Hasil TKA 2026 Dinilai Rendah, Pengamat: Jadi Alarm Perbaikan Kualitas Pembelajaran di Sekolah

Penggiat literasi dan pengamat pendidikan, Mahniar Sinaga. (Foto: Istimewa/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SD/MI dan SMP/MTs sederajat tahun 2026 resmi diumumkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) beberapa waktu lalu. Pelaksanaan TKA pada jenjang tersebut diketahui mencatatkan angka partisipasi nasional yang tinggi, yakni mencapai 98,12 persen siswa berhasil mengikuti asesmen pada jadwal utama.
Berdasarkan data Kemendikdasmen secara nasional pada kedua jenjang tersebut, diketahui bahwa nilai Bahasa Indonesia tercatat lebih tinggi dibandingkan Matematika.
Pada tingkat SD/MI sederajat, rata-rata nilai Bahasa Indonesia mencapai 60,14, sedangkan Matematika berada di angka 43,41. Sementara pada tingkat SMP/MTs sederajat, rata-rata nilai Bahasa Indonesia mencapai 60,83 dan Matematika di angka 40,34.
Menanggapi hal itu, Mahniar Sinaga, pengamat pendidikan di Kota Medan, mengatakan bahwa hasil TKA tersebut harus menjadi bahan refleksi bersama untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di sekolah, khususnya dalam penguatan literasi, numerasi, penalaran, dan kemampuan pemecahan masalah peserta didik.
Penggiat Literasi Indonesia yang juga menjadi Penyelia TKA SD di Kabupaten Batu Bara itu menilai bahwa capaian TKA yang masih rendah tidak serta-merta menggambarkan kemampuan akademik siswa secara keseluruhan. Menurutnya, hasil tersebut lebih tepat dipandang sebagai indikator adanya kompetensi yang masih perlu diperkuat.
"Hasil TKA menjadi gambaran umum bahwa masih terdapat kompetensi yang perlu diperkuat, terutama pada aspek literasi, numerasi, penalaran, dan pemecahan masalah," ujar Mahniar kepada Mistar, Rabu (3/6/2026).
Ia menjelaskan, TKA sebagai asesmen terstandar dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Karena itu, peserta didik tidak hanya dituntut mengingat atau menghafal materi, tetapi juga memahami konteks, menganalisis informasi, serta menerapkan konsep dalam situasi nyata.
Menurut Mahniar, capaian yang relatif rendah, terutama pada mata pelajaran Matematika, dapat menjadi sinyal perlunya penguatan strategi pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan daya nalar peserta didik.
Meski sekolah maupun penyelia tidak dapat mengakses indikator atau butir soal TKA karena sifatnya yang rahasia dan terstandar, menurut Mahniar, hasil asesmen tetap dapat dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi proses pembelajaran yang telah berlangsung.
"Analisis dapat dilakukan melalui pemetaan kecenderungan kemampuan peserta didik pada aspek literasi, numerasi, penalaran, dan pemecahan masalah yang tercermin dari hasil asesmen tersebut," kata Guru SDN 068008 Medan itu.
Mahniar menegaskan pentingnya pembelajaran dan asesmen sumatif di kelas yang dirancang lebih kontekstual dan berorientasi pada penguatan kompetensi.
Guru, kata dia, perlu membiasakan peserta didik menghadapi soal-soal yang tidak hanya mengukur hafalan, tetapi juga kemampuan memahami situasi nyata, menganalisis informasi, serta mengambil keputusan berdasarkan konteks yang diberikan.
Ia menambahkan, asesmen sumatif dapat dikembangkan melalui berbagai bentuk soal berbasis literasi dan numerasi, seperti pilihan ganda kompleks, benar-salah, menjodohkan, hingga soal kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Dengan pembiasaan tersebut, para siswa diharapkan lebih siap menghadapi asesmen yang menuntut kemampuan berpikir kritis, analitis, dan aplikatif.
"Pada akhirnya, hasil TKA hendaknya menjadi motivasi bagi sekolah, guru, dan peserta didik untuk terus melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan," tuturnya. (hm25)
























