10 Hari Dicari, 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau Belum Ditemukan, Operasi SAR Dihentikan

Gunung Anak Krakatau terletak di perairan Selat Sunda (kiri). Keluarga jurnalis yang hilang melakukan tabur bunga. (foto:Chani J Badpra/tangkapan layar video dokumen Basarnas/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (18/9/2026) — Sepuluh hari pencarian belum mengungkap keberadaan lima jurnalis dan tiga kru kapal Arupadhatu I yang hilang kontak saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Operasi SAR gabungan kini dihentikan, tetapi misteri keberadaan delapan orang tersebut masih belum terjawab.
Operasi pencarian resmi ditutup pada Kamis (17/9/2026) setelah tim SAR menyisir wilayah laut, darat, dan udara tanpa menemukan kapal maupun tanda keberadaan rombongan. Sebanyak 523 personel dikerahkan dengan cakupan pencarian mencapai 8.509 mil laut persegi.
Penghentian operasi bukan berarti pencarian tertutup sepenuhnya. Basarnas dan pemerintah daerah menyatakan operasi dapat dibuka kembali apabila ditemukan petunjuk baru atau laporan yang terkonfirmasi mengenai keberadaan Arupadhatu I dan delapan orang di dalamnya.
Keluarga Tetap Mencari
Bagi keluarga, berakhirnya operasi SAR tidak serta-merta mengakhiri pencarian.
Keluarga berencana melanjutkan upaya secara mandiri dengan melibatkan warga dan nelayan. Harapan untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan rombongan masih dipertahankan selama belum ada kepastian mengenai apa yang terjadi.
Lima jurnalis yang hilang adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.
Mereka bersama kapten kapal yakni Warta, Anak Buah Kapal (ABK) bernama Surakman, dan pemandu Heriyanto berada di Arupadhatu I ketika kapal tersebut hilang kontak pada 7 September 2026.
Anak Krakatau Masih Level III atau Siaga
Hilangnya rombongan terjadi ketika aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada dalam pengawasan ketat.
Badan Geologi menetapkan status aktivitas Anak Krakatau pada Level III (Siaga). Dalam evaluasi 10 September, Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam, dari 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB.
Setelah itu, aktivitas Strombolian masih tercatat. Badan Geologi menyebut dinamika vulkanik Anak Krakatau terus dipantau dan kemungkinan terjadinya letusan pada periode berikutnya masih tinggi.
Karena itu, masyarakat dan pengunjung direkomendasikan tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Ancaman yang diperhitungkan antara lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta lava apabila kembali terjadi erupsi menerus.
Kondisi vulkanik tersebut menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam aktivitas di sekitar Anak Krakatau, termasuk operasi pencarian rombongan yang hilang.
Hoaks Jurnalis Ditemukan Ikut Beredar
Di tengah pencarian, informasi palsu mengenai keberadaan para jurnalis juga sempat muncul.
Sebuah video di media sosial diklaim sebagai rekaman saat jurnalis yang hilang ditemukan. Klaim tersebut tidak benar. Pemeriksaan fakta menyatakan video itu bukan bukti penemuan rombongan jurnalis yang hilang.
Sebelumnya, Kemkomdigi juga mengimbau masyarakat tidak menyebarkan informasi spekulatif dan memastikan setiap perkembangan mengenai pencarian disampaikan berdasarkan informasi yang terverifikasi.
Dari Erupsi 25 Jam hingga Kapal Hilang Kontak
Rangkaian peristiwa bermula dari meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau pada awal September.
Pada 4 September, Anak Krakatau memasuki episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam. Setelah episode tersebut berakhir pada 6 September, erupsi Strombolian masih terjadi.
Sehari kemudian, Senin (7/9/2026), rombongan lima jurnalis dan tiga kru berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, untuk meliput aktivitas Anak Krakatau.
Komunikasi dengan rombongan kemudian terputus. Sejak saat itu, operasi SAR gabungan dilakukan melalui berbagai sektor pencarian.
Sepuluh hari kemudian, pencarian resmi dihentikan tanpa menemukan Arupadhatu I maupun delapan orang di dalamnya. Namun, apabila petunjuk baru muncul, operasi SAR dapat kembali dibuka.
Untuk saat ini, satu hal masih menjadi pertanyaan: apa yang terjadi pada rombongan yang hilang saat hendak meliput Gunung Anak Krakatau tersebut?
(antara/detik/esdm/tirto/*/hm27)









































