Satu Tahun SR, Kemensos Target Putus Rantai Kemiskinan Ekstrem

Para siswa SRT 2 Medan mengikuti Zoom dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda sekaligus satu tahun perjalanan Sekolah Rakyat, Rabu (28/10/2026). (foto: Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Kementerian Sosial (Kemensos) berkomitmen memutus rantai kemiskinan ekstrem melalui program Sekolah Rakyat (SR) yang mengintegrasikan pendidikan, perlindungan sosial, dan pemberdayaan keluarga.
Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf mengatakan, program yang digagas Presiden Prabowo Subianto tersebut bertujuan agar kemiskinan tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hal itu disampaikannya dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda sekaligus satu tahun perjalanan Sekolah Rakyat, Rabu (28/10/2026).
Saifullah menjelaskan, Sekolah Rakyat berlandaskan UUD 1945, khususnya Pasal 34 ayat (1), Pasal 31, dan Pasal 33. Dalam pelaksanaannya, Kemensos menerapkan tiga jalur utama, yakni perlindungan dan jaminan sosial, rehabilitasi sosial, serta pemberdayaan sosial.
Ketiga jalur tersebut dijalankan melalui upaya mengurangi beban pengeluaran keluarga, meningkatkan pendapatan melalui pemberdayaan, serta memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
“Sederhananya, bantuan sosial adalah bantalan, pemberdayaan adalah tangga dan Sekolah Rakyat adalah pintu keluar,” katanya melalui Zoom yang diikuti Mistar di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Medan.
Berdasarkan data yang dibenahi bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan pemerintah daerah, penjangkauan program telah menyasar hampir setengah juta anak di 497 kabupaten/kota. Dari proses tersebut, ditemukan lebih dari 180.000 anak usia sekolah yang sebelumnya terpaksa bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Anak-anak yang terjangkau kemudian mengikuti pemeriksaan kesehatan, pemetaan bakat (talent DNA), serta matrikulasi selama tiga bulan bagi mereka yang telah lama tidak bersekolah. Hasil pemetaan menunjukkan empat dari sepuluh anak memiliki bakat di bidang sains dan teknologi.
Selain persoalan pendidikan, Kemensos juga menemukan tantangan sosial dan emosional yang membutuhkan perhatian. Berdasarkan asesmen psikologis, satu dari tiga anak memerlukan pendampingan terkait masalah emosional. Sementara itu, sekitar satu dari enam anak telah kehilangan ayah, ibu, atau keduanya.
“Di masa awal ini kami juga menemukan sesuatu yang tidak terlihat dari luar, yaitu luka sosial. Dari asesmen psikologis, satu dari tiga anak memerlukan pendampingan untuk masalah emosional. Sekitar satu dari enam anak telah kehilangan ayah, ibu atau keduanya. Namun di tengah luka itu, delapan dari sepuluh anak tetap tumbuh dengan hati yang peduli dan suka menolong,” tuturnya.
Secara nasional, Kemensos mencatat 100 Sekolah Rakyat permanen telah dibangun. Sebanyak 93 sekolah di antaranya telah beroperasi dengan fasilitas asrama, laboratorium, ruang kelas, tempat ibadah, hingga sarana olahraga. Sementara itu, tujuh sekolah lainnya masih dalam proses pembangunan.
Program tersebut didukung hampir 5.000 guru, 7.000 wali asuh, dan 2.000 wali asrama yang berperan sebagai orang tua kedua bagi para siswa. Pendampingan ini diarahkan untuk mendukung perubahan fisik, mental, dan akademik anak.
Saifullah menyebutkan, Sekolah Rakyat telah mencatat 11 prestasi internasional dan lebih dari 200 prestasi nasional. Selain itu, lebih dari 1.100 siswa meraih prestasi di bidang olahraga, seni, dan sains.
“Tahun ini, 12 lulusan SMA Sekolah Rakyat telah mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Tujuh di antaranya kini kuliah dengan beasiswa penuh dan lima lainnya telah bekerja sesuai minat dan bakatnya,” ucapnya.
Upaya memutus rantai kemiskinan juga menyasar orang tua siswa. Kemensos mencatat lebih dari 10.000 rumah telah diperbaiki, lebih dari 11.000 orang tua menerima bantuan modal usaha, serta lebih dari 9.000 orang tua mendapatkan layanan rehabilitasi sosial.
Saifullah menegaskan, anak-anak membutuhkan akses dan kesempatan untuk mengembangkan potensi agar kelak dapat membawa perubahan bagi keluarga mereka.
“Anak-anak ini tidak kekurangan bakat, mereka butuh tiga hal. Pertama, ditemukan melalui data yang akurat, kedua diberi ruang dan kesempatan, ketiga bertransformasi menjadi agen perubahan bagi keluarganya melalui lulusan yang jelas masa depannya. Dengan cara itulah rantai kemiskinan bisa terputus,” katanya.
Siswa SRT 2 Medan Raih Prestasi
Di tingkat daerah, Wakil Kepala SRT 2 Medan jenjang SMP Bidang Kurikulum, Agustina, mengungkapkan bahwa siswanya meraih juara ketiga lomba pidato Bahasa Indonesia dan juara kedua musikalisasi puisi dalam ajang Bulan Bahasa di Universitas HKBP Nommensen pada 25 Oktober 2026.

“Prestasi ini sangat membanggakan, mengingat anak-anak ini kami terima dengan kondisi awal yang memprihatinkan dari segi kepercayaan diri, sikap, sopan santun hingga akademik. Namun saat ini mereka sudah berani tampil dan berprestasi,” ujarnya.
Agustina menambahkan, tantangan terbesar dalam membina siswa dari kelompok desil 1 dan 2 tidak hanya membentuk pola pikir anak, tetapi juga mengedukasi orang tua dan lingkungan sekitar.
Karena itu, pihak sekolah rutin mengadakan kegiatan parenting, serta membiasakan siswa menerapkan disiplin dan pola hidup teratur di asrama.
Memasuki tahun kedua, pihak sekolah berharap penjangkauan Sekolah Rakyat dapat semakin luas hingga ke pelosok agar lebih banyak anak memperoleh hak pendidikan yang layak dengan dukungan fasilitas berstandar internasional. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Disdik Deli Serdang Tegaskan Guru Sertifikasi Wajib Mengajar, Tak Boleh Sekadar Titip Nama











































