Monday, September 7, 2026
home_banner_first
MEDAN

Perempuan Lansia Masih Hadapi Stigma Kesehatan Seksual

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 20.13 WIB
perempuan_lansia_masih_hadapi_stigma_kesehatan_seksual

Lansia. (Foto: Unair)

news_banner

Medan, MISTAR.ID – Perempuan lanjut usia (lansia) masih menghadapi stigma dan minimnya ruang aman untuk membahas kesehatan seksual. Padahal, seksualitas merupakan kebutuhan sepanjang hayat yang turut memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan psikologis.

Hal tersebut disampaikan Koordinator Konsorsium Perempuan Sumatera Mampu (Permampu), Dina Lumbantobing dalam kegiatan memperingati Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026 yang diselenggarakan Konsorsium Permampu melalui pertemuan hybrid bertema “Merayakan HKSR di Seluruh Siklus Kehidupan”, Senin (7/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri 262 peserta yang terdiri dari 258 perempuan dan empat laki-laki. Peserta di antaranya 51 perempuan lansia dan 94 pra lansia anggota Credit Union (CU), perwakilan Forum Perempuan Muda (FPM), pengurus FKPAR dan CU, kader OSS&L, femokrat dari Dinas P3A, Puskesmas, Dinas Kesehatan, keluarga pembaharu khususnya keluarga sandwich generation, serta lembaga jaringan penguatan perempuan seperti FAMM dan WCC/lembaga layanan.

Dina mengatakan, selama ini pemenuhan dan pembahasan mengenai Kesehatan dan Hak Seksual dan Reproduksi (HKSR) masih lebih banyak berfokus pada kelompok remaja dan usia produktif. Sementara kelompok lanjut usia, khususnya perempuan lansia, cenderung terpinggirkan.

Menurutnya, refleksi Peringatan Hari Lansia yang dilaksanakan Permampu pada 2025 menunjukkan bahwa lansia tetap memiliki kebutuhan dan menghadapi dinamika kesehatan seksual yang kompleks. Namun, mereka terkendala minimnya ruang aman untuk memahaminya secara kritis serta tingginya stigma masyarakat.

“Seksualitas merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Jika aspek seksualitas tidak diperhatikan, dapat memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan psikologis lansia, bahkan berkontribusi memunculkan depresi,” kata dr. Nur Riviati, SpPD, K-Ger yang hadir dalam pertemuan hybrid tersebut.

Dalam paparan kegiatan tersebut, disebutkan hambatan utama dalam pemenuhan hak kesehatan seksual lansia adalah tabu sosial dan persepsi keliru. Diskusi mengenai seksualitas masih kerap diidentikkan dengan perilaku hubungan seksual, termasuk di tingkat pemangku kebijakan.

Padahal, edukasi seksualitas secara holistik mencakup otonomi tubuh, kontrasepsi, pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS), hingga dinamika reproduksi pada masa perimenopause dan pascamenopause.

Selain itu, mitos dan fakta mengenai kesehatan seksual lansia juga menjadi perhatian. Pembongkaran mitos dilakukan melalui pendekatan terintegrasi dengan pakar geriatrik agar peserta memperoleh rujukan ilmiah-medis yang tepat.

Layanan kesehatan juga dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan HKSR secara aman dan konkret. Pemeriksaan seperti tes IVA untuk semua umur dapat menjadi salah satu pintu masuk tersebut di tingkat layanan.

Pendekatan hati, pikiran, dan tubuh juga dinilai diperlukan dengan mengintegrasikan refleksi empatik, rasa aman, serta otonomi tubuh yang bebas stigma. Pendekatan tersebut dilakukan untuk membongkar mitos melalui edukasi medis geriatri agar muncul kesadaran melakukan pemeriksaan medis.

Dina mengatakan, sejumlah tantangan yang masih dihadapi dalam pemenuhan hak kesehatan seksual perempuan lansia dan pra lansia di antaranya terbatasnya ruang aman, stigma, layanan informasi, keterbatasan tenaga ahli, serta keluhan lansia yang dianggap remeh.

Untuk itu, menurut Dina, perlu adanya upaya pemenuhan HKSR di seluruh siklus kehidupan, pengakuan terhadap hak kesehatan seksual lansia, penguatan pendidikan, pembangunan rumah aman bagi lansia, serta kebijakan lokal yang responsif.

“Hak kesehatan seksual, keadilan, otonomi tubuh, serta kenikmatan merupakan hak mendasar bagi semua orang tanpa terkecuali, terlepas dari bentuk tubuh, usia, gender, ras, maupun kondisi disabilitas,” ucapnya.

Sesuai dengan visinya, Konsorsium Permampu akan tetap berkomitmen untuk semakin inklusif dalam mendorong pemenuhan hak-hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi perempuan di seluruh tingkatan umur, khususnya perempuan lansia dan pra lansia.[]



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN