Tuesday, July 21, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Sosok Ketua IDI Cabang Medan, Dokter Galdy Wafie Tempuh Seluruh Pendidikan di FK USU

Mistar.idMinggu, 24 Mei 2026 pukul 14.25 WIB
sosok_ketua_idi_cabang_medan_dokter_galdy_wafie_tempuh_seluruh_pendidikan_di_fk_usu

Ketua IDI Cabang Medan periode 2026-2029, dr Galdy Wafie, M.Ked(An)., Sp.An. (foto: Berry/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

"Ikhlas Manolong Pasien" tiga kata yang menggambarkan profesi kedokteran menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Medan Periode 2026-2029, dr Galdy Wafie, M.Ked(An)., Sp.An.

Galdy Wafie ialah pria kelahiran tahun 1992 yang menurutnya pada saat itu, menjadi seorang dokter tidak suatu keharusan, kedua orang tuanya pun tidak menuntutnya sebagai seorang dokter.

Galdy yang mengenakan pakaian batik turut menceritakan, awal mula perjalanannya menempuh pendidikan kedokteran. Ia menyebut, jika ibundanya pernah sekolah kedokteran, namun tidak menyelesaikannya.

"Ketika ujian masuk bersama saya ambil jurusan kedokteran, alhamdulillah lulus di Fakultas Kedokteran. Ini tentu sebagai keinginan saya melanjutkan cita-cita ibu," ujarnya saat ditemui Mistar di RSU USU, Jumat (22/5/2026).

Pendidikan S-1 di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sumatera Utara (USU), dikatakan Galdy, dimulainya sejak tahun 2009 dengan waktu tempuh pembelajaran yaitu VII semester atau setara empat tahun.

Sembari tersenyum ia mengatakan, setelah pendidikan S-1 selesai, dilanjutkan pendidikan profesi yaitu koasisten empat semester. Total 11 semester ditempuhnya untuk mendapatkan gelar dokter.

Pria yang memiliki brewok di wajahnya, menempuh Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) dan dinyatakan lulus. Ia pun melakukan magang di Bengkulu Tengah selama satu tahun.

Selesai magang, perjalanan Galdy pun dilanjutkan dengan kembali ke Medan dan bekerja di rumah sakit swasta selama enam bulan lamanya dan kembali menempuh pendidikan dokter spesialis di FK USU.

"Alhamdulillah pendidikan spesialis ditempuh VIII semester dua bulan atau dari 2018 sampai 2022 saya menyelesaikan pendidikan spesialis anestesiologi," tuturnya dengan perasaan bangga.

Seluruh pendidikan yang ditempuh di FK USU, bukan tidak ada alasan dikatakan Galdy, mengingat ia lahir dan besar di Medan, FK USU juga salah satu universitas negeri tertua di luar Pulau Jawa.

Menurutnya, FK USU memiliki kualitas yang tidak bisa disepelekan, terlebih dengan suara tegasnya ia menyebut, alumni FK USU memiliki taraf internasional. Sehingga FK USU cukup menjadi pilihan pada saat itu.

Spesialis Anastesi, dikatakan Galdy saat menatap kearah atas, bukan menjadi pilihan pertamanya. Pertama kali ia merasa tertarik dengan psikiatri dan kedua saat di stase anak, namun pilihannya jatuh di Anastesi.

"Saya merasa dan berfikir dokter anestesi cukup menarik juga saat itu, kiblat saya pun mengarah ke spesialis anestesi. Walaupun sempat bertukar-tukar, cuma memang akhirnya kepincutnya di anestesi," katanya.

Pria bersuku Sunda itu memiliki sosok inspirasi dalam pendidikan kedokterannya yaitu, almarhum Prof dr H Chairuddin Panusunan Lubis, DTM&H, Sp.A(K), mantan Rektor USU tiga periode.

Diiringi suara lirih ia menyebut Prof Chairuddin sebagai guru, secara kedekatan mungkin sudah seperti kakeknya. Ia belajar banyak dengan almarhum dari ilmu pintas, kedokteran, politiknya, organisasinya.

Warga Kecamatan Medan Area itu mengaku, selama pendidikan akademik ia sebagai mahasiswa hingga peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang biasa saja, namun ia gemar berorganisasi.

Beberapa organisasi yang digelutinya mulai dari OSIS, Nazir Masjid, Kelompok Aspirasi Mahasiswa (KAM), hingga selesai pendidikan dokter langsung berkecimpung di Organisasi Profesi IDI.

"Tahun 2015 itu saya sudah berkecimpung di IDI sampai sekarang. Kalau prestasi akademik saya level yang biasa saja, tapi mudah-mudahan saya masih mau belajar sampai sekarang ini," ucapnya dengan senyum.

Galdy yang berkampung halaman di Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi memberitahu awal mulanya ia bergabung ke IDI, lantaran senior yang mengajak dirinya.

Ia yang turut bermain dengan struk belanja mengatakan, pada saat itu ia mencari relasi yang artinya, organisasi ini membantu dirinya belajar tentang kedokterannya ataupun diluar kedokteran.

Berawal dari ajakan senior, Galdy memiliki rentetan jabatan mentereng selama hampir 11 tahun bergabung di IDI Cabang Medan yaitu, Wakil Bendahara, Sekretaris IDI Cabang Medan 2022-2026.

Ia justru sedari bergabung ke IDI tidak menargetkan beberapa jabatan tersebut. Namun organisatoris ini pasti ada keinginan jadi sosok pimpinan. Ia menegaskan tidak memiliki pemikiran wajib dan ambisius hingga menempati jabatan 'Ketua'.

Ia yang juga menjadi Wakil Ketua I IDI Wilayah Sumut menyampaikan, belum ada pikiran jadi Ketua IDI Sumut kedepannya. Tetapi Galdy ingin fokus menjalankan tugasnya di Medan dan provinsi.

"Ya untuk kedepannya harapannya saya tetap naik tingkat, khususnya dalam berbagai hal, bukan cuma organisasi. Mudah-mudahan tetap diberikan kesempatan untuk naik tingkat," ujar Galdy.

Buah dari pembelajaran yang ditempuh Galdy selama 10 tahun pendidikan kedokteran, kegemarannya berorganisasi, kini membuat ia memiliki beberapa titik lokasi praktik di wilayah Kota Medan.

Pertama di RS USU, kedua RS Bunda Thamrin dan ketiga RS Columbia Asia Aksara, hingga melanjutkan Studi S3 Kedokteran untuk gelar Doktor yang kini menduduki semester IV di FK USU.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN