Friday, August 14, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Fenomena “Indonesia Cemas” Jelang HUT ke-81 RI, Akademisi USU Soroti Krisis Sosial dan Ekonomi

Mistar.idJumat, 14 Agustus 2026 pukul 15.43 WIB
fenomena_indonesia_cemas_jelang_hut_ke81_ri_akademisi_usu_soroti_krisis_sosial_dan_ekonomi

Ilustrasi, Fenomena “Indonesia Cemas” Jelang HUT ke-81 RI, Akademisi USU Soroti Krisis Sosial dan Ekonomi. (foto:gemini/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID (14/8/2026) – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, media sosial diramaikan oleh narasi-narasi dan ajakan untuk demo menolak perayaan kemerdekaan. Selain itu, isu terkait kelompok-kelompok remaja yang disebut akan melakukan konvoi liar pada 17 Agustus juga mulai beredar di sekolah.

Fenomena lainnya yang juga muncul di kalangan masyarakat, salah satunya warga Kelurahan Kampung Baru, Medan Maimun, yang pada Senin, 10 Agustus lalu membuat video penghormatan bendera setengah tiang.

Pengibaran bendera setengah tiang ini diklaim sebagai salah satu bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang hingga saat ini tidak mendengarkan keluh kesah mereka tentang banjir yang melanda akibat pembangunan tembok di sekitar lingkungan tersebut. Sepinya penggunaan ornamen-ornamen merah putih juga dinilai menjadi bukti kurangnya antusias warga dalam menyambut HUT RI.

Fenomena-fenomena sosial ini turut mendapatkan tanggapan dari praktisi pendidikan Universitas Sumatera Utara (USU), Dr. Agus Suriadi. Ia menjelaskan bahwa seiring berjalannya waktu, nilai-nilai dan cara masyarakat merayakan hari kemerdekaan mungkin telah berubah.

Menurutnya, generasi muda saat ini kemungkinan lebih fokus pada isu-isu sosial dan ekonomi yang lebih relevan dengan kehidupan mereka.

“Saya melihat krisis ekonomi atau ketidakpastian finansial dapat memengaruhi cara orang merayakan. Jika masyarakat merasa tertekan secara ekonomi, mereka mungkin lebih memilih untuk tidak merayakan secara meriah,” katanya kepada Mistar, Jumat (14/8/2026).

Dosen Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial USU itu mengatakan bahwa mengurangi penggunaan bendera dan dekorasi bisa jadi merupakan cerminan dari kurangnya rasa kepemilikan atau kebanggaan terhadap negara. Hal ini, sebutnya, bisa jadi dipengaruhi oleh ketidakpuasan terhadap kondisi politik dan sosial.

“Di sekolah-sekolah, jika pendidikan tentang sejarah dan makna kemerdekaan tidak ditekankan, generasi muda mungkin tidak merasakan pentingnya perayaan ini,” tuturnya lagi.

Isu dan berita tentang geng motor yang akan melakukan konvoi liar serta perilaku negatif lainnya juga disebut dapat menciptakan ketidakpastian dan ketakutan di masyarakat. Hal ini dinilai menunjukkan keresahan sosial yang lebih luas, di mana generasi muda merasa tidak memiliki saluran yang tepat untuk mengekspresikan diri.

“Media sosial memang dapat mempercepat penyebaran informasi, baik positif maupun negatif. Berita tentang konvoi liar dapat menimbulkan reaksi berlebihan dan menciptakan stigma terhadap generasi muda,” ucapnya.

Istilah ‘Indonesia Cemas’ yang beredar di kalangan masyarakat juga disebut mencerminkan perasaan ketidakpastian banyak orang melihat isu-isu politik, ekonomi, dan sosial yang saat ini tengah berlangsung. Ketidakpastian ini dapat mengurangi semangat perayaan dan rasa kebanggaan terhadap negara.

“Di samping itu, isu-isu seperti ketidakadilan sosial, korupsi, dan masalah lingkungan dapat membuat masyarakat merasa pesimis tentang masa depan yang berpengaruh pada cara mereka merayakan kemerdekaan,” ujar Wakil Dekan I FISIP USU itu.

Pemahaman mendalam untuk mengatasi permasalahan ini, sebutnya, sangat diperlukan guna menghidupkan kembali semangat kemerdekaan di kalangan generasi muda. Dialog terbuka hingga pendidikan yang lebih baik tentang sejarah dan arti kemerdekaan dinilai dapat membantu membangkitkan semangat nasionalisme dan rasa bangga terhadap negara ini. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN