Sunday, August 16, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

COVID-19 Bisa 'Bangunkan' Virus yang Lama Tertidur di Tubuh

Mistar.idMinggu, 16 Agustus 2026 pukul 17.21 WIB
covid19_bisa_bangunkan_virus_yang_lama_tertidur_di_tubuh

Ilustrasi. (foto: ai/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - COVID-19 ternyata tidak hanya menyebabkan infeksi akut. Penelitian terbaru menemukan penyakit tersebut dapat “membangunkan” sejumlah virus yang telah lama tidak aktif atau laten di dalam tubuh manusia.

Virus-virus tersebut antara lain Epstein-Barr (EBV), herpes simplex tipe 1, cytomegalovirus (CMV), hingga Anelloviridae. Menariknya, reaktivasi Anelloviridae ditemukan memiliki hubungan dengan gangguan fisik jangka panjang dan long COVID.

Dilansir dari ScienceDaily, Minggu (16/8/2026), temuan tersebut berasal dari penelitian yang melibatkan 1.154 pasien di 20 rumah sakit riset biomedis di Amerika Serikat. Studi dilakukan untuk mengidentifikasi biomarker yang berkaitan dengan tingkat keparahan COVID-19 dan kondisi pasien setelah terinfeksi.

Peneliti menggunakan pengurutan genom untuk mencari tanda-tanda virus yang sebelumnya tidak aktif kembali bereplikasi ketika tubuh menghadapi tekanan akibat penyakit.

Dalam 40 hari pertama sejak pasien dirawat, tim menemukan 11 virus mengalami reaktivasi. Virus yang paling sering terdeteksi antara lain Epstein-Barr, herpes simplex 1, CMV, serta kelompok Anelloviridae.

Berkaitan dengan Long COVID

Temuan yang paling menarik perhatian berasal dari Anelloviridae, kelompok virus yang masih relatif sedikit dipahami dan diketahui berada dalam kondisi laten pada sekitar 90 persen populasi.

Reaktivasi virus tersebut menunjukkan hubungan menonjol dengan gangguan fisik jangka panjang dan long COVID.

Direktur Precision Vaccines Program Boston Children's Hospital, Ofer Levy, mengatakan hubungan tersebut penting karena jutaan orang di seluruh dunia mengalami kondisi kronis akibat long COVID.

“Hubungan dengan long COVID ini merupakan temuan menarik karena jutaan orang di seluruh dunia menderita kondisi kronis tersebut,” kata Levy.

Menurutnya, pemahaman baru mengenai hubungan molekuler dan virus dengan long COVID berpotensi membuka jalan menuju pemahaman yang lebih baik, sekaligus pengembangan metode diagnosis dan pengobatan.

Peradangan Diduga Jadi Pemicu

Penelitian juga menemukan pola tak terduga pada Epstein-Barr dan CMV.

Selama ini, reaktivasi virus kronis umumnya dianggap terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami penekanan. Namun, dalam penelitian tersebut, kedua virus justru tampak kembali aktif berkaitan dengan peradangan di dalam tubuh.

Temuan itu menantang anggapan bahwa reaktivasi virus laten terutama disebabkan oleh melemahnya sistem imun.

Peneliti menemukan virus yang selama bertahun-tahun tidak aktif dapat kembali muncul pada pasien yang sistem kekebalannya masih berfungsi, terutama ketika mengalami penyakit berat yang disertai peningkatan peradangan sistemik.

Levy mengatakan COVID-19 juga masih menimbulkan dampak kesehatan yang besar, terutama melalui long COVID.

“Meskipun banyak orang tidak lagi menganggap COVID sebagai masalah, hingga 50.000 warga Amerika meninggal akibat COVID pada musim penyakit pernapasan 2025-2026 dan sejumlah perkiraan menunjukkan lebih dari 10 juta orang dewasa di AS mengalami long COVID,” ujar Levy.

Ia menambahkan, pelajaran dari pandemi COVID-19 tetap penting untuk menghadapi kemungkinan munculnya pandemi virus corona lain pada masa mendatang.

Penelitian berjudul Virus reactivation in acute and long COVID-19 tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature. Studi ini melibatkan Boston Children's Hospital dan sejumlah institusi riset biomedis di Amerika Serikat serta didanai National Institutes of Health (NIH).

Peneliti selanjutnya akan mempelajari bagaimana sistem kekebalan tubuh merespons virus-virus yang kembali aktif selama perjalanan penyakit COVID-19. Tujuannya untuk mencari pengobatan yang efektif sekaligus menentukan waktu terbaik untuk melakukan intervensi terhadap reaktivasi virus tersebut. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN