Rentetan Erupsi Gunung Api di Indonesia Bisa Picu Ketimpangan Harga Pangan

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID – Erupsi gunung berapi yang terjadi bersamaan di berbagai wilayah Indonesia sejak awal September 2026 diprediksi mengancam perekonomian nasional.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, memprediksi rentetan aktivitas vulkanik berpeluang memicu ketimpangan harga pangan yang tajam antardaerah dan juga mengakibatkan inflasi secara tidak terkendali.
Beberapa gunung berapi mengalami erupsi adalah Gunung Sinabung, Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, Gunung Ibu, Gunung Lewotobi Laki-laki, dan Gunung Merapi.
Menurutnya, sebaran abu vulkanik telah melumpuhkan jalur transportasi udara, khususnya di Jakarta.
Selain itu, erupsi juga mengancam gagal panen skala besar pada lahan-lahan pertanian produktif, serta berpotensi mengganggu jalur transportasi darat dan laut yang merupakan pusat distribusi barang antarpulau.
"Gangguan fatal pada jalur distribusi, memicu perbedaan harga antarwilayah, terutama daerah yang bergantung pada pasokan dari luar," katanya, Senin (7/9/2026).
Dalam situasi normal, perbedaan harga antardaerah dapat diatasi dengan mempercepat distribusi barang menggunakan berbagai moda transportasi, termasuk jalur udara.
Namun, di saat erupsi seperti ini, opsi rute pengiriman menjadi terbatas dan berisiko tinggi. Kondisi rantai pasok nasional sangat saling bergantung. Misalnya, Pulau Jawa mendominasi pasokan beras dan bawang merah ke Sumatera. Sementara Sumatera Utara memasok wortel, kentang, dan kol untuk kebutuhan Pulau Jawa.
Selain itu, Sulawesi juga bergantung pada Sumatera terkait pasokan beras. Kemudian, distribusi daging sapi dan babi dari Bali dan Nusa Tenggara ke provinsi lainnya akan terganggu.
"Langkah pencegahan yang diambil pemerintah menjadi tantangan berat agar bisa mengembalikan harga kembali normal. Jika aktivitas vulkanik terus memburuk, inflasi akan semakin sulit untuk dikendalikan," ucapnya.
Erupsi gunung berapi berpeluang menciptakan gejolak harga di masyarakat. Dampak kerusakan yang timbul, datang dari penurunan jumlah pasokan dan distribusi.
"Saya melihat upaya pencegahan saat ini tidak maksimal menekan harga pangan. Mitigasi yang dapat dilakukan saat ini adalah menyediakan sumber alternatif distribusi. Kemudian, pastikan anggaran cukup untuk menjaga stabilisasi pasokan dan intervensi harga," ujar Gunawan.[]
PREVIOUS ARTICLE
Harga Beli Cabai dari Petani Deli Serdang Turun Rp5 Ribu per Kg



































