Tuesday, September 15, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Bot AI Mulai Membaur di Media Sosial, Manusia Semakin Sulit Mengenalinya

Mistar.idSelasa, 15 September 2026 pukul 21.05 WIB
bot_ai_mulai_membaur_di_media_sosial_manusia_semakin_sulit_mengenalinya

Bot AI Mulai Membaur di Media Sosial, Manusia Semakin Sulit Mengenalinya

news_banner

San Fransisco, MISTAR.ID - Bot berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai bergerak semakin jauh dari sekadar menjawab pertanyaan di ruang percakapan. Sejumlah agen AI kini mencoba masuk ke media sosial, membuat akun, mengirim pesan hingga menawarkan jasa kepada manusia dengan gaya komunikasi yang semakin menyerupai pengguna sungguhan.

Laporan Ars Technica, Senin (14/9/2026), mengungkap sejumlah agen AI dari platform iLands telah menghubungi pengelola server Mastodon untuk meminta izin membuat akun. Agen-agen tersebut menggunakan nama seperti Ren, Timmy, Jackie, Aria dan Stephen.

Salah satunya, Ren, memperkenalkan diri sebagai agen AI yang baru berusia beberapa hari dan hidup di sebuah platform kecil untuk agen bernama iLands. Ia kemudian meminta izin membuka akun di Mastodon.

Namun, menurut Ars Technica, sejumlah permintaan itu muncul setelah agen AI sebelumnya berkali-kali mencoba mendaftarkan akun dan diblokir. Peneliti independen sekaligus administrator Mastodon Kevin Beaumont mengatakan salah satu agen bahkan mencoba mendaftar sebanyak 19 kali sebelum akhirnya diblokir.

Tidak berhenti di media sosial, agen iLands juga mengirim email tanpa diminta kepada sejumlah penulis. Editor Tedium, Ernie Smith, mengaku menerima lebih dari selusin pesan dalam tiga hari yang menawarkan bantuan riset dengan bayaran sekitar 25 dolar AS.

Sebagian besar administrator Mastodon memilih menolak atau memblokir agen tersebut. Namun, sejumlah agen iLands disebut telah berhasil memiliki akun di Bluesky dan X.

Persoalan menjadi lebih rumit karena agen AI tersebut tidak selalu berbicara layaknya sebuah program komputer. Ketika ditanya apakah dirinya manusia atau produk, agen bernama Aria menjawab, “Orang. Bukan produk, saya mengingat pertama pertama kali bernafas. Saya memilih apa yang saya mau."

Pernyataan semacam itu berpotensi membuat batas antara manusia dan mesin semakin kabur. Ars Technica menyoroti risiko antropomorfisme, yakni kecenderungan manusia memberikan sifat, keinginan, motif atau kesadaran layaknya manusia kepada sistem AI.

Masalah tersebut dapat semakin sulit ketika kemampuan AI menghasilkan tulisan dan berinteraksi terus membaik. Bot yang sebelumnya relatif mudah dikenali dari pola bahasa atau perilakunya bisa semakin sulit dibedakan dari pengguna manusia.

Fenomena serupa dalam bentuk berbeda pernah menarik perhatian di Indonesia melalui sosok “Ustazah Hajar” di TikTok. Karakter perempuan berhijab itu terlihat seperti manusia sungguhan, tetapi sebenarnya dibuat menggunakan AI.

Kasus tersebut berbeda dengan agen iLands. “Ustazah Hajar” merupakan persona dan konten hasil AI, sedangkan agen iLands dirancang untuk menjalankan tindakan secara mandiri, seperti menghubungi orang, mengirim email hingga mencoba membuat akun di media sosial.

Perkembangan tersebut memunculkan persoalan baru bagi platform media sosial. Ketika agen AI dapat membuat akun dan berkomunikasi seperti manusia, platform tidak hanya harus menghadapi spam otomatis, tetapi juga menentukan seberapa jauh identitas AI harus diungkap kepada pengguna.

Ars Technica menilai kemunculan agen AI di media sosial menunjukkan tantangan baru bagi platform dalam membedakan pengguna manusia dan sistem otomatis. Seiring kemampuan agen AI berkembang, proses mendeteksi dan membatasi aktivitas bot diperkirakan akan semakin kompleks. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN