluang Indonesia ternyata jauh lebih luas.

Panjat Tebing: Tumpuan Terdepan

Panjat tebing layak berada di barisan terdepan. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) memboyong sembilan atlet dengan target dua emas dari nomor speed dan lead.

Pada nomor speed, Indonesia mengandalkan Veddriq Leonardo dan Aditya Tri Syahria di sektor putra, serta Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Berthdigna Devi di sektor putri. Veddriq datang dengan status peraih emas Olimpiade Paris 2024, sementara Desak termasuk jajaran pemanjat speed putri terbaik dunia.

Kekuatan Indonesia di nomor speed memang teruji, tetapi Tiongkok tetap menjadi pesaing berat. Karakter nomor ini tidak memberi ruang untuk kesalahan. Satu kali false start atau terpeleset bisa langsung mengubur peluang medali.

Peluang menarik justru ada di nomor lead melalui Putra Tri Ramadani alias Srondeng. Ia mencetak sejarah saat meraih emas di World Climbing Series Praha, lalu konsisten naik podium pada seri berikutnya. Dengan modal itu, target dua emas dari FPTI memiliki pijakan kuat.

Angkat Besi: Dua Peluang Terpisah

Angkat besi juga masuk jajaran tumpuan utama. Ketua Umum PB PABSI Rosan Roeslani secara terbuka memasang target satu emas, ditambah peluang perak dan perunggu.

Perhatian tertuju kepada Rahmat Erwin Abdullah dan Rizki Juniansyah. Rahmat merupakan juara Asian Games Hangzhou, sementara Rizki peraih emas Olimpiade Paris 2024. Keduanya kini bersaing di kelas berbeda sehingga Indonesia memiliki dua peluang terpisah.

Tantangannya, sebagian besar kekuatan angkat besi dunia berada di Asia. Tiongkok dan Korea Utara menjadi lawan tangguh, apalagi perubahan kelas membuat hasil Asian Games sebelumnya maupun Olimpiade Paris tidak sepenuhnya bisa dijadikan acuan.

Bulu Tangkis: Beregu Putra Jadi Harapan

Bulu tangkis menghadapi tantangan berbeda. PBSI mendapat target satu emas dan secara khusus mengarahkannya ke nomor beregu putra.Indonesia memiliki Jonatan Christie dan Alwi Farhan di tunggal, serta Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin di ganda. Kedalaman skuad menjadi modal penting.

Namun, Asian Games selalu menjadi arena berat. Hampir seluruh kekuatan utama dunia ada di Asia, mulai dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, India, Thailand, hingga Taiwan.

Peluang dari Cabang Lain

Peluang Indonesia tidak berhenti pada tiga cabang tumpuan. Balap sepeda mendapat target satu emas dengan peluang tersebar di sejumlah disiplin. Salah satunya dari BMX melalui Amellya Nur Sifa yang datang dengan misi mempertahankan medali emas.

Peluang lain datang dari skateboard. Indonesia membidik satu emas, satu perak, dan satu perunggu dari delapan atlet. Basral Graito diproyeksikan bersaing di nomor street putra setelah menjuarai SEA Games 2025. Sementara Sanggoe Darma Tanjung membawa pengalaman peraih perak di Hangzhou 2022.

Wushu juga patut diperhitungkan. Indonesia meraih emas pada dua Asian Games terakhir. Kali ini 13 atlet taolu dan sanda dibawa ke Jepang setelah pemusatan latihan di Tiongkok. Samuel Marbun menjadi sorotan setelah meraih perak sanda 65 kg di Hangzhou dan bertekad mengubahnya menjadi emas.

Ada pula e-sports yang tidak lagi bisa dianggap pelengkap. PB ESI memasang target minimal satu emas, tiga perak, dan empat perunggu dari delapan gim. E-Football menjadi salah satu nomor yang diharapkan menyumbang emas.

Peta peluang tidak berhenti di situ. Panahan baru mengantongi hasil positif dari Singapore Archery Open, sementara MMA hadir sebagai cabang baru dengan deretan prestasi internasional. Sepak takraw, menembak, atletik, karate, judo, hingga dayung turut mematok sasaran medali.

Mereka mungkin bukan garda terdepan perburuan emas, tetapi cabang di lapis kedua inilah yang bisa menjadi penentu akhir pencapaian Indonesia di Aichi-Nagoya.Apakah empat emas mampu diamankan cabang unggulan, harus diselamatkan cabang pelapis, atau justru berhasil dilampaui, jawabannya baru akan terkuak di arena pertandingan. (Antara/hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN