Sunday, August 16, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Eropa di Tanah Afrika: Menelisik Krisis Ceuta, Eksodus Migran Maroko dan Sub-Sahara

Mistar.idMinggu, 16 Agustus 2026 pukul 18.06 WIB
eropa_di_tanah_afrika_menelisik_krisis_ceuta_eksodus_migran_maroko_dan_subsahara

Migran menunggu untuk memasuki pusat penampungan sementara CETI di Pantai Trampolin, wilayah kantong Spanyol Ceuta di Maroko, Jumat, 15 Agustus 2026. (foto: afp via aljazeera)

news_banner

Maroko merupakan salah satu titik transit penting bagi migran Afrika yang hendak menuju Eropa. Reuters mencatat negara tersebut selama bertahun-tahun bekerja sama dengan Spanyol untuk menekan migrasi tidak teratur, termasuk membongkar jaringan penyelundupan dan melakukan operasi penyelamatan di laut.

Latar belakang para migran sub-Sahara pun beragam. Sebagian meninggalkan negara asal karena kesulitan ekonomi, sementara lainnya bergerak akibat konflik, ketidakamanan maupun persoalan sosial dan politik.

Bagi sebagian migran yang telah berada di Maroko dan berniat melanjutkan perjalanan ke Eropa, informasi mengenai peluang memasuki Ceuta kemudian ikut mendorong munculnya upaya penyeberangan baru.

Kondisi tersebut menunjukkan krisis Ceuta tidak hanya berkaitan dengan persoalan sosial dan ekonomi di Maroko, tetapi juga menjadi bagian dari dinamika migrasi Afrika menuju Eropa yang jauh lebih luas.

Ceuta, Eropa di Tanah Afrika

Besarnya daya tarik Ceuta tidak terlepas dari letak geografisnya yang unik. Kota itu berada di pesisir utara Afrika dan berbatasan langsung dengan Maroko, tetapi secara administratif merupakan wilayah Spanyol.

Letak geografis Ceuta menjadi daya tarik tersendiri bagi gelombang migran Afrika Sub-Sahara yang ingin memasuki Eropa. (foto: istimewa/mistar)

Bersama Melilla, Ceuta menjadi titik perbatasan darat antara wilayah Spanyol dan Maroko di Afrika Utara. Spanyol menegaskan kedua kota tersebut merupakan bagian integral dari wilayahnya.

Secara teritorial, memasuki Ceuta berarti memasuki wilayah Spanyol, sekaligus Uni Eropa.

Migran dapat mencapai Ceuta dari Maroko melalui jalur darat maupun laut. Reuters melaporkan dalam gelombang 30 Juli, ribuan orang bergerak masuk melalui kedua jalur tersebut. Rekaman pada saat itu memperlihatkan sebagian orang menerobos gerbang perbatasan, sementara lainnya berenang atau menggunakan ban pelampung untuk mencapai Ceuta.

Penghalang fisik yang dimaksud dalam putusan Mahkamah Agung Spanyol adalah pagar atau fasilitas perbatasan yang memisahkan Ceuta dengan wilayah Maroko. Karena pagar tersebut berakhir di kawasan pantai, jalur laut menjadi alternatif bagi mereka yang berusaha masuk tanpa melintasi penghalang fisik di darat. Reuters juga mencatat aparat Maroko menjaga perbatasan darat sekaligus berpatroli di pantai untuk mencegah migran berenang menuju Ceuta.

Inilah yang menjelaskan mengapa begitu banyak migran memilih berenang meskipun Ceuta sebenarnya memiliki perbatasan darat langsung dengan Maroko. Selain menghindari pagar dan penjagaan di darat, putusan pengadilan mengenai pushback membuat jalur laut dipersepsikan sebagian migran memiliki peluang lebih besar untuk mencapai wilayah Spanyol.

Namun, perjalanan tersebut sangat berbahaya. Reuters mencatat sedikitnya 96 orang tewas dalam gelombang akhir Juli. (*)

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN