Friday, September 18, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Dewan Keamanan PBB Darurat, Houthi Dekati Bab el-Mandeb: Minyak Saudi Terancam?

Mistar.idJumat, 18 September 2026 pukul 17.32 WIB
dewan_keamanan_pbb_darurat_houthi_dekati_bab_elmandeb_minyak_saudi_terancam

Sidang Darurat Dewan Keamanan PBB (DK PBB), Selasa (31/3/2026) lalu. (foto:setneg/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (18/9/2026) — Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar pertemuan darurat setelah eskalasi Houthi di Yaman mendekati Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Pergerakan Houthi di pesisir barat Yaman dan sekitar Bab el-Mandeb memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan kapal komersial, termasuk jalur pengiriman energi Arab Saudi. PBB memperingatkan situasi di sekitar selat tersebut semakin volatil, meski arus pelayaran komersial di Laut Merah masih tampak berjalan pada pertengahan September.

Yang dipertaruhkan bukan hanya keamanan Yaman. Jika eskalasi meluas, dampaknya dapat merambat ke ekspor minyak Saudi, biaya pelayaran, pasar energi, hingga rantai pasok global.

Bab el-Mandeb Jadi Titik Panas Baru

Perhatian Dewan Keamanan PBB tertuju pada Bab el-Mandeb setelah Houthi dilaporkan terus bergerak menuju kawasan tersebut dan mencapai Pulau Perim, lokasi strategis di pintu masuk selat.

Bagi perdagangan dunia, posisi Bab el-Mandeb sangat penting karena menjadi penghubung antara Laut Merah dan Teluk Aden. Gangguan di titik ini dapat memaksa kapal mengambil rute alternatif yang lebih panjang dan mahal.

PBB menyebut gangguan terhadap koridor maritim tersebut berpotensi memengaruhi keamanan internasional, pasar energi global, ketahanan pangan, dan perekonomian negara rentan.

Fakta menarik: sebuah konflik di pesisir Yaman dapat berdampak jauh di luar kawasan karena Bab el-Mandeb merupakan bagian dari jaringan jalur perdagangan yang menghubungkan Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia.

Ekspor Minyak Saudi Ikut Jadi Perhatian

Eskalasi ini semakin sensitif karena terjadi ketika keamanan jalur energi Timur Tengah sudah menghadapi tekanan.

Arab Saudi memiliki kepentingan besar dalam menjaga kelancaran pelayaran dan ekspor energinya. Reuters melaporkan Riyadh meminta bantuan diplomatik China setelah peningkatan aktivitas Houthi membuat pelayaran dan ekspor minyak Saudi semakin rentan.

Risikonya tidak otomatis berarti ekspor minyak Saudi berhenti. Namun, semakin tinggi ancaman terhadap kapal tanker, semakin besar pula potensi kenaikan premi risiko, biaya asuransi, dan ongkos pengiriman.

Di sinilah Bab el-Mandeb menjadi penting bagi pasar energi: gangguan kecil sekalipun dapat meningkatkan kekhawatiran pasar apabila terjadi bersamaan dengan masalah di jalur energi strategis lainnya.

China Pilih Jalur Negosiasi

Di tengah eskalasi, China mendorong penyelesaian melalui diplomasi.

Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, Beijing menekankan pentingnya menjaga keamanan pelayaran dan menolak serangan terhadap infrastruktur energi maupun objek sipil.

Reuters juga melaporkan China secara pribadi meminta Iran menggunakan pengaruhnya terhadap Houthi untuk membantu meredakan eskalasi. Langkah tersebut dilakukan setelah Saudi meminta bantuan Beijing.

Posisi ini menunjukkan kepentingan China tidak hanya bersifat diplomatik. Sebagai negara dengan kepentingan besar dalam perdagangan dan energi Timur Tengah, stabilitas jalur pelayaran juga berkaitan langsung dengan kepentingan ekonomi Beijing.

Bukan Cuma Minyak, Perdagangan Global Bisa Ikut Terdampak

Ancaman terhadap Bab el-Mandeb memiliki konsekuensi yang lebih luas daripada pengiriman minyak.

Jika penghindaran rute meluas dan berlangsung lama, dampaknya dapat berupa kenaikan konsumsi bahan bakar, ongkos angkut, premi asuransi, serta waktu pengiriman. Dampaknya dapat berupa peningkatan konsumsi bahan bakar, ongkos angkut, premi asuransi, dan waktu pengiriman.

Namun, kondisi saat ini perlu dibaca secara proporsional.

PBB pada 15 September menyatakan arus kapal komersial di Laut Merah masih tampak relatif tidak terganggu. Karena itu, situasinya lebih tepat disebut sebagai peningkatan risiko terhadap perdagangan global, bukan perdagangan yang sudah lumpuh.

Yang perlu diperhatikan pasar adalah apakah ancaman tersebut berubah menjadi gangguan nyata dan berkelanjutan terhadap pelayaran.

Dampaknya Sudah Menyentuh Warga Yaman

Di balik persoalan energi dan perdagangan, eskalasi terbaru juga memperburuk krisis kemanusiaan.

Associated Press melaporkan sedikitnya 125.000 orang telah mengungsi akibat kemajuan Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah. Konflik juga menambah tekanan terhadap sistem kemanusiaan Yaman yang sudah rapuh.

Bagi PBB, persoalan keamanan maritim tidak dapat dipisahkan dari perlindungan warga sipil dan akses bantuan kemanusiaan.

Karena itu, pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi penting bukan hanya untuk membahas kapal dan minyak, tetapi juga upaya mencegah eskalasi Yaman berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.

Apa yang Perlu Dipantau?

Perkembangan berikutnya akan sangat menentukan dampak ekonomi krisis ini. Beberapa indikator utama adalah:

- apakah Houthi terus memperluas posisi di sekitar Bab el-Mandeb;

- apakah serangan terhadap kapal komersial dan fasilitas energi meningkat;

- bagaimana Saudi mengamankan jalur ekspor minyaknya;

- sejauh mana China dan Iran mampu mendorong deeskalasi;

- serta apakah perusahaan pelayaran mulai mengalihkan rute secara lebih luas.

Untuk saat ini, Bab el-Mandeb belum menjadi jalur yang sepenuhnya tertutup. Namun, eskalasi militer telah meningkatkan risiko terhadap salah satu koridor perdagangan dan energi paling strategis di dunia.

Bagi pasar global, pertanyaan utamanya bukan hanya apakah kapal masih bisa melintas, tetapi berapa besar biaya dan risiko yang harus ditanggung jika ketegangan terus meningkat.

(mfa/ap/wplg/marketscreener/iraninternational/abc/reuters/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN